Rambut panjang bergelombang bergerak terkena terpaan angin malam. Wanita itu berdiri tepat di depan poster pakaian anak dengan koper jingga di sampingnya.
"Kukira kamu tidak jadi datang. Aku sudah menunggumu sejam yang lalu," ujar lelaki yang tak lain Andrew berjalan dengan ekspresi kesalnya. Wanita itu melepaskan kaca mata hitamnya dan menolehkan kepalanya kepada Andrew.
"Pesawatku delay satu jam, jelek."
"Hah... hanya karena tubuhmu semakin kecil, kamu bisa seenaknya mengataiku jelek, sayang?" Andrew berjalan mendekat ke arah wanita itu dan menarik tangannya hingga mendekat padanya, "Apa yang kamu lihat, Chika?"
"Anak ini... mirip seperti ..."
"Leonardo Kandou," celetuk Andrew yang kini ikut menatap poster itu, "mungkin dia anaknya."
"Apa maksudmu?"
"Cepat pulang." Andrew mengambil koper geret wanita itu, sedangkan tangan lainnya masih memegang tangan wanita itu, "mama menunggumu. Seluruh keluarga Windler sudah menyipakan pesta pertunangan kita," lanjut Andrew sambil menuntun wanita itu, tunangannya, Jessica Windler untuk masuk ke dalam mobilnya yang dia parkirkan di depan.
ɷ
"Good morning, my Queen. Time to wake up." Suara berat berbisik di depan telingaku. Aku meenggeliatkan tubuhku dan berbalik mencari tempat nyaman. Aku masih mengantuk.
"Tidurlah, sarapanmu aku taruh di meja."
"Hum..."
Sentuhan hangat terasa pada dahiku, disertai hembusan pada puncak kepalaku. Usapan lembut pada rambutku terasa menyenangkan.
Siapa? Sepertinya aku pernah mengalami hal yang sama seperti ini. Dulu. apa aku bermimpi lagi?
Aku membuka mataku perlahan, membiarkan mataku beradaptasi dengan cahaya mentari pagi yang begitu terang. Aku menatap atap di atasku. Sebuah atap putih yang terlihat familiar. Aku mencoba duduk dari tempatku. Aku terdiam menatap sekelilingku. Sebuah tempat yang sangat aku hafal. Ini bukan kamar hotel. Ini kamar kita berdua.
Selimut putih yang kukenakan terjatuh. Aku menatap tubuhku yang polos tanpa menggenakan selembar kain. Mataku terbelalak. Aku ingat. Aku ingat bertemu dengan kak Surya di hotel. Tapi aku tidak pernah ingat aku pulang bersama dengannya kemari. Bagaimana aku bisa kembali ke tempat ini?
Aku menarik selimut putih dan melilitkannya di tubuhku. Saat hendak turun dari ranjang aku melihat baki dengan piring dan gelas di atasnya. Makanan dan minuman kesukaanku yang selalu dia buatkan untukku setiap pagi saat aku kesiangan. Dia masih mengingatnya. Meski sudah lima tahun, tapi dia masih mengingatnya. Air mataku keluar begitu saja melihat kebaikannya padaku yang tak pernah hilang. Dia orang yang baik. Dia suami terbaikku. Dia pasti akan menjadi ayah terbaik bagi Aneta.
"Aneta... astaga, bagaimana bisa aku melupakannya? Aku harus menemuinya."
Aku turun dari ranjangku dengan langkah beratkku. Kakiku terasa sakit, terutama di bagian pangkal. Tapi sekarang bukana saat yang tepat untuk memikirkan hal ini. Aku ingin bertemu Aneta. Dia pasti menungguku.
Klek... Klek...
Aku terdiam menatap pintu kamar yang tak bergerak. Aku menekan knop pintu dan mendorong maupun menariknya. Pintu kamar ini tidak bergeming. Dia mengunciku. Kak Surya mengunciku dari dalam.
Duk...duk... Dukk
"Kak Surya..." panggilku sambil menggedor pintu.
Tidak ada jawaban dari luar. Apa dia tidak ada diluar? Apa dia meninggalkanku sendiri disini?
KAMU SEDANG MEMBACA
His Eyes on Her ✔
ChickLitQuality: Raw Rate:21+ Status: 16 to 16 (Completed) Started: 21 Juli 2016 End: 25 September 2016 Rank: #10 ChickLit 26/09/2016 • Squeal of her sweet breath Menjadi ibu tunggal bukanlah perkara mudah. Ia harus bekerja dan mengurus anak perempuannya...
