3

164 29 6
                                    

"IYA GRAHA!GUE MINTA MAAF" ucap gadis didepannya dengan keras,dan membuat siswa siswi yang tadi begitu serius cekikikan tidak jelas,mereka pasti tahu gadis ini adalah korban dari seorang Graha yang sudah kelewatan isengnya "puas lo?!" tambahnya tepat ditelinga Graha,dan entah kenapa getaran ditelinganya menjalar keseluruh tubuhnya

Graha tersenyum kecil sambil melihat gadis yang tadi didepannya berjalan menjauh,menghindari area kantin karena mendapat tatapan sinis dari siswi lainnya.

"Siapa lagi Gar,kayaknya gue pernah liat deh,tapi di mana ya?" tanya Nino yang asyik mengaduk es tehnya yang masih utuh

"Nggak tau. Anak sebelas ips empat. Lucu aja. Sok kenal aja lo!" ucap Graha sambil mengibas-ngibaskan kemeja sekolahnya

"Seorang Graha jatuh cinta?Gue berani taruhan untuk cewek itu,kalo dia bikin lo suka banget" tambah salah satu teman sekelasnya dengan seringai konyolnya

"GILA!" ucap Graha sambil menoyor kepala sahabatnya,tapi entah kenapa sedari tadi kedua matanya tidak mau kedip?

***

POV GRAHA

Sepulang sekolah,gue langsung menuju parkiran,padahal biasanya nongkrong dulu di warungnya Bibi Emi sekedar menghabiskan satu dua batang rokok. Tapi hari ini rasanya pengen buru-buru ke parkiran,naik keatas motor biru metallic kebanggaan gue.

Bukan buru-buru balik kerumah,tapi ngintilin cewek tadi pagi yang telat bareng,yang udah berani numpahin es teh ke baju gue.

Racun banget emang.

Gadis bertas biru dengan paduan coklat muda,berjalan dengan riangnya. Tanpa tau bahwa gue ngawasin dia dari tadi. Dia naik trans Jakarta lewat dari halte depan sekolah,dan entah kenapa selalu saja wajahnya kelihatan enak untuk dilihat.

Ini dia rumahnya,perumahan Jartiluhur nomor 6 B2A. Entah kenapa gue puas banget ngeliat dia dengan riangnya masuk kedalam rumah. Tapi lima menit kemudian,dia keluar tanpa tas gendongnya,entah kemana yang jelas gue udah tau rumahnya.

Rumah dengan cat hijau muda ditambah aksen beberapa bunga terlihat menyejukkan,persis waktu pertama kali gue tatap mata cewek itu. Nyejukin. Di halaman depan rumahnya ada taman kecil yang dilengkapi dengan lampu taman bulat sempurna,disampingnya ada kursi taman yang terbuat dari besi,dan tak jauh dari kursi panjang itu,sebuah kolam kecil yang diletakan menempel pada dinding rumah,ada air mancur yang tercipta dari guci kecil yang udah lumutan. Gue seneng,seneng kalo cewek ini punya selera yang sama kaya gue.

Gue tersenyum penuh kemenangan,dan entah kenapa pikiran-pikiran untuk selalu berada di sebelah cewek itu menjadi keinginan terbesar gue. Dan gue yakin,ngga lama nanti,gue bakalan tau nama asli cewek itu. Tunggu aja beb...

Emang yaa,cewek itu racun dunia. Dan gue belum pernah segila ini waktu liat cewek pertama kali.Istilahnya sih gue nggak percaya sama kata-kata bullshit orang-orang tentang cinta pandangan pertama.Dan sekarang gue kena karma.

Tolongin hati abang dek

Baru 5 detik gue nyalain mesin motor,tiba-tiba ponsel gue bergetar. Jujur aja,gue males kalo ada orang telpon pas gue mau jalan. Nurunin mood gue banget. Dan yang paling bikin gue tambah unmood,yaitu nama orang yang nggak gue harapin tertera di layar ponsel gue. Dengan hati terpaksa,gue angkat telpon darinya

"Hallo"

"......"

"Gue males,lo kan bisa naik taksi"

"...."

"Oke,tunggu bentaran"

"......"

"Bawel lo"

***

POV AUTHOR

Cewek dengan kuncir kuda yang poninya masih berantakan itu turun dari angkutan kota yang mengantarkannya ke salah satu gedung terkenal di salah satu kota Jakarta. Setelah ia memasuki lobi gedung,ia berlari sekuat tenaga tanpa pikir panjang bahwa perutnya belum terisi siang ini.

"Anda datang tepat waktu,apakah kami boleh melepaskan alat penopang hidupnya saat ini ?

Hatinya teriris seketika setelah mendengar perkataan dari sosok berbaju putih tersebut. Ia segera menggeleng keras dan tanpa ia sadari,matanya sudah berkaca kaca.

'Gue nggak mau kehilangan orang yang gue sayang untuk ke dua kalinya,cukup yang dulu aja,sekarang nggak'

"Tapi kemungkinan hidupnya hanya 15%"

"Jangan ada yang berani ngelepas alat itu,kalo ngga lo semua berurusan sama gue!!"

"Kita perlu berunding untuk kelangsungan hidupnya"

"Berunding? Gue ngga butuh itu. Pokoknya yang berani ngelepasain alat itu,bakalan berurusan sama gue!!!"

Tenaga cewek itu terkuras habis karena semua emosi yang dimilikinya telah dikelurkan untuk sosok berbaju putih didepannya. Ia tersenyum kecut,seolah olah dunia ini tidak adil untuknya dan tidak ada satupun yang bisa memahami jalan pikirannya.

"Pulang.."

Cewek yang baru saja menyandarkan tubuhnya di tembok berwarna putih pucat itu menoleh dengan tatapan sendu.

"Apa?Ayah juga setuju dengan dokter?" tanya gadis itu penuh dengan ketidak berdayaan,nada suaranya teramat parau,kalau kalian mendengar juga mungkin akan sangat menyedihkan

Pria paruh baya ini tersenyum penuh kasih. Lalu mengusap rambut berantakan anak semata wayangnya "every think will be allright dear"

Dengan segera cewek ini memeluk tubuh yang berada di depanya. Mungkin satu-satunya jalan karena ia sudah merasa lelah dengan semua yang ia alami.

Dengan langkah gontai,ia menyusuri lobi gedung terarebut.Tubuhnya memang ada di sini,tapi pikirannya entah berada dimana. Ia memilih untuk kembali ke rumahnya. Ia muak dengan aroma obat yang tersebar disepanjang lobi,tangisan bayi,suara-suara yang menurutnya amat mengganggu suasana hatinya

Tiiinn tiiinn

"Naik!"

Cewek yang ditawari untuk ia boncengi malah sama sekali tidak menolehkan wajahnya. Tersenyumpun tidak. Jangan-jangan bernafas juga tidak,kaya ketemu vampire.

"Eh ada orang nih,senyumin kek" ledek pria didepannya dengan cengiran songong

"Lo lagi,lo lagi...eneg tau liat lo" ucap gadis didepannya,yang malahan sekali ngomong langsung nyemprot dan nyakitin hati "Eh,gue duluan ya"

Killer of LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang