Semua orang tertuju pada tempat yang sama. Tepatnya di tengah kota, karena titik merah tepat berada di tengah peta GPS yang seperti sketsa labirin rumit. Rendi dan Lucia terengah-engah karena paru-paru mereka mulai menagih oksigen. Mereka tak peduli, bahkan semua orang tak peduli dengan kelelahan yang mereka hadapi. Mereka semua lebih peduli pada nyawa mereka, insting primitif manusia untuk bertahan hidup. Telah terprogram pada semua mahkluk hidup di alam semesta.
Dikejauhan Rendi dan Lucia melihat piramida putih transparan yang berisi puluhan manusia di dalamnya. Piramida putih transparan yang sangat kontras dengan kubah merah raksasa yang melingkupi seluruh kota.
"Itukah tempat tujuan kita?" tanya Rendi kepada Lucia
"Tidak salah lagi, GPS nya menunjuk ke arah sana."
"Sial.. waktu kita tinggal satu menit tiga puluh detik." kata Rendi melirik ke arah waktu yang terus bergerak mundur.
"Ayo cepat!" Lucia mencondongkan badannya lebih dalam untuk mempersempit pergesekan tubuhnya terhadap udara sekaligus sesuatu yang berguna untuk mempercepat langkahnya.
Seorang anak laki-laki di dalam piramida putih melambai ke arah mereka sambil berteriak
"Ayo cepat! Yang masih diluar segeralah masuk. Lewati saja piramida ini. Ini akan menjadi penetralisir waktu yang ada di jam tangan kalian."
Suara samar-samar tapi jelas dari dalam piramida itu terdengar oleh Rendi dan Lucia. Tiba- tiba Lucia terjatuh. Fokus Lucia dalam berlari dan melihat agak berkurang karena sebagian indranya digunakan untuk pendengaran.
"Ahhh.. OMG!" gerutu Lucia yang melihat lututnya mulai mengeluarkan darah.
"Kamu masih kuat untuk berlari, Luci?" tanya Rendi sambil membantu adiknya untuk berdiri.
"Yes. Piramida atau mati. Pilihan yang ironi. Menyebalkan!"
"Waktu kita tinggal dua puluh detik lagi. Ayo!."
00:00:10
00:00:09
00:00:08
"Kita hampir sampai."
00:00:03
00:00:02
00:00:01
Lucia dan Rendi melompat masuk menembus piramida diikuti oleh puluhan orang lain yang tidak mereka kenal. Terasa terjun ke atas sebuah balon yang empuk. Namun rasa empuk itu hanya berlaku sesaat dan digantikan oleh lapisan pasir yang keras. Tempat mereka mendarat tak semulus bayangan piramida putih yang mereka lewati. Pasir-pasir kasar memperlebar luka di lutut Lucia. Ditambah lagi luka gores yang baru tercetak di lengan kirinya yang saat itu digunakan untuk menahan tubuhnya yang mendarat di atas tanah. Membuat anak itu semakin meringis menahan perih.
Keadaan Rendi juga sama tidak baiknya. Beberapa luka gores menghiasi lengan kanannya karena terlalu keras mendarat. Puluhan orang juga ikut mendarat tak mulus dengan gaya masing-masing. Luka-luka terpampang di kulit mereka.
--:--:--
Rendi menyempatkan pandangannya untuk melirik jam tangan yang terpasang di lengan kanannya. Bom waktu telah dimatikan secara otomatis saat mereka memasuki piramida aneh ini.
Ledakan keras yang tidak asing lagi terdengar di luar piramida. Namun kali ini suara ledakan bukan datang dari bom yang dijatuhkan. Ledakan datang dari orang-orang yang kehabisan waktu untuk menuju titik merah. Itukah konsekuensinya? Sebuah pertanyaan yang terlintas di otak Rendi. Ledakan-ledakan beruntun diluar terus terjadi, tubuh mereka terpecah tak karuan. Semua orang yang berada dalam piramida hanya berdiri terpaku menatap orang-orang malang yang berada di luar piramida. Tak satupun dari mereka yang berani keluar dari piramida
KAMU SEDANG MEMBACA
COSMOS: Simulation Survive
Science FictionSerangan bom dilakukan oleh sebuah objek terbang asing yang mengitari kota. Orang-orang yang selamat dikurung dalam sebuah kubah transparan berwarna merah. Simulasi bertahan hidup dilakukan oleh seluruh penduduk kota yang tersisa dengan rata-rata us...
