Bab 12

1.5K 200 4
                                        

Dinding-dinding perak seperti cermin berdiri kokoh membentuk lorong dengan lebar tiga meter, beratapkan langit-langit putih tak berbatas mengelilingi para peserta. Setiap peserta berdiri secara individu tanpa mengetahui dimana yang lainnya berada. Tanpa mengetahui diri mereka telah terkurung dalam ruang menyerupai labirin. 

Jika melihat dari atas, itu sebuah ruang berbentuk balok panjang tanpa tutup dengan pola bagian dalam membentuk pola huruf yang bertuliskan "COSMOS" dan setiap hurufnya terlihat terputus-putus dengan pola zig-zag. Pola terputus itu merupakan jalan dari ruangan satu ke ruangan lainnya.

Setiap peserta berada di suatu sisi ruang yang mereka sendiri-pun tidak tahu dimana mereka berdiri. Ditambah lagi dengan adanya ilusi optik bayangan kabur di sekeliling mereka yang membuat mereka ling-lung dengan sekitarnya, karena seolah-olah jumlah mereka menjadi tak terhingga. Keadaan yang sama seperti ketika seseorang berdiri dalam sebuah kotak yang keempat sisinya adalah cermin.

Anne mengerutkan dahinya sehingga membuat alis tipisnya menjadi lebih tajam—keadaan yang tampak ketika seseorang berada dalam keadaan waspada. Ia melihat sekeliling yang berada dalam jarak pandangnya—hanya dirinya.

Sesaat ia memang tampak kagum dengan pemandangan tersebut. Anne kemudian tersadarkan oleh cahaya yang tiba-tiba mengelilingi pergelangan tangannya yang secara ajaib memunculkan sebilah pisau tajam. Ia menatap ngeri pada benda tersebut.

Sekelebat bayang masa lalu tiba-tiba muncul dalam pikirannya saat ia menatap benda ditangannya. Sekumpulan gambar acak, buram dan tak jelas secara tiba-tiba terlintas diotaknya. Beberapa saat kemudian gambaran itu mulai tampak jelas.

Ingatan ketika ia pulang kuliah.

Gambaran wajah buram tiga orang asing yang tak dapat diingat detailnya.

Ingatan keluarganya dijadikan sandera.

Dirinya memegang pisau.

Darah.

Darah.

Dan darah ... Hanya darah yang tergambar jelas dalam benaknya. Sekelebat imajinasi itu berputar cepat dalam pikiran Anne. Bahkan ia dapat mengingat dengan baik bagaimana ekspresinya saat itu. Wajah yang penuh kebencian.

Anne memejamkan matanya sejenak dan merasakan adrenalinnya terpacu. "Pemenang tunggal," Anne bergumam dalam hatinya. "Apa ini? Tiba-tiba saja aku punya nafsu... untuk...memenangkan simulasi sialan ini."

Pisau yang melingkari pergelangan mereka mengirimkan sinyal ke otak mereka masing-masing penggunanya untuk bergerak mencari peserta lainnya. Ada setitik lampu kecil berwarna hijau tepat dibagian paling bawah pisau dan ditengah gelang, lampu yang akan menyala menjadi merah jika ada peserta lain yang berada di dekat mereka. Lalu, Anne segera sadar. Harus darimana ia akan bergerak, semuanya tampak kosong. Ia memilih untuk bergerak maju lalu berbelok ke kiri kemudian mengikuti jalur jalan yang melengkung.

"Sejauh ini aku masih baik-baik saja. Ah... setidaknya lampu sensor ini masih berwarna hijau."

Dengan sangat hati-hati Anne bergerak sambil sesekali memperhatikan lampu sensor. Kemudian, lampu itu berubah menjadi merah. Ia bergerak agak cepat di ujung pertigaan lorong. Ketika ia sampai diujung lorong, Anne menoleh ke kiri dan ke kanan.

"Tidak ada siapa-siapa?" Anne melirik lagi ke arah pedangnya. Masih merah? Ada orang disekitar sini yang mungkin saja sedang bersembunyi mengintaiku. Anne bergumam sendiri dalam hatinya sambil tetap menjaga kewaspadaan. Ia melirik ke belakang lalu ke kiri dan ke kanan. Ia memutuskan untuk menuju lorong yang kanan. Kini, Anne berjalan agak cepat. Lampunya berubah menjadi hijau kembali. "Sepertinya aku kehilangan." Haruskah aku berbalik arah? Kurasa tidak, masih ada dua puluh enam orang lain. Jumlah yang ditunjukkan oleh jam hologramnya.

Ia melanjutkan lagi gerakannya dan sekarang muncul di perempatan lorong. Kali ini ia memilih untuk berbelok ke kiri. Anne tetap melangkah santai namun waspada. Kali ini tidak akan kuabaikan. "Hei, siapapun kau, kemarilah. Kurasa kau membutuhkan nyawaku," kata Anne dengan suara agak keras dan menggema—efek pemantulan suara oleh objek sekitarnya. Tapi gema itu tidak jauh karena segera teredam oleh dinding ajaib di sekitar mereka.

"Aku juga menantimu. Hai Anne," kata seorang laki-laki yang mungkin seusia Anne.

"Tahu darimana nama..." tanya Anne terhenti.

Nama... Leo. Usia duapuluh tahun. Tinggi seratus tujuhpuluh. Berat badan enam puluhlima. Semoga sukses, Anne. Anne seperti mendengar suara dalam kepalanya yang menyebutkan identitas manusia dihadapannya.

"Jadi namamu Leo," kata Anne pada seorang laki-laki berkulit kuning yang berada dengan jarak lima puluh meter dari titik ia berdiri.

Anne berlari sambil menghunus pisau ke arahnya. Gerakan apa ini? Mungkinkah? Ini terjadi seperti waktu itu... Ketika Anne hampir tiba, Leo menghindar dengan memiringkan tubuhnya. Pisau milik Leo juga bergerak menuju ke arah dada Anne. Dengan tenaga yang entah darimana datangnya. Ia menepis pisau milik Leo dengan pisaunya sendiri.

"Ini gila, ya memang aku sudah gila," kata Anne pada dirinya sendiri.

Kemudian, Leo datang dengan gerakan cepat meninju dan menjatuhkan Anne di lantai. Anne mulai terengah-engah. Leo menghunus pisaunya kearah Anne. Dengan sebuah gerakan tiba-tiba, Anne menendang pergelangan tangan Leo dari arah samping. Efek mendapat tendangan dari Anne, tangan Leo bergeser beberapa derajat dari arah targetnya. Kesempatan ini digunakan Anne untuk berguling ke sisi kanan. Alhasil pisau milik Leo hanya menancap pada lantai kosong.

Kesempatan! Anne menyabet pisaunya ke arah lengan kiri Leo. Efek yang ditimbulkan ternyata di luar dugaan. Satu goresan tadi memutuskan lengan lawannya.

Leo nampak ketakutan. Keringat dingin mulai keluar membasahi pelipisnya. Untuk sesaat dia terpaku pada darah yang membanjiri lantai. Darah yang berasal dari setengah lengannya. Tidak hanya lawannya saja yang terkejut, tapi pelakunya juga tidak kalah terkejut dan beberapa detik berlutut mematung memandang kejadian tak masuk akal itu. Bayangkan, goresan kecil yang tak berarti dari pisau sebesar sejengkal jari orang dewasa dapat memotong hingga tulang. Sensitif—sangat sensitif, pikir Anne.

Anne segera memanfaatkan ketakutan lawannya. Dengan sigap, Anne berdiri bergerak maju dan menusukkan pisaunya ke arah bagian belakang bahu kiri lawannya. Leo terkapar, wajahnya menampar lantai yang berkubang darah.

Satu kali, dua kali, tiga kali... lima tusukan bertubi-tubi kearah punggung. Dan akhirnya lawannya bergeming—diam menjadi mayat. Anne menatap darah di lengannya, tapi bukan darahnya. Sekilas bayang masa lalu kembali muncul—bayangan rumahnya yang menjadi kubangan darah keluarga yang dihabisinya.

Lamunannya dibangunkan oleh cahaya biru yang entah darimana datangnya. Secara ajaib melingkari mayat dan menghilangkan sosok tersebut tanpa bekas setetes darahpun. Kemudian, cahaya biru itu bergerak menuju tangan Anne dan membersihkan lengan serta pisaunya menjadi mengkilat keperakan kembali

Jam hologram milik Anne berkedip dan memunculkan pesan virtual di depan wajahnya.

Dua puluh peserta tersisa dalam labirin. Semakin banyak nyawa yang hilang maka sensitifitas pisau yang kau gunakan akan semakin bertambah. Bertahanlah.

Lampu sensor pisau Anne menyala. Ia bergegas menutup pesannya dan bergerak maju berdasarkan insting.


COSMOS: Simulation SurviveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang