'Cepat pulang, cepat kembali'
Aku melihat setiap sudut kamarku yang hening, hanya suara hujan yang mebuat keheningan itu menjadi suara gemuruh air yang berjatuhan dari atas genting ke bawah tanah.
Aku membuka jendela kamarku dan melihat keluar, sepertinya hujan nya sangat deras dengan diiringi petir. Akupun segera menutup jendela kamarku lalu rilex diatas kasur. Aku pun menatap layar ponselku berharap ada kabar dari Dinan, sudah dua minggu dia tidak memberiku kabar, jangankan untuk menelpon memberi pesan pun sepertinya dia tak sempat.
Aku mencoba untuk menelponnya beberapa kali lalu meninggalkan pesan tetapi dia tidak membalasnya sama sekali, Dinan kau dimana? Kau sedang apa? Apa kamu lupa sama aku dinan?
Aku cemburu dengan teman-teman mu, yang selalu bersamamu yang selalu bertemu denganmu tanpa ada halangan, yang selalu bercanda denganmu. Aku cemburu pada mereka. Ingin rasanya aku menggantikan posisi teman-temannya agar selalu dekat denganmu agar selalu bisa di sampingmu.
****
Drttttt Ponselku bergetar.
"Hallo, key. Maaf aku menghilang begitu saja tanpa memberi tahumu" ucapnya
"Hmmm..." aku hanya mendehem dan kembali diam
"Kamu marah key? Maafkan aku" jawabnya
"Selamat kamu berhasil membuatku khawatir" ucapku datar. "Udah aku cape"
"Key, maaaf kamu boleh marah sama aku, kamu boleh lakuin apapun sama aku tapi mohon kamu jangan cuekin aku kaya gini, aku lagi perjalanan ke bandung"
"BOHONG SEMUA BOHONG KAMU TUKANG BOHONG, AKU GASUKA SAMA KAMU" jawabku dengan nada tinggi
"Tapi keyy, aku bisa jelas......" tutt..tutt..tutt akupun memutuskan sambungannya lalu melempar ponselku ke sudut kasur, dan
hampir terjatuh.
Dinan sebenernya aku seneng denger suara kamu, inginnya aku berbicara panjang padamu tapi, kamu membuatku kesal sangat kesal dengan kamu menghilang seperti ditelan bumi.
**
Ini tepat tanggal dimana Dinan menyatakan perasaannya kepadaku, walaupun hubungan kami masih 3 bulan tapi aku nyaman bersama Dinan.
"Keylaaaa" Teriakk Syifa dari kejauhan.
"Muke gile lu, gimana kalo aku jantungan" ucapku sembari tertawa.
"Tau ga? Dinan ada dirumah, dia baru sampe bandung tadi pagi, Dinan sedang sakit, demamnya ga turun-turun, dia bilang pengen ketemu kamu keyy" ucapnya dengan sedih.
"Kamu jangan becanda?" Ucapku dengan gugup dan khawatir "yauda nanti pulangnya aku kerumah kamu ya syif"
Bel pulang pun berbunyi, aku segera membereskan semua bukuku ke dalam tas. Aku segera menghampiri syifa dan langsung menariknya untuk pulang kerumah syifa. Aku sangat mengkhawatirkan Dinan walaupun aku sedang marah padanya tapi aku sangat-sangat khawatir.
"Dinan " teriakku dan langsung menghampirinya yang sedang duduk diruang tengah, akupun langsung memeluknya dengan kepala berada dekat dadanya.
"Key, kamu gamarah kan? Miss you monyett" jawabnya halus dan membalas pelukanku dan mengacak-acak rambutku.
"Kamu sakit yang?" Tanyaku lalu melepaskan pelukanku dan memegang jidatnya dengan punggung tanganku. "Iya bener kamu sakit, kok bisa sakit?" Lanjutku.
"gara-gara kangen sama kamu key, jadi aku sakit" ucapnya dan tertawa meledekku.
"Tukang gombal luu" jawabku dan mencubit perutnya, hingga dia kesakitan.
Aku menyuapinya makan, memberinya obat dan selalu di dekatnya hari ini, saat ku melihat arloji jam menunjukkan pukul 4 sore.
"Dinan, aku pulang ya. Takut mama marah" ucapku dan menatap matanya dalam.
"Aku anterin yaa" jawabnya dan menatapku balik.
"Gembel lu, lagi sakit gini mau nganterin. Aku pulang sendiri bisa kali, aku kan udah gede"
"Iyasihh umurnya, badanyya masih minimalis kaya gini"
"Wesswesss, sekate-kate" ucapku lalu melipat tanganku ke dada dan membalikkan badan.
"Key" panggilnya dengan nada serius, dengan cepat aku membalikkan badanku. "Maaf, aku sering bikin kamu khawatir, bukan maksud aku buat ga ngabarin, soalnya bener-bener aku punya masalah sampe aku lupa untuk membuka handphone, maafin aku ya:(. Happy anniversary monyetku".
Lalu memberikan ku sebucket bunga dan jam tangan berwarna pink muda. Sontak aku memeluknya sangat erat.
"Makasih sayang, iyaa aku ga marah ko, waktu itu aku cuman lagi kesel aja"
***
Aku menatap layar ponsel menunggu pesan dari Dinan, karna hari ini Aku dan Dinan akan pergi jalan-jalan, katanya sih dia pengen beli kaos sama kemeja.
From : Dinan
Nyet, aku di depan
Aku langsung lari kebawah, dan menghampirinya, kebetulan mamaku sedang pergi katanya sih ada urusan.
Aku memeluknya sangat erat karna motor yang dikendarainya melaju cepat, aku hanya bisa bersembunyi di balik punggungnya, tiba-tiba motor yang dikendarai Dinan berhenti seketika.
"Nyet, kamu gapake jaket gila" ucapnya dan menatapku.
"Ehehehe, lupaa" jawabku cengengesan.
"Sekarang kita ke rumah Syifa, kan gajauh dari sini, kita pinjem jaketnya syifa aja"
"Gamau, aku gamau ngerepotin dia. Udahh gak apa-apa aku gapake jaket yang penting kamu yang nyupir pake jaket"
"Lu harus nurut key, kalau engga mening gue pulang ke jakarta"
"Yauda sana pulang, kalo bisa gausah balik lagi ajaa, bosen liat muka lu" jawabku dan membuang muka.
"Engga aku bohongg, yaudaa pulang lagi yaa bawa jaketnyaa" Rayunya, dan aku hanya mengangguk.
Setelah insiden tadii di jalan, akupun pulang lagi membawa jaket dan langsung pergi. Kalau kata aku lansung aja lanjutin gausa balik lagi, berhubung dia orang nya menjaga banget kesehatan makanya dia langsung ngomel. Kalau kata aku sih dia pantes jadi dokter tapi katanya cita-cita dia pengen jadi Polisi biar ngikutin bapanya.
"Yang, aku beli dulu kemeja yaa" ucapnya, dan aku hanya mengangguk.
"Bagus yang mana kata kamu?" Dinan memunjukkan dua kemeja yang satu warna biru dan satu warna abu.
"Yang abu kalau kata aku, soalnya kalo yang biru ini terlalu cerah" jawabku.
"Yang, kamu mau baju yang mana pilih ajaa" tanyanya.
"Engga" jawabku sembari menggelengkan kepalaku.
"Cepet pilih, aku yang bayar"
"Engga, aku pengennya kamu" ucapku dan tersenyum padanya.
"Yaudaa, tapi kalo aku ajak makan kamu harus mau" ucapnya. Aku hanya mengangguk, menandakan 'iya'
Setelah Dinan membayar kemejanya Dinan langsung memegang tanganku dan mengajakku untuk makan.
Aku dan Dinan langsung duduk, berhadapan, aku memanggil pelayan untuk memesan makanan sedangkan dinan terus melihatku sembari senyum.
"Wey, cepet pesenn gilaa" ucapku dengan nada tinggi, lalu tertawa.
"Pesen aja samain kaya kamu, pasti aku makan" jawabnya dan menatap ku lagi. Aku salah tingkah dan terus menerus mengusap mukanya dinan agar tidak melihatku, alhasih Nihil dia malah terus melihatku.
"Gila ni orang"ucapku, sontak dinan langsung melotot padaku.
"Apalu bilang?"jawabnya dan langsung mengacak-acak rambutku.
"Cepet tu makan, makanannya keburu dingin nanti gaenak" ucapku pada dinan.
***
Aku percaya kamu untukku, dan aku percaya sedikit-demi sedikit aku terperangkap dalam cintamu yang membuatku bodoh.
-Keyla
Jika aku bisa membuatmu bodoh, aku ingin kamu percaya ,aku terperangkap dalam hatimu dan aku lupa jalan pulangnya.
- Dinan
****
kalau banyak yang typo maklum yaa, :D
Vomment jangan lupa:)
KAMU SEDANG MEMBACA
HURT
Teen FictionSetidaknya berilah diriku sedikit celah cahaya agar dapat melihat apa yang telah terjadi walaupun hanya secerca cahaya. Cinta itu pergi disaat aku benar-benar merasakannya, selamat!! telah kehilangan cinta yang paling besar, tuan!! Aku benar - benar...
