"Ada apa dengan wajahmu sayang?" Aku meneguk dengan sulit jus jeruk yang sedang kuminum lalu menaikkan pandanganku, melihat mamaku yang sedang menatapku penuh kecemasan.
"Hm. Bukan apa pun mom" ucapku pelan sambil mengatur rambutku yang pendek ini agar menutupi lebam kebiruan di pipi kananku. Mamaku berjalan cepat ke arahku, meletakkan kunci-kunci yang digenggamnya secara sembarang di meja dapur. Uugh! Aku merutuki kebodohanku. Seharusnya aku membawa minumanku langsung ke atas tadi.
"Bagaimana mungkin bukan apa pun?" Tanya mamaku sambil memperhatikan wajahku dari dekat. Kulitku putih pucat, sehingga noda sekecil apa pun akan tetlihat jelas. Apa lagi lebam kebiruan ini. Sudah pasti tampak mengerikan di wajahku. Dokter di unit perawatan sudah mengobatinya, namun masih terasa sakit dan bekasnya masih terlihat. Setelah aku mandi sore tadi, lebam birunya semakin jelas.
"Awww.."ringisku ketika tanpa sengaja mama menyentuhnya pelan. Mama mengehela nafasnya pelan, lalu berjalan ke luar dapur. Ia mengambil kotak p3k yang terdapat di laci meja televisi di ruang sebelah, lalu kembali ke dapur. Dan duduk di kursi meja makan kami. Meja makan ini berbentuk bundar, terbuat dari kayu yang dipelitur berwarna putih, ditutupi oleh taplak meja putih bermotif bunga-bunga merah ungu. Mamaku sangat suka warna putih. Rumah ini juga didominasi warna putih. Katanya warna putih bisa membuat ruangan terlihat lebih besar dan luas. Dan memang benar. Tapi ... mengharuskan pemiliknya menjadi ekstra lebih giat membersihkannya. Terdapat empat kursi yang melingkari meja ini. Walau kami hanya tinggal berdua. Beliau bilang, jaga-jaga bila nanti aku akan mengundang temanku untuk makan malam.
"Ayo duduk".
Aku duduk di sebelah mamaku yang sedang membuka kotak p3k tersebut, mengeluarkan ibuprofen dan arnica oinment dan juga antiseptik.
"Kenapa bisa begini?" Tangan terampil mamaku mengoleskan antiseptik di dekat telingaku, perih rasanya.
"Aku terantuk di sekolah" ucapku berbohong, mataku turun mentap jemariku yang terjalin.
"Terantuk tidak akan mengakibatkan luka gores" ucap ibuku, menekan pelan luka di dekat telingaku, "ini bahkan terlihat seperti cakaran" lanjutnya.
Aku diam saja, sudah ketahuan bohong. Mau apa lagi?
"Apa kamu berkelahi? Kamu punya masalah di sekolah?"
"..."
"Baiklah kalau tidak mau bilang, mama akan cari tahu sendiri"
"Ada.. ada seseorang yang tidak menyukaiku..." Bohooong! Banyak yang tidak menyukaimu Ruby! Satu sekolah membenci dan memusuhimu.
Sensasi dingin menjalar di pipiku ketika mama mengoleskan gel arnica di daerah pipi yang lebam.
"Tadi kami terlibat pertengkaran. Aku juga membuatnya seperti ini". Tunjukku pada pipi yang telah terobati. Sebenarnya aku tidak tahu apakah ada salah satu dari pirang-pirang gila itu yang juga menderita sedikit saja seperti yang kurasakan.
Mama hanya memandangiku, ooh. Jangan sampai dia tahu aku berbohong lagi.
"Baiklah. Kalau memang benar seperti itu. Tapi... kalau lain kali kamu pulang dalam keadaan seperti ini lagi, mom akan datang ke sekolah kamu dan mencari tahu".
Aku menganggukkan kepalaku pelan. Dalam hati memikirkan apa yang akan kulakukan agar terhindar dari gerombolah pembully di sekolah.
"Istirahatlah.. biar mom yang siapkan makan malam" ucap ibu ku, melangkah keran air, mengambil segelas air lalu meletakkannya di depanku.
"Minum obatnya, lebamnya akan berkurang besok. Jangan lupa setiap selesai mandi oleskan lagi ointment nya".
"Biar aku saja mom, kau pasti lelah" ucapku setelah meminum ibuprofen.
"Nope. I'm good. Harimu pasti jauh lebih melelahkan". Kata mamaku sambil mengeluarkan beberapa bahan makanan dari kulkas. Aku tidak begitu mendengarkan, ku ambil sayur hijau yang dikeluarkan ibuku lalu mencucinya bersih.
Sekilas ku lihat mama menggelengkan kepala pelan, berkata lirih yang seperti ditujukan hanya untuk dirinya sendiri, "mirip sekali dengan ayahnya".
Tak ayal aku tersenyum mendengarnya. Mama bilang aku mirip dengan ayahku... maka aku tidak akan menyerah begitu saja.
.
.
.
.
.
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Bullying! (ONGOING)
General FictionNamaku Ruby dan satu sekolah mengenalku. Tapi itu bukan hal yg patut dibanggakan. Aku bahkan ingin seperti invisible womam yang dpt tak terlihat. Hanya karena satu hal aku harus berurusan dengan pangeran iblis itu! si tampan yang menjanjikan kesengs...
