Bab 15

1.6K 201 15
                                        

Note: Hai, readers aku kembali *plak. Aku mau minta maaf untuk ke...hmm sekiankalinya karena bab ini publish sangat-sangat-sangat terlambat dikarenakan beberapa hal. Yah, salah satunya aku gk bertemu laptopku beberapa waktu lalu. Ngetik lewat HP? males -_- Ribet lah kalo di HP. Udah ah. Ini bab terakhir lho wkwkwk. Enjoy in the story :)

Lucia perlahan-lahan membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat. Ia menyadari dirinya bangun dalam posisi setengah terbaring diatas sofa empuk. Sebuah kaca transparan tepat diatas kepalanya terbuka.

Lucia perlahan mengangkat tubuhnya dalam keadaan duduk tegak, ia memperhatikan sekelilingnya. Tampak gelap karena lampu tepat diatasnya menyorot terang kearah dirinya. Riuh tepuk tangan terdengar disekelilingnya. Ia baru saja menyadari dirinya sedang berada diatas panggung. Satu lampu sorot menyala terang ke arahnya membentuk kerucut.

Berusaha untuk menyesuaikan mata dengan keadaan sekelilingnya, ia menyipitkan kelopak matanya. Tiga orang berbaju putih dan satu orang berjas hitam mendatanginya. Mendekati Lucia. "Saudara-saudara sekalian, permainan bertahan hidup telah selesai. Pertunjukan perdana Cosmos: Simulation Survive dimenangkan oleh... Lucia!" teriak orang berbaju hitam itu yang memeriahkan acaranya.

Semua lampu panggung kini menyala terang. Untuk beberapa detik Lucia menahan matanya dengan lengan akibat silau yang tiba-tiba. Perlahan-lahan pupilnya mengecil dan ia menyesuaikan kembali. Kertas-kertas perayaan kemenangan berwarna-warni ditaburkan oleh robot yang terbang mengitari panggung. Lucia melihat ke depan. Ratusan orang bertepuk tangan kearahnya. Bahkan, ada yang sampai menangis, entah karena kagum atau terharu. Lucia tidak tahu apa yang mereka rasakan.

Matanya tertuju pada bangku yang paling depan. Seorang wanita yang berdiri dan bertepuk tangan terlihat menitikkan air mata. "Mama! Apa itu benar mama?" tanya Lucia entah kepada siapa. "Ya, Lucia. Apa kau lupa?" tanya seorang laki-laki jangkung kepadanya. Ia menyodorkan tangannya untuk memberi ucapan selamat pada Lucia. Lucia membalas dengan menyodorkan tangannya juga. Tampaknya Lucia mengalami disorientasi sesaat.

Beberapa menit kemudian ia menyadari bahwa tidak hanya dirinya yang berada diatas panggung. Ia melihat ada banyak kapsul berbentuk telur dalam keadaan tertutup disekelilingnya. Ia memperhatikan kapsul yang berada tepat disebelah kanan kapsulnya. Seorang laki-laki yang sangat dekat dengannya. "Kakak!" Lucia hendak berlari ke arahnya. Tapi, seorang wanita menahannya. "Tunggu sampai ini selesai Lucia. Rendi baik-baik saja."

Kemudian, banyak petugas militer membentuk barisan di depan panggung. Terlihat seperti penjagaan agar penonton tidak naik ke atas panggung untuk memeluk anak mereka yang baru saja selesai mengikuti "permainan hidup dan mati". Kapsul-kapsul itu membuka. Puluhan remaja berusia tujuh belas sampai dua puluh satu tahun keluar dari dalam.

Sebagian besar dari mereka tampak pucat. Ada juga yang menangis, berteriak-teriak tak jelas. Beberapa terlihat tertawa sendiri, mungkin melihat sesuatu yang lucu. Di kejauhan ada Anthoni dan Anne, keduanya tertawa seperti melihat sesuatu. Lucia melihat Rendi, tidak hanya sekedar melihat tapi ia juga mengamati Rendi. Rendi jatuh terduduk, hanya terdiam mematung. Tatapannya hampa. Lucia menghapus air mata yang sempat menitik disudut matanya. Ia mendekati Rendi.

"Kak?" panggil Lucia. Rendi tak merespon, ia hanya menatapnya. "Kakak." Panggil Lucia agak keras dan sedikit mengguncang bahu Rendi. Tetap ia tak merespon—hanya tatapan kosong.

Lucia kembali ke pria jangkung berbaju putih, ia mulai marah. "Apa yang terjadi?" tanya Lucia.

"Kami akan menjelaskan padamu setelah ini. Kau berhak mendapatkannya."

Sementara itu, puluhan orang yang berbaju putih mulai mendekati panggung. Ada juga yang membawa tandu. Anak-anak itu digiring menuju belakang panggung. Suatu keributanpun terjadi dibawah panggung. Para penonton yang mungkin saja orang-tua dari anak-anak itu mulai menjerit-jerit untuk naik ke atas panggung dan menerobos pertahanan militer.

COSMOS: Simulation SurviveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang