Bab 9

1.9K 221 9
                                        


Lantai 2

Orang-orang misterius itu berada dalam formasi yang sama dan pada posisi yang selalu sama saat mereka bertugas. Masing-masing dari memiliki peranan yang berbeda di depan layar. Kecerdasanlah yang berbedalah yang menempatkan mereka pada posisi mereka yang sekarang.

"Semua sinar telah terhubung di otak semua peserta," kata gamma-one yang mengamati layar virtualnya. Sinar yang terhubung ke kepala anak-anak itu tidak hanya sekedar sinar biasa. Tapi, sinar itu akan menangkap gelombang aktivitas otak dan mengirimnya dalam bentuk grafik.

"Berapa frekuensi yang terekam?" tanya gamma-one pada rekannya.

"Delta. Berkisar nol koma lima sampai empat hertz." Seorang wanita berambut kuning yang dissanggul menjawab pertanyaan dari gamma-one. Kisaran gelombang yang menunjukkan bahwa anak-anak tersebut dalam keadaan terlelap tanpa mimpi.

"Naikkan frekuensinya dan tampilkan mimpinya. Jaga agar mereka tetap tertidur, perlahan-lahan naikkan frekuensinya. Buat anak-anak itu merasakan keadaan yang benar-benar nyata."

***

Tantangan baru akan segera dimulai. Kali ini mereka hanya berada seorang diri dalam luasnya ruang angkasa—ilusi melayang di ruang angkasa. Lampu indikator pada semua anak berwarna merah, menandakan masuknya sebuah pesan tantangan.

Lucia membuka pesan dari pengirim misterius.

Selamat datang dalam simulasi ketiga.
A Tour Of The Universe
Bukalah pikiran kalian tentang kosmologi.
Intruksi: 1. Jawablah tiga soal yang diberikan dengan benar
2. Setiap jawaban benar akan mendapat alat untuk melanjutkan ke pertanyaan berikutnya
3. Setiap kalimat adalah petunjuk
Peringatan: Tidak ada toleransi untuk jawaban salah. Taruhannya adalah nyawa.

Start

Dengan rasa keraguan bercampur ketakutan Lucia membaca pesan yang tertera. Keraguan untuk memulai simulasi disebabkan karena ketakutan yang timbul dihati Lucia. Ingatan terakhirnya menggambarkan bahwa ia berada di dalam kamar. Ia tidak ingat kapan ia berada di tempat ini. Sesaat kemudian, Lucia menampar dirinya sendiri untuk menguji apakah itu sebuah mimpi. Ternyata bukan, Lucia merasakan sakit seperti disetrum pada daerah wajahnya.

"Sakit. Ini bukan mimpi? Tapi, ini melayang di luar bumi dan aku bernafas ... ini mimpi? Bukan, ini sangat nyata. Tapi ... aneh ... ah sudahlah."

Diantara kebingungan itu, Lucia menyentuh start. Jam hologramnya menampilkan pertanyaan pertama dan dilengkapi tombol qwerty dibawahnya untuk mengetik jawaban pada ruang yang tersedia.

Sebuah titik permulaan yang mengawali semuanya. Dimana waktu tak dapat terukur. Ketika ruang belum tercipta. Ketika semua adalah padu.

"Ya Tuhan. Apa ini?" gumam Lucia yang mulai panik. Pada tahap ini tidak ditentukan batas waktu. Tapi, jika mereka tidak menyelesaikan tantangan, dipastikan bahwa mereka tidak akan pernah kembali.

***

"Hah? Aku dimana?" tanya Rendi yang entah berbicara kepada siapa. "Sepertinya aku pernah melihat semua ini. Sepertinya ..." Rendi berpikir sejenak.

"Aha ... Ini pemandangan didalam kristal. Kok, sampai terbawa mimpi?" Kemudian lampu indikator jam hologram Rendi menyala.

"Oh no. Ini bukan mimpi. Kalaupun ini mampi, pasti semua pertanyaan ini akan membawaku pada jalan keluar dari mimpi sialan yang menguras otak ini."

"Rasanya aku tau apa ini."

***

"Titik awal?" Sesaat kemudian Lucia mengerutkan dahinya dan menghentakkan jari telunjuknya pada pelipis—tanda atau bahasa tubuh bahwa seseorang sedang berpikir.

COSMOS: Simulation SurviveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang