Pagi ini aku kembali ke sekolah. Lian yang tidur di sini untuk menemaniku, mempersiapkan semua kebutuhan sekolahku. Ia menyiapkan sepatu, tas, jepit, jaket, dan beberapa barang kesayanganku yang lain. Ia berharap dengan mengenakan barang-barang kesukaanku, akan membukakan sedikit memori yang terpendam itu.
Kami berjalan melewati jalan setapak di pinggir jalan raya. Kata Lian, setiap pagi aku berjalan melewati jalan ini bersamanya, kemudian menaiki mobil Rafa yang sudah menunggu di perempatan jalan.
Tak salah lagi, lelaki tampan yang bernama Rafa itu telah menunggu kedatangan kami di perempatan jalan. Ia melambai-lambaikan tangannya. Aku tersenyum kecil.
Aku bertanya kepada Lian kenapa orang-orang di jalan memandangi kami. Ternyata itu adalah hal yang biasa karena kami bertiga cukup terkenal di kota ini. Lebih terkenal dari para siswa-siswa luar negeri itu malah.
Dalam perjalanan ke sekolah, Lian dan Rafa memberitahukan alasan mengapa kami begitu terkenal. Aku tidak menyangka betapa populernya diriku.
Lian yang ternyata ketua kelasku, dengan sabarnya menemaniku berkeliling sekolah memberitahuku satu persatu.
"Hai Lin, gimana kabar lo? Lo masih inget gue, kan?" cowok yang datang dengan tiba-tiba itu mengejutkanku. Aku menjawabnya dengan gelengan kepala.
"Jadi, lo beneran amnesia, ya? Sorry banget, gue nggak bisa jenguk lo kemarin. Ada rapat di luar kota." Lanjutnya. Aku masih bingung siapa dia. Lian memberitahuku bahwa cowok itu namanya Andi, ketua OSIS di sekolah ini.
Lian menceritakan tingkah laku Andi yang biasanya tidak aku suka. Andi menimpali kata-kata Lian ketika ia merasa bahwa dirinya tidak memiliki tingkah laku seperti itu. Lian tidak menggubrisnya, ia terus melanjutkan cerita.
Taman yang indah dengan sebuah pohon besar serta terdapat kursi di bawahnya. Lian mengakhiri perjalanan di sini. Ternyata tempat ini merupakan markas kami ketika jam makan siang. Lian membuka kotak makan yang dibawa Rafa. Kami bertiga dan juga Andi yang 'katanya' suka ikut-ikutan, makan bersama di bawah pohon tersebut.
Semua pelajaran hari ini telah berlalu. Setelah bel berbunyi, Lian dan Rafa menyuruhku untuk segera pulang. Hari ini aku tidak pulang dengannya, karena Rona sudah berjanji mengajakku pergi.
Mobil Jeep putih itu sudah menunggu di seberang jalan. Pemiliknya duduk di belakang kemudi mobil. Aku tersenyum melihatnya. Entah mengapa, aku merasa merindukannya. Begitu senangnya, aku berlari menghampiri Rona.
Tiba-tiba terdengar suara klakson yang begitu kencang. Aku diam tak bergerak. Aku pejamkan mata ketika motor itu mendekat.
"Sialan lo! Punya mata nggak sih?" gadis yang mengendalikan motor itu mengumpatku. Aku merasa benar-benar bersalah. Seharusnya aku tidak seceroboh itu.
Rona menghampiriku lalu menolongku yang tidak kuat untuk berdiri. Wajahnya terlihat begitu geram.
"Lo kalo naik motor bisa hati-hati ..." ucapannya terputus ketika melihat gadis itu.
"Vita?"
"Rona? Ngapain lo ada di sini? Bukannya lo anak kuliahan, ya? Atau jangan-jangan ... Oh my God! Gue nggak habis pikir kenapa banyak banget yang suka sama gadis udik yang satu ini!" Gadis yang bernama Vita itu mengarahkan jarinya kepadaku. "Awas lo, ya!" ancamnya. Lalu ia berlalu dengan motor matic-nya.
Rona berkata padaku untuk tidak memikirkan perkataan Vita tadi. Aku hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
Entahlah Rona mau mengajakku pergi kemana. Satu hal yang pasti, aku masih bertanya-tanya pada diriku sendiri akan hadirnya Rona. Sebenarnya ia orang yang aku suka atau yang aku benci, hanya itu. Namun, dokter berkata bahwa Rona yang akan memberikan pengaruh terbesar dalam proses pengembalian memoriku. Ia yang akan sangat membantuku.
"Sudah ada hal yang kamu ingat?" tanyanya. Aku hanya menatap wajahnya sepintas tanpa ekspresi yang menandakan bahwa aku belum mengingat apapun. Rona tersenyum, lalu mencubit pipiku. Aku hanya meringis kesakitan dan kesal.
Kami berhenti di sebuah toko baju. Mungkinkah ada sesuatu yang berhubungan denganku di sini, pikirku. Setelah Rona membukakan pintu mobil untukku, kami memasuki toko itu.
Beberapa pegawai di sini menanyakan keadaanku. Beberapa pelanggan malah meminta foto bersamaku. Apa-apaan sih? Sepertinya mereka tidak tahu akan hal yang menimpaku. Kata pegawai-pegawai itu, sudah lama aku tidak datang ke sini. Aku hanya menjawab sekenanya. Rona hanya diam sedari tadi. Tidak membantuku menjelaskan apa yang terjadi. Mungkin dia memang tidak ingin mereka tahu dengan apa yang terjadi padaku.
Setelah beberapa saat menghilang, Rona kembali dengan membawa sebuah rok pink selutut dan kemeja warna tosca. Ia menyuruhku memakainya. Awalnya aku menolak, tetapi setelah dia mengatakan beberapa hal, aku menurutinya. Intinya, aku dulu sering pergi ke tempat ini bersama dengannya. Katanya, aku sangat suka memakai baju dengan model seperti itu. Rona yang dulu selalu memilihkan warna, motif, dan lainnya. Aku hanya tinggal mencobanya. Dia juga memilihkan sebuah wedges warna tosca serta jepit untukku.
Rona akan mengajakku ke kampusnya. Ia tidak ingin membawaku pergi dengan masih mengenakan seragam sekolah. Itulah alasannya mengapa aku diajaknya ke sini.
Kampus Rona terlihat ramai. Sepertinya ada sebuah acara hari ini. Benar saja, ternyata hari ini ada liga olahraga antar fakultas. Ia ingin aku melihatnya bertanding setelah sekian lama aku tidak menyaksikan pertandingannya. Aku teringat dengan apa yang diucapkan Lian semalam. Kata Lian, Rona adalah seorang atlet nasional. Aku juga pernah berbohong pada Rona perihal aku tidak menyaksikan pertandingannya. Sebenarnya, aku menyaksikan pertandingannya melalui handphone-ku secara live streaming.
Seorang temannya yang mengenakan tanda pengenal bertuliskan panitia mengingatkan Rona bahwa pertandingannya akan dimulai sebentar lagi.
Aku duduk di podium paling bawah berjejer dengan teman-teman Rona yang tadi baru dikenalkan. Mereka bertanya sejak kapan aku kenal Rona, apa hubunganku dengan dia, dan lain sebagainya. Aku yang masih belum ingat, hanya menjawab ala kadarnya. Mereka memberitahuku bahwa wanita yang duduk tidak jauh dari kami adalah orang yang berulang kali Rona tolak. Wanita itu begitu menyukai Rona. Tetapi jawaban Rona masih tidak berubah, ia sedang menanti kekasihnya yang dulu. Aku hanya manggut-manggut tidak jelas.
Seseorang melambaikan tangannya kepadaku. Aku tamatkan perlahan-lahan. Bukankah itu Dio? Kenapa dia ada di sini? Sungguh, itu memang benar-benar Dio. Rona melihat Dio yang datang menghampiriku.
Aku menikmati permainan Rona bersama Dio. Di sela-sela waktu Dio juga menceritakan beberapa hal untuk membantuku.
Permainan usai, team Rona yang memenangkan pertandingan. Tidak perlu diragukan lagi akan hal itu. Kemudian kami bertiga pulang. Sebelum pulang Rona dan Dio sempat berebut untuk membawaku pulang. Akhirnya aku yang memutuskan, siapa yang membawaku pergi, dia yang mengantarku pulang.
....
Beruntunglah ingatanku berangsur-angsur pulih setelah 3 minggu kejadian itu. Sekarang aku mengingat semuanya. Ya, semuanya. Termasuk siapa Rona sebenarnya. Tetapi aku masih belum bisa memastikan posisi Rona sebagai orang yang seperti apa di hidupku.
Malam ini aku merasa semuanya benar-benar kembali mencekam. Setelah kehilangan kedua orang tua ketika masuk SMA, kemarin kakekku meninggal. Beliau meninggal tanpa ada sebab yang pasti. Kemarin pagi aku sudah tidak bisa membangunkannya. Kemudian kakek dimakamkan malam harinya.
Saat itu saudara-saudaraku datang di hari terakhir kakek. Beberapa dari mereka menangis. Entah menangis sungguhan atau buatan. Aku juga melihat Devisia yang begitu terpukul atas kepergian kakek. Ia telah banyak melakukan kesalahan kepada kakek. Sepertinya Devisia benar-benar menyesali perbuatannya.
Malam ini aku tidak ingin diganggu siapa pun. Sebenarnya Lian, Rafa, Dio, dan Rona, hendak datang untuk menghiburku. Tetapi dengan sedikit paksaan, aku menolak kebaikan hati mereka.
Jendela kamar yang mengarah tepat ke halaman depan menjadi tempatku merenung. Aku teringat kembali kenangan-kenangan bersama ayah ibu. Berlibur kesini sewaktu nenek masih ada, juga kenangan-kenangan indah lainnya.
Kini semua itu hanya menjadi kenangan. Aku tidak akan mungkin bisa mengulang hal-hal itu lagi. Aku hanya bisa mengingatnya.
Doaku kepada Tuhan, semoga orang-orang yang aku cintai berada di surga dengan tenang. Aamiin ...
To be continued ...
