Chapter 8

74 13 3
                                        

Air mata yang sedari tadi sudah menggunduk di pelupuk mataku sudah tak tertahankan lagi, akupun menangis Dinan langsung memelukku sangat erat rasanya tak ingin kulepaskan.

Hari ini Dinan akan pulang ke jakarta Dan dia memberi tahuku bahwa bulan depan dia tidak akan ke bandung, dadaku sesak mendengarnya seperti ditusuk seribu duri. Aku begitu sedih dan terus menangis di dekapannya yang membuatku begitu nyaman.

"Ka keyla jangan nangis telus, nanti celin jagain ka Dinannya biar ga bandel ya ka" ucap selina polos, yang mebuatku melepaskan pelukanku dan jongkok menyeimbangkan tubuhku dengan tubuh celina.

"Iya sayang, makasih. Kalau ka Dinan macem-macem langsung laporin kaka yaa" jawabku lembut dan memeluk tubuh kecil celin dan mencium keningnya.

"Aku gaakan dicium?" Goda Dinan membuatku tertawa tetapi masih dengan tangisanku.

Dinan pergi ke mobil dan mengambil sesuatu "sayang, ini buat kamu. Jika kamu merindukanku peluk boneka ini, tapi jika kamu kesal padaku kau marah saja pada boneka ini anggap saja itu aku" Dinan pun memelukku sekali lagi dan mengecup keningku lama.

Sampai akhirnya Dinan pergi, dan menghilang begitu saja. Akupun terus-menerus menangis.

****
1 bulan berlalu.

Aku disini dan kau disana hanya berjumpa Via suara namun ku slalu menunggu saat kita akan berjumpa.meski kau kini jauh disana kita memandang langit yang sama, jauh dimata namun dekat di hati. Lirik lagu Ran - Dekat di hati begitu terngiang-ngiang dikepalaku.

Aku menatap boneka yang dinan berikan padaku, tak terasa air mataku terjatuh melewati pipiku dan mengenai ujung kepala boneka itu.

Mengapa aku menjadi lemah seperti ini, seperti kehilangan arah. Kemana keyla yang dulu, hanya karna Dinan seorang keyla hutami menjadi seperti ini, seperti kehilangan arah, tak berdaya.

Aku memukul-mukul boneka itu, memaki-maki diriku sendiri jika orang melihatku mungkin akan mengatakan aku ini gila, ditambah penampilanku dengan mata bengkak dan rambut yang kubiarkan terurai berantakkan.

Akupun berkaca pada cermin membayangkan sosok Dinan hadir dan melihat diriku sendiri yang seperti ini. Aku setengah gila karnanya karna sudah lama tak ada kabar ingin rasanya aku berteriak semampuku, tapi aku tak bisa karna setiap malam aku selalu menangisinya.

Ini bukan keyla hutami, melainkan orang lain, mengapa aku selemah ini, aku lelah terus-terusan seperti ini.

"DINANN" teriakku dalam kamar dan melemparkan boneka yang dia berikan ke sudut kamar, aku menangisss sangat keras sembari memeluk kedua kakiku.

Tiba-tiba ponselku berbunyi, kuhapus air mataku dan menarik napas, lalu mengangkatnya.

"Keyla" ucap Maminya dinan

"I-ya mihhh" jawabku menahan tangisanku.

"Kamu kenapa sayang?" Ucap mami mengkhawatirkanku.

"Gak kenapa-kenapa mih, oh iya mih Dinan mana? Kok dia ga ada kabar yaa udah 1 bulan"

"Iyaa justru itu mami mau bertanya, kamu ada masalah apa sama Dinan? Soalnya kemarin dia mengenalkan gadis pada mami, namanya Salsa" mendengar itu dadaku sangat sesak, seperti ditusuk oleh pedang yang sangat runcing, tangisanku pun pecah, Aku langsung melemparkan handphoneku dan berteriakkk sekeras mungkin.

Secepat itukah Dinan melupakanku, saat aku tak berada di sisinya dia bermain perempuan di belakangku. rasa sesak ini sesaat berubah menjadi marah yang sangat-sangat marah.

jika dinan berniat hanya memainkanku seharusnya tak usah datang di kehidupanku membawa kebahagiaan hanya untuk membuatku menangis. Aku menangis,menangis dan menangis terus air mataku terus-terusan meneteskan air mata, membasahi pipiku. Dadaku sesak sangat sesak seperti dihantam oleh batu besar lalu ditusuk dengan pedang runcing yang tajam.

Aku terdiam di sudut kamar dan menarik-narik rambutku sendiri, membiarkannya kusut. Aku lalu beebaring dengan posisi kesamping mengambil sebuah gelas dan melemparkannya ke tembok, membuat suara gemuruh dikamarku.

***
Aku melihat arlojiku yang menunjukkan pukul 6 pagi, aku langsung bergegas pergi ke sekolah dengan kantung mata dikarenakan aku tak bisa tidur, dan mata bengkak dikarenakan aku sering menangis, sebenarnya aku tak ingin menangis tetapi air mata itu terjatuh dengan sendirinya dadaku sangat sesak rasanya seperti tak bisa bernapas.

"Keyla" teriak Syifa dan langsung memelukku. "Kamu kenapa? Matamu bengkak sekali dan kemarin kamu berteriak sangat keras dan menangis? Kamu kenapaa?" Ucap Syifa.

"Kenapa kamu tahu? " jawabku heran.

"Kemarin maminya Dinan menelponmu kan? Saat Tante Lidya berkata dinan mengenalkan seorang gadis kamu langsung berteriak dan menangis tetapi suaranya terdengar jauh. Lalu tante lidya langsung menelponku menanyakan keadaanmu, tetapi kamu tak menjawab satu pun telponku" ucap syifa. Saking sedihnya aku lupa memutuskan sambungan telponku dengan maminya Dinan.

Aku tak menjawab pertanyaan syifa, aku langsung memeluknya lagi dan menangis, syifa mengelus punggungku berusaha menenangkanku.

Saat Syifa ingin berbicara tentang Dinan, aku langsung membungkam mulutnya dengan tanganku. "Akuu sedang tidak mau membahas tengtangnyaa" ucapku dan langsung memasangkan headset ke dalam telingaku dan mendengar lagu Meghan trainor - love i'm gonna lose you.

Jika suatu saat kamu pergi dikehidupanku, aku akan merelakanmu. Cukup aku yang merasakan sakit seperti tertusuk beribu-ribu duri, aku tak mau kau yang merasakannya. Karna aku sadar posisiku.
-Keyla Hutami

*************

Aku mulai terbiasa tanpa kehadirannya, tanpa mendengar suara lembutnya yang membuatku begitu nyaman, sesekali aku melirik ponselku berharap dia menghubungiku, tapi harapanku itu nihil, sampai sekarang pun dia tak pernah mengabariku.

berbeda dengan adiknya celina dan maminya, setiap hari mereka yang mengabariku menanyakan keadaanku. Dan suara celina yang menggemaskan mebuatku tertawa.

Tiba-tiba ponselku berdering.

"Ka Keylaaa" suara yang menggemaskan itu sangat familier di telingaku, ya itu adiknya Dinan.

"Apa sayang?" Jawabku lembut.

"Ka Dinan bilang sama celin katanya kangen sama kaka" ucapnya membuatku tercengang kaget, tak terasa air mataku sudah terjatuh entah berapa ribu air mata yang ku jatuhkan hanya karna Dinan.
"Ka keyla nangis? Kok sualanya kaya gitu?" Ucap celina dan membuatku menghapus air mataku cepat.

"Engga sayang kaka ga nangis, cepet tidur sayang udah malem nanti celina sakit" ucapku. Aku langsung mematikan sambungannya dan menyimpan handphone ku di nakas sebelah kasurku.

Aku langsung bersembunyi di balik selimut, dan melanjutkan menangis ku yang tertunda.

Tangisanku sangat menjadi-jadi tapi dengan suara pelan, aku tak mau semua orang dirumah ini terganggu dengan tangisanku. Lalu aku mengambil boneka yang dinan berikan, lalu aku memaki makinya. Dasar brengsek, dasar bagong, kamu memang bagong dinan, kamu rasa kamu itu tampan hah??


Kenapa harus Dinan lagi?
Disaat aku udah mulai lupa namanya itu?
Aku ini kau anggap apaa dinan?
Kau memang brengsek DINAN
Kau lelaki yang sudah membuatku melayang, lalu kau hempaskan ku ke tanah dan memijaknya menjadi kepingan-kepingan kecil.

*****
Stay terus yaa, jangan lupa tinggalkan jejak yaa.

HURT Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang