Via POV
Hari ini pokoknya aku harus menanyakan masalah kenapa kemarin Rega tidak menjemputku. Dan aku sudah siap memarahinya abis-abisan karena sudah membuatku menunggu berjam-jam apalagi harus mendapat musibah ketika bertemu Jess and the geng. Huffff.
"Regaaa!!!!" ku tepuk pundaknya dari belakang dan Rega langsung menatapku. Sekarang jarak diantara kami sangat dekat dan aku yang tadinya ingin memarahinya tiba-tiba mengurung niat itu. "Ada apaan Vi?"
Oke, sekarang demi apapun saatnya bilang 'KILL ME!!!!' masa sih dia nggak ada sedikitpun rasa bersalah karena kemarin tidak menepati janjinya untuk menjemputku? Dia lupa atau pura-pura lupa? Atau mungkin kemarin dia kecebur got dan otaknya ada yang kesegeser sehingga ia amnesia? Entahlah..
"Kemana aja lo kemaren?"
"Kepo amat nek bro, intinya kemarin gue bahagiaaaaaaaaaaa banget."
"Buruan cerita kemaren lo kemana aja? Kalo elo gak mau cerita, gue bakal nyuekin lo sampe lo mau cerita!"
"Ahelah gitu doang marah lo, nek bro. Gak asik banget. Iya deh gue ceritain daripada gue dicuekin sama sahabat gue ini."
"Yaudah buruan cerita!"
"Nanti aja lah"
"Sekarang, Rega!"
"Gue janji nanti gue ceritain, Vi"
"Sekarang."
"Huft batu. Oke lah. Jadi kemaren pas pulang sekolah, gue mau ngambil motor di parkiran. Pas gue lagi jalan menuju parkiran, gue ngeliat Aulia duduk sendiri. Tampangnya sedih banget, pas gue tanya dia kenapa, dia gak mau cerita. Akhirnya gue ajak dia ke Mall, kita makan, main timezone terus juga nonton. Pulang dari Mall, gue ajak dia ke suatu tempat, baru deh dia cerita masalah dia ke gue."
Demi apapun dadaku rasanya sulit sekali bernafas. Rasanya ada batu besar yang menindihi dadaku. Sesak sekali rasanya.
"Oh. Terus ada hal yang terlupakan gak?"
"Hah? Maksudnya gimana, Vi?"
Oke jadi dia lupa. Dia lupa bahwa ada seseorang yang berjam-jam menunggunya. Dia sama sekali tidak ingat dengan janjinya. Dan dia sama sekali tidak mengerti perasaanku saat ini.
"Gapapa, gue mau ke-kelas."
"Elah aneh lu, tadi minta ceritain, udah diceritain malah kabur!"
Ketika mata ini tidak kuat lagi menahan air mata yang akan segera tumpah, karena terlalu berat untuk ditahannya. Akhirnya buru-buru ku putuskan balik ke-kelas dan meninggalkannya. Bukankah dia pernah berkata, kalau ada seorang pria yang berani membuat air mataku tumpah, maka lelaki itu harus berhadapan dengannya? Lalu bagaimana kalau ternyata lelaki yang telah membuat air mataku tumpah itu adalah dirinya?
***
Author POV
Saat ini Bu Jaya telah sibuk menjelaskan rumus-rumus yang hanya membuat kepala Via tambah pusing. Sejak awal pelajaran matematika ini memang kondisi Via tidak enak. Lebih tepatnya sejak Rega menjelaskan alasannya dia melupakan Via yang sudah menunggu-nya berjam-jam.
"Vianca, apakah kamu sedang sakit? Daritadi saya perhatikan, wajahmu pucat dan sepertinya kamu juga tidak fokus mendengarkan penjelasan saya."
"Kepala saya sedikit pusing, Bu."
"Kalau begitu, lebih baik kamu ke UKS."
"Baiklah bu, permisi."
***
Via POV
"Vi, lo kenapa bisa sakit gitu sih? Makanya lo banyak makan kek, biar sehat!" Omel Sasya yang kemudian disetujukan oleh sahabatku yang lain. Sejak jam istirahat, mereka semua langsung pergi ke UKS dan rela tidak ke-kantin untuk makan siang, demi menemaniku di UKS. Terharu....
"Gue gapapa, mending kalian ke kantin aja, takut jam istirahat abis. Nanti kalian malah kelaperan lagi dikelas. Kan galucu lagi belajar perutnya pada nyanyi-nyanyi. Lagian gue cuma butuh istirahat aja kali."
"Vi, lo kayak gini karena lo tertekan ya jadian sama Rama? Kalo lo tertekan, yaudah deh mending gausah dilanjutin. Maafin kita ya jadi egois gini ga mikirin perasaan lo, karena udah ketutup sama kebencian." Fiya mengucapkan ini dengan sangat tulus karena sangat jelas terlihat, matanya berkaca ketika mengucapkan itu. Yang lain juga kelihatannya setuju dengan perkataan Fiya dan menyesali ide konyol itu.
"Heeeey! Kalian jangan ngomong gitu lagi ya, gue tau mana yang terbaik buat gue dan buat kita. Kalian gak perlu minta maaf karena gak sepenuhnya kalian salah kok." Ucapku tulus. Tak lama, mereka semua memeluk-ku dan ku rasakan air mata-ku tumpah lagi.
***
"Kenapa lo bisa sampe sakit?" Entah bagaimana Rama bisa tau kalau aku ada di UKS, intinya dia datang ketika para sahabatku meninggalkan ruang UKS karena bel masuk telah berbunyi.
"Gak enak badan aja. Lo gak masuk kelas? Kan udah bel."
"Mana bisa gue tenang belajar, sedangkan lo lagi sakit disini."
"Oh, tapi gue udah gapapa."
"Lo makan dulu ya? Biar gue yang suapin."
Lagi-lagi, aku rasanya seperti dejavu.
"Makasih ya, lo udah mau nyuapin gue dan nemenin gue disini padahal harusnya lo kan belajar di kelas."
"Jadi, gue masih nyebelin gak?"
"Untuk hari ini mungkin enggak, tapi gatau deh besok."
"Gue bakal berusaha terus biar gak nyebelin dimata lo. Dan gue gak mau maksa lo lagi."
"Baguslah..."
Hening untuk beberapa menit sampai akhirnya terdengar suara Rama,
"Vi..."
"Iya?"
"Kan tadi gue bilang gue gamau maksa lo lagi kan?"
"Hmmm"
"Gue mau lo jadi pacar gue berarti gue maksa lo kan?"
"Hmmm"
"Nah sekarang biar keliatannya gak maksa, gue pengen lo jawab jujur tanpa adanya keterpaksaan. Lo sayang gak sama gue?"
Deg. Sama sekali belum ku persiapkan jawaban dari pertanyaan itu. Baru saja aku merasakan hatiku sakit melihat Rega menceritakan dengan bahagianya kejadian dia jalan bareng Aulia. Sepertinya Rega sudah lama menyukai Aulia. Makanya pas ngeliat Aulia sedih, dia jadi kepingin ngehibur gitu. Bodohnya aku, udah ada firasat gitu dari awal, malah sok gak peduli dan terlalu nikmatin perasaan ini sampe akhirnya perasaan ini tambah besar untuknya, dan takdir tidak membiarkan perasaan ini terbalaskan.
"Kenapa gak dijawab?"
Ternyata sudah cukup lama aku terdiam dan sepertinya Rama menunggu dengan sabar jawabanku. Sekarang aku harus menjawab apa?!!! Memang sih Rama itu menyebalkan sekali, gak bisa dibayangin kalau aku harus berpacaran dengan alien menyebalkan ini. Tapi bukannya dia tadi bilang kalau dia tidak akan memaksaku lagi? Mungkin saja dia tidak akan menyebalkan lagi? Ah kenapa jadi serumit ini, padahal kan niat awalnya cuma ingin membalas Jess.
"Iya."
Akhirnya kata-kata itu yang keluar dari mulutku,
"Iya apanya?"
"Iya, gue sayang lo, Ram." entah aku juga tidak mengerti mengapa kata-kata itu yang keluar dari mulutku.
Dari balik pintu UKS, ada seorang wanita yang melihat kejadian itu. Ia terlihat sangat sakit melihat kejadian barusan. Dan kebenciannya terhadap wanita yang sudah berani mengambil lelaki yang begitu ia cintai semakin tinggi.
"Gue bersumpah bakal buat Rama balik lagi ke gue dan ngebuang lo jauh-jauh, Vianca!"
Tatapan kebencian itu begitu terlihat dimata Jess.
KAMU SEDANG MEMBACA
Via's Story
Short StorySaat kalian harus menjalani suatu hubungan karena keterpaksaan, akan kah bisa tumbuh rasa cinta pada akhirnya? -poster credit @ohkailu (twitter)-
