Sepuluh

11.6K 833 11
                                        


"Aku mencintaimu, Chika. Izinkan aku menemanimu sampai akhir hayat." Lelaki itu menatap lekat mata Kartika yang berdiri di depannya. Dia memberikan ulasan senyum lembutnya di setiap ucapan manis yang berhasil membuat jantung Kartika berdegup kencang.

Air mata mulai menetes tepat di pipi Kartika tanpa bisa dia tahan. Kartika mencoba membuka mulutnya untuk membalas setiap ucapan manis yang diberikan sosok lelaki di depannya. Tangan lentik perempuan menyentuh daun telinganya, hembusan hangat dari napasnya menerpa sisi wajah Kartika yang membuatnya diam membeku.

"Keberadaanmu telah menghancurkan kehidupannya karena kamu tidak lebih dari wanita sial."

Seketika pemandangan di hadapan Kartika berubah. Sosok tampan lelaki yang dicintainya tumbang begitu saja di atas lantai dingin dengan muka biru bekas pukulan keras beberapa orang bertubuh kekar di hadapannya. Mereka memukul bahkan menendang tubuh lelaki itu tanpa ampun.

Kartika mencoba berteriak sekuat tenaga, tapi dia tidak mendengar suaranya keluar meski tonggorokannya terasa sakit. Dia melangkahkan kaki ke arah lelaki tersebut untuk mencoba menolongnya, tiba-tiba lantai yang dipijaknya menghilang dan tubuh Kartika jatuh begitu saja ke dalam lautan yang gelap. Semua cahaya menghilang, gelembung napas keluar begitu saja ketika mulutnya terbuka. Leher Kartika terasa tercekat, dia membutuhkan udara. Kartika berusaha berenang sekuat tenaga menuju permukaan.

Hah ... hah ... suara napas Kartika tersenggal seketika membuka mata. Dadanya naik turun, hidungnya berusaha menghirup sebanyak-banyaknya udara di sekitar. Cahaya lampu di luar jendela membuat matanya beradaptasi dengan sekitar. Sorot mata yang dia rindukan, menatap lurus ke arahnya dengan pandangan cemasnya. Gadis kecilnya memandang cemas ke arahnya.

"Bunda baik-baik saja?"

Kartika terdiam masih berusaha menenangkan diri sembari menatap lurus mata gadis kecilnya yang mengingatkan kepadanya, lelaki yang selalu hadir dalam mimpinya. Bola mata yang sama yang selalu berhasil membuat Kartika tenang.

"Bunda tunggu sini sebentar, aku ambil-" Kartika memeluk tubuh mungil gadisnya dalam dekapannya.

"Tinggalah," ucap Kartika, "jangan tinggalkan bunda sendirian." Kartika mempererat pelukannya yang hangat dimana saat ini gadis kecilnya, Aneta membalas pelukkan Kartika dengan tangan kecilnya.

"Tenang saja. Aneta tidak kemana-mana. Aneta akan selalu bersama bunda."

'Aku tahu. Aku tahu kalau kamu tidak akan meninggalkanku. Karena kamu satu-satunya milikku. Kamu satu-satunya yang mengingatkanku kepadanya. Orang yang sangat aku cintai. Kekasihku, suamiku dan juga ayahmu,' balas Kartika dalam diam, masih menatap mata Aneta dan menyingkirkan anak rambut di wajahnya.

"Kalian sudah bangun?" Kadek muncul dari balik pintu kamar Kartika yang dia buka pelan sehingga Kartika tidak menyadari kehadirannya, kalau bukan pertanyannya yang membuatnya menoleh ke arah pintu.

"Bunda mimpi buruk lagi. Sepertinya ..." jelas Aneta yang kurang yakin. Kadek berjalan menghampiri kasur. Dia duduk di tepi ranjang.

"Mimpi buruk apa? Kamu baik-baik saja, bukan?" tanyanya yang begitu cemas.

"Aku baik-baik saja. Hanya mimpi biasa. Bukan apa-apa." Kartika menjawab sambil menggelengkan kepala pelan dengan memberi sedikit ulasan senyum.

"Kamu yakin?"

Kartika menganggukkan kepalanya.

"Tante, Aneta tidak mau pergi ke Jakarta hari ini." Kartika dan Kadek menoleh ke arah Aneta yang kini menatap cemas Kartika, "Aneta ingin bersama bunda."

His Eyes on Her  ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang