Note: Hai, apa kabar? aku udh gak sabar pengin menamatkan cerita amatir ini wkwkwk. Tinggal dikit lagi. Selamat membaca.
Lucia berlari tergesa-gesa menyusuri lorong. Masuk dari pintu ke pintu berikutnya. Semuanya serasa tak berujung bahkan ia sadar bahwa dirinya mungkin hanya berputar-putar di tempat yang sama. Kemudian ia berhenti disalah satu bilik ruangan. Ia menyandarkan tubuhnya dan merasa tempat tersebut cukup aman dari peserta lainnya.
Ia memandang tangannya yang berlumuran darah. Tapi itu bukan darahnya, melainkan darah dari peserta lain yang baru saja berhasil ia kalahkan. Darah itu perlahan-lahan memudar dengan hadirnya cahaya biru lembut yang membersihkan bagian tubuhnya yang terkena darah.
"Masih tersisa dua belas peserta yang ada dalam labirin ini," kata Lucia sambil sesekali menarik nafas panjang. Ia terdiam sejenak mengisi paru-parunya dengan udara sekitar.
Trek... trek... trek...
Lucia tersentak kaget. Ia langsung menegakkan tubuhnya menjauhi dinding yang menjadi tempat sandarannya. Dinding-dinding pembatas kembali bergeser mengatur diri atau mungkin juga dinding-dinding itu semakin sempit seiring berkurangnya jumlah peserta. Menjadikan medan perang yang lebih mudah dijangkau. Tepat ketika dinding terakhir bergeser, muncul seseorang di belakang Lucia.
"Lucia," panggil seseorang dengan suara berat. Lucia menoleh cepat ke belakang dan mengancungkan senjatanya.
"Anthony, kamu masih hidup!" kata Lucia legah melihat itu adalah orang yang dikenalnya dan menurunkan pisaunya. Namun, ia tetap saja waspada, mengingat hanya ada satu orang yang akan keluar dari sini.
"Apa kau menemukan jalan keluar?" tanya Anthony pada Lucia.
"Tidak, rasanya aku berputar-putar ditempat yang sama."
Mereka sama-sama terdiam sesaat. Lalu, keheningan terpecah oleh teriakan mendadak Lucia. Secara ajaib, kulit lengan kirinya seakan teriris dari dalam. Habisi orang yang didepanmu atau kau akan habis. Suara itu terdengar berulang ulang di kepala Lucia. Hal yang sama ternyata juga terjadi pada Anthony. Semakin lama mereka menahan diri maka semakin banyak luka goresan tipis di sepanjang lengan mereka.
"Tidak! Kenapa harus Lucia!" teriak Anthony pada dirinya sendiri. Anthony masih berusaha menahan sakitnya dan melawan suara bisikan di kepalanya. Namun, gadis yang berdiri di depan Anthony mulai menyerangnya-mungkin sudah tidak tahan dengan rasa sakit yang mendera.
Lucia berlari ke arah Anthony sambil mengancungkan pisaunya. Anthony-pun terpaksa melawan untuk mempertahankan hidupnya. Terjadi pertarungan sengit diantara keduanya. Lorong itu bergema dengan bunyi tabrakan antar logam tersebut.
Pisau Lucia berhasil menggores tipis namun panjang di bagian dada Anthony. Goresan miring tersebut menimbulkan efek yang sungguh luar biasa. Sebuah robekan besar dan darah mulai membanjiri jubah Anthony. Lucia seakan baru saja sadar atas apa yang diperbuatnya.
"Tidak... tidak..." kata Lucia dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa harus kamu... tidak..." tenggorokan Lucia tercekat menahan suaranya.
"Anth... maafkan aku, aku tidak sadar dengan semua yang aku perbuat," kata Lucia berlutut di depan Anthony.
Anthony hanya mengangguk samar. Ia tak mampu lagi untuk berbicara bahkan bernafaspun sangat susah. Luka gores itu membocorkan paru-parunya. Pendarahan hebat terjadi di tubuh Anthony, darah mengalir deras dan Anthony tidak akan bertahan lagi dalam lima menit.
Air mata mulai bergulir dari mata Lucia, membasahi pipi merahnya. Ia memandang Anthony yang sekarat di depannya.
Apa ini rasanya kematian? Sakit-sangat menyakitkan. Ini hanya terjadi satu kali dalam hidupmu-sebagai dirimu. Aku akan menikmatinya. Sekelebat bayangan acak masa lalu muncul dalam pikirannya bagai film. Bayangan masa kecilnya, bayangan orang tuanya yang kini telah menghilang. Hingga akhirnya bayangan saat pertama simulasi.
Pandangan Anthony semakin lama semakin kabur. Ia masih mengenali Lucia di depannya. Tapi tunggu, ada seseorang yang mengendap-endap dibelakangnya. Anthony mencoba untuk mengerang tapi itu sia-sia saja, ia tak sanggup lagi.
Lucia awas...
Terjadi keributan di dekatnya. Samar-samar. Kemudian sepenuhnya gelap telah menyelimuti.
***
Perlu beberapa untuk mencerna sesuatu yang terjadi di belakangnya. Ditengah duka tadi hampir saja Lucia terbunuh oleh pisau seorang gadis berambut pendek. Rupanya keberuntungan masih berpihak pada Lucia, seseorang yang entah datang darimana menerjang gadis berambut sebahu tersebut. Pisau yang hampir saja menghilangkan nyawanya kini ditangani oleh seseorang yang dikenalnya. Gadis berambut merah.
"Anne!"
Sekilas Anne memandang Lucia yang berjarak lima meter didekatnya. Ia masih sibuk meladeni seorang gadis berambut sebahu itu. Suara dalam kepala Anne menyebutkan bahwa gadis itu bernama Indri dengan usia tujuh belas tahun.
"Lucia, pergi dari sini!" teriak Anne.
Dentingan logam kembali berbunyi menepis satu sama lain. Saat ini, pisau para peserta jauh lebih sensitif daripada saat simulasi ini dimulai. "Tidak, Anne!" teriak Lucia.
"Jika aku menang, aku belum mau bertarung denganmu!" teriak Anne cepat. Posisinya saat itu sangat terdesak. Ia berada pada posisi berbaring di lantai. Tangannya menahan pisau dan tangan gadis tersebut.
Lucia hendak berlari ke arah mereka. Tapi dinding didekatnya bergeser dan mendorongnya ke arah lain. Ia terjatuh dalam suatu ruang lain. Dinding-dinding masih bergeser membentuk formasi rumit. Kemudian, ia keluar, mencari dari satu pintu ke pintu lain. Ia tidak menemukan mereka bahkan dalam ruang ini suara mereka seperti teredam-tidak terdengar jika berada di tempat yang dibatasi oleh dinding meskipun bersebelahan.
"ANNE!!!" teriak Lucia sekeras mungkin. Tapi ia segera menyadari hal itu percuma. Merasa frustasi, Lucia menempelkan kepalanya ke dinding didekatnya. Sejenak ia memejamkan mata dan mengatur nafasnya. Ia melihat tangannya tak lagi bersimbah darah.
***
Berjarak jauh dari labirin. Sekumpulan manusia berbaju putih khas laboratorium memandang layar virtual mereka. Menyaksikan adegan berdarah yang dimainkan oleh anak-anak tersebut.
"Tersisa tujuh anak, hampir selesai. Bertahanlah anak-anak," kata seorang pria jangkung dengan rambut yang mulai beruban. Matanya tetap menatap layar yang membentang lebar didepannya.
"Ya, pemimpin. Pengurangan terjadi sangat cepat seiring bertambahnya sensitifitas senjata mereka, ditambah lagi medannya semakin diperkecil dan disesuaikan dengan jumlah mereka agar tidak terpisah terlalu jauh," kata seorang asisten wanita muda yang berdiri disampingnya.
Pria itu tidak menyahut dan tetap memandang layar didepannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
COSMOS: Simulation Survive
Science FictionSerangan bom dilakukan oleh sebuah objek terbang asing yang mengitari kota. Orang-orang yang selamat dikurung dalam sebuah kubah transparan berwarna merah. Simulasi bertahan hidup dilakukan oleh seluruh penduduk kota yang tersisa dengan rata-rata us...
