"Kumohon temukan Aneta. Temukan putri kecilku. Kumohon, temukan anak kita."
Leonardo terdiam tak bergerak serasa membeku saat mendengar permintaan Kartika kepadanya. Kartika ikut terdiam saat dia menyadari apa yang baru saja dia lontarkan. Dia tidak sengaja mengucapkannya. Dia terlalu panik sampai dia tidak sadar apa yang dia lakukan saat ini. Kedua matanya menatap tangannya sendiri yang mencengram kedua lengan Leonardo. Kartika melepaskan cengkramannya secara perlahan.
"A-apa maksudmu dengan anak kita?" Pertanyaan yang keluar secara hati-hati dari mulut Leonardo, berhasil membuat dada Kartika berdegup kencang dengan keringat dingin yang mulai keluar dari kelenjar kulit terluarnya.
Leonardo mencengkram kedua lengan Kartika sehingga membuatnya terlonjak kaget menatapnya dengan kedua bola mata hitamnya yang membesar, "aku tanya, apa maksudmu dengan anak kita, Chika?" tanya Leonardo kembali dengan penuh penekanan di setiap katanya.
Kartika terdiam menatap lurus mata Leonardo yang menyipit dan meminta penjelasan darinya. Kartika menggelengkan kepalanya dan mencoba melepas cengkraman Leonardo darinya. Leonardo yang sadar akan Kartika yang mencoba kabur tanpa menjawab pertanyannya malah mempererat cengkramannya sehingga membuat Kartika menyerengitkan dahinya.
"Le-lepaskan. Ka-kamu menyakitiku kak Surya."
"Aku tidak akan melepaskanmu lagi Chika. Tidak akan. Jadi jawab pertanyaanku sekarang!" perintahnya yang semakin mempererat dan mendekatkan tubuh Kartika kepadanya.
"Kak Leo ... hentikan, kak Kartika kesaki-"
"Alice diam!" teriak Leonardo sambil mendelik ke arah Alice dan memotong ucapannya yang belum selesai, "kamu cepat hubungi Andrew dan tanyakan kemana dia membawa Aneta pergi tadi pagi," perintahnya kepada Alice yang hanya bisa menelan ludahnya karena takut. Tanpa melepas cengkramannya, Leonardo kembali menatap ke arah Kartika yang tidak berkutik, "jelaskan padaku sekarang Chika, sebelum aku lebih marah dari ini. Apa maksudmu dengan anak kita? Apa Aneta itu anakku?"
"Sak-it," bisik Kartika dengan air mata yang kembali turun membasahi pipinya.
Leonardo yang tidak suka dengan tangisan Kartika, melonggarkan cengkramannya tanpa melepaskannya, "kumohon, Chika. Katakan padaku."
"Le-lepas"
Sebelum Kartika menyelesaikan kalimatnya, Leonardo melepas cengkramannya dari tubuh Kartika dan roboh kebawah dengan seorang wanita menindih tubuhnya ke bawah.
Kira dengan kekhawatiran yang memuncak masuk ke dalam gedung tinggi yang diberitahukan Kadek padanya, dimana dia segera melajukan mobilnya yang sempat dia ambil di rumah setelah turun dari pesawat. Amarahnya segera menggebu saat melihat Kartika terlihat kesakitan di cengkram oleh seorang pria dengan wajah marah yang mengerikan dan membuat Kartika menangis. Tanpa peringatan, Kira berlari menghampiri si pria dan menendang kuat belakang kakinya dan membuatnya jatuh berlutut di lantai. Saat tangannya melonggar, Kira menarik dengan kasar tangan besarnya dan memelintirnya ke belakang dan merobohkannya sehingga sang pria tersungkur ke depan. Sadar dengan tubuh besar si pria, Kira menindihkan tubuhnya di atas si pria agar terkunci dan tidak bisa bergerak.
"Dia minta dilepaskan sambil menangis, apa kamu tidak dengar?" ucap Kira yang masih memelintir tangan Leonardo ke belakang dan meng-aduh kesakita, "kamu tuli apa bodoh?" lanjut Kira dengan geram.
"Ki-ra, hentikan," bisik Kartika dengan isakannya.
Kira melepaskan Leonardo dan berdiri dari tempatnya sambil mendesis kesal. Leonardo mencoba berdiri dibantu oleh Rekka dengan memberikan tatapan akan membunuh kepad Kira. Kira membuang mukanya dan menoleh kepada Kartika dan Kadek yang kini berjalan mendekatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
His Eyes on Her ✔
ChickLitQuality: Raw Rate:21+ Status: 16 to 16 (Completed) Started: 21 Juli 2016 End: 25 September 2016 Rank: #10 ChickLit 26/09/2016 • Squeal of her sweet breath Menjadi ibu tunggal bukanlah perkara mudah. Ia harus bekerja dan mengurus anak perempuannya...
