"Bagaimana keadaannya?" Suara berat terdengar bertanya.
"Tidak terlalu serius. Hanya luka ringan. Dia hanya butuh istirahat sebentar. Tapi aku sangat terkejut melihat kelakuan mereka. Perempuan bisa sangat mengerikan". Terdengar suara lain.
"Kau punya adik perempuan kan. Dan adikmu pun tak kalah mengerikan" ucap suara yang pertama. Suara yang sepertinya ku kenal.
Aku putuskan untuk tetap pura-pura belum sadar. Lagipula kepalaku masih sakit. Rasa mendenyut menjalar di kepala ku. Pasti akibat jambakan pirang-pirang gila itu. Deru nafasku kubuat senormal mungkin. Rasanya sedikit menenangkan mendengar suara orang pertama tadi. Bukan maksudku menguping. Jangan salahkan aku. Toh mereka yang berbincang di dekatku.
"Hmm. Adikku itu memang sangat mengerikan ketika marah".
"Aku sudah pernah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Dan bersyukur bukan aku penyebabnya". Ucap suara berat itu sambil terkekeh pelan.
"Tapi.. kenapa kejadian ini bisa terjadi?"
"Dia target the Royals".
"Hmm" kepahaman sepertinya menghampiri suara ke dua. "Aku memang dokter baru di sini, tapi aku sudah mengerti jika kau mengatakan hal itu. Menjadi target the Royals memang suatu hal yang buruk. Baiklah aku ingin membeli minuman dingin, kau mau?". lanjutnya kemudian.
"Tidak".
Kemudian suara langkah kaki terdengar menjauh.
"Hey.. buka matamu. Aku tahu kau pura-pura". Ucap si suara berat.
Aku membuka mataku perlahan. Mencoba membiasakan penglihatanku. Dinding berwarna putih adalah hal pertama yang kulihat. Ada beberapa poster organ tubuh dan perilaku sehat. Hmmm. Aku ada di ruang perawatan, unit kesehatan sekolah. Kutolehkan kepala ke samping dan mendapati seraut wajah iblis tampan di sampingku. Dia sedang duduk dengan tangan disedekapkan di dadanya yang bidang.
Axelle Geraldi Amadeo.
"Bagaimana kepalamu?" Tanyanya, mengedikkan kepalanya ke arahku.
"Sakit" ucapku parau. "Hmm!Ehemm!!" Mencoba melegakan tenggorokan yang juga terasa sakit. Aku bangun dari tidur, menyandarkan punggungku pada kepala ranjang.
"Minumlah" dia bangkit lalu memberikan segelas air putih yang sudah ada di samping meja yang ada di samping tempat tidur -single bed- yang sedang aku pakai.
Kuraih gelas dari tangannya. Tak sengaja jemari kami bersentuhan. Dan rasa itu, gelenyar aneh yang pernah kualami dulu kembali terasa. Aku mendongakkan kepalaku melihat dirinya yang juga melihat ke arahku. Kuturunkan kembali pandanganku. Aduh! Ada apa denganku. Kenapa jadi deg-degan. Kuteguk air putih pelan tapi pasti. Menghabiskan isi gelas tersebut. Sesekali melirik iblis itu.
"Tak perlu mencuri pandang seperti itu, bila kau mau pandangi saja aku". Ucapnya pongah. Aku mendengus kesal kepadanya.
"Terima kasih" ucapku pada akhirnya. Dia diam saja, senyum miring tercetak di wajah tampannya.
"Apa kau yang membawaku ke sini?"
"Pikirmu siapa lagi? Aku cukup terhibur dengan pertarungan kalian tadi". Suaranya masih terdengar tenang.
"Pertarungan yang tidak adil. Aku dikeroyok". Ucapku ketus. Masih teringat bagaimana perlakuan pirang-pirang itu.
Dia diam saja. Masih memperhatikan diriku. Kerut kecil muncul di dahinya. Namun hal itu malah membuatnya semakin tampan.
Ada apa denganmu?! Dia itu iblis! IBLIS! Wajahnya saja yang tampan kelakuan layaknya Lucifer. Aku merutuk dalam hati.
Tapi... tadi dia sudah menolongku.
Hmmm.. tidak. Tidak. Gara-gara siapa aku diserang satu sekolah? Gara-gara dia!!
"Aku pergi dulu". ucapnya tiba-tiba membuat aku tersadar dari mendengarkan percekcokan hatiku. Dia berbalik dan menghilang dari pandanganku.
Hmm. Sudahlah. Sepertinya aku harus tidur lagi. Denyutan di kepalaku kembali terasa.
.
.
.
.
.
Tbc
Selamat membaca.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bullying! (ONGOING)
General FictionNamaku Ruby dan satu sekolah mengenalku. Tapi itu bukan hal yg patut dibanggakan. Aku bahkan ingin seperti invisible womam yang dpt tak terlihat. Hanya karena satu hal aku harus berurusan dengan pangeran iblis itu! si tampan yang menjanjikan kesengs...
