Bab 5

2.6K 279 37
                                        

Pagi menjelang siang, sinar matahari semakin terik. Sudut cahaya datang membuat bayangan manusia di bumi lebih pendek dari aslinya. Suhu juga ikut meningkat seiring pertambahan waktu. Menyebabkan sebagian mahasiswa tak kunjung keluar dari kampus karena lebih memilih berada didalam ruangan daripada beraktivitas di luar yang mulai terik.

Beberapa mahasiswa menutupi dirinya dengan jaket dan masker ketika berada diluar, ada juga yang menggunakan sun block berbentuk lotion untuk menghindari sinar ultraviolet membentuk sel-sel melanosit menjadi lebih cepat sehingga kulit tampak lebih gelap.

Siang itu aku keluar dari pintu gerbang untuk bergegas pulang ke rumah. Tapi, langkahku harus terhenti karena mendengar ocehan seorang cewek. "Gila, panas banget hari ini, bisa gosong kalo lama-lama gini! Kamu mau kemana?" kata Dita teman sekelasku.

"Aku mau pulang. Kan gak ada kuliah lagi," jawabku sambil mengenakan jaket merah yang sedari tadi kupegang.

"Yaelah. Masih pagi kali. Ke mall dulu, yuk? Baru pukul 11.00," kata Dita sambil mengangkat tangan kirinya yang di lingkari jam tangan.

"Dua hari yang lalu bukannya kita udah ke mall, ya? Aku langsung pulang, ya. Papa baru pulang dari luar kota dan Mama lagi masak enak dirumah. Mau ikut?" kataku sambil mengenakan masker dan menutupi hampir tiga per empat wajahku.

"Rezeki anak kos. Pantang di tolak. Cus!"

Sesampai dirumah. Aku dan Dita memakir motor disamping rumah. Saat itu, semua pintu dan jendela tertutup rapat. Rumahku terdiri dari satu pintu depan untuk masuk menuju ruang tamu dan satu pintu samping yang menuju dapur serta dua buah jendela yang biasanya terbuka dan terhubung ke ruang tengah. Tapi, hari ini nampak aneh. Sangat aneh. Semua pintu tertutup rapat, termasuk pintu samping yang biasanya terbuka juga ikut tertutup. Gorden jendelapun menghalangi pemandangan dalam ruangan.

"Ma..." panggilku

Hening tanpa suara. "Rumahmu kosong?" tanya Dita. "Entahlah," jawabku singkat karena perasaanku tiba-tiba terasa ikut aneh.

Lalu, aku mencoba membuka pintu depan. Klek! "Rumah sepi. Tapi pintu tidak dikunci," gumamku saat menerobos masuk. "Ma, kenapa semua... tertutup?" kalimatku sempat terhenti melihat tiga orang yang tidak biasa sedang berdiri didalam rumah. Di depan tiga orang itu, aku melihat mama, papa dan adikku yang berumur enam tahun dalam posisi duduk di lantai dengan tangan di belakang tubuh, seperti posisi tangan terikat.

"Cepat pergi, Anne!" teriak mamaku.

"Tunggu. Siapapun yang sudah masuk kesini, dilarang keluar. Masuklah dan kunci pintu itu," kata seorang laki-laki berbaju serba hitam dengan suara berat dan tatapan dingin. Tiga orang itu terdiri dari satu wanita dan dua orang pria, pakaian ketat mereka tampak aneh dan berat. Bagaikan baju antipeluru yang berbahan logam.

Aku dan Dita yang telah mencapai pintu memasuki ruang tamu. Dita bersembunyi di belakang punggungku. "Siapa mereka, Ann?" tanya Dita dengan suara pelan. Jelas sekali bahwa Dita tampak ketakutan. Tangannya menggenggam pergelangan tanganku terasa dingin.

Aku menenggak ludah berusaha menyembunyikan rasa takut. "Siapa kalian? Perlu apa ke sini?" tanyaku dengan menjaga intonasi suara yang stabil. Entahlah mereka mengerti bahasa Indonesia atau tidak. Tampak dari ciri fisik mereka, berambut kuning dan iris mata biru.

"Kami berasal dari divisi Pengembangan Kehidupan yang berada dalam sebuah Badan Pergerakan Perdamaian. Kami berada dalam naungan sebuah organisasi superior. Organisasi terbesar di alam semesta. Cosmos," kata seorang wanita yang berdiri di tengah.

Telinga mereka terpasang sebuah alat penerjemah yang menangkap gelombang suara berupa bahasa yang berbeda. Apabila bahasa asing terdeteksi melewati sensor alat. Alat itu akan mengubahnya menjadi sinyal terjemahan pada area Wernicke dan area Broca pada korteks otak sehingga dapat mengatur keteraturan bahasa dan berbicara pada penggunanya.

COSMOS: Simulation SurviveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang