Tiga Belas

10.5K 800 25
                                        

WARNING!!! MATURE CONTENT ALERT!!

Khusus bab ini akan ada adegan 21++ dan mohon disikapi yang baik.

Curcol: Sumpah demi apapun, rasanya pingin ubah POV saat di tengah cerita. Berat, dengan POV si cantik. *Smirk*

Music: Two Feet - Go Fuck Yourself

###

"Aku menemukanmu, Chika. Aku menemukanmu."

Suara beratnya terdengar begitu indah di telingaku. Pemilik suara yang kurindukan kini berjalan mendekat secara perlahan ke arahku dengan tatapan intensnya yang berhasil membuat dadaku berdebar tidak karuan. Aku mundur selangkah setiap kali dia maju mendekat. meski aku merindukannya, aku merasa takut saat ini. Sejujurnya aku ingin sekali berlari kepadanya dan memelluk tubuhnya, tapi aku tidak bisa pungkiri saat ini aku belum siap dan ingin berlari darinya. Berlari mejauh untuk mempersiapkan hatiku.

"Su-Sur-Suryani. Na-nama-ku Suryani. Bu-bukan Ch-ika," bisikku pelan dengan terbata-bata.

Seringaiannya muncul dari sudut bibirnya. Dia menarik lenganku, hingga aku tak kuasa tertarik mendekat ke tubuhnya. Tangan kanannya lalu menekan pinggul belakangku, membuatku tidak bisa bergerak. Tangan kirinya membebaskan tanganku dan meraih daguku untuk menatap wajahnya di hadapanku.

"Hum... Suryani? Apa kamu tidak bisa mencari nama lain selain nama Surya?" tanyanya dengan nada mengejek dari setiap kata yang keluar dari bibirnya. Aku tidak menyukainya. Dia membuatku takut. Dia terlihat seperti Leonardo, bukan kak Suryaku.

"Le-Lepaskan. A-Anda Sa-salah orang," ujarku masih terbata sambil mencoba mendorong tubuh hangat yang kurindukan menjauh, dan melirik sekilas ke arah pintu kamarku yang sudah tertutup kembali. Namun semakin aku berusaha, tangannya semakin mendekatkan tubuhku padanya dan mencengkram pinggulku dengan kedua tangannya.

Perlahan kak Surya mendekatkan kepalanya pada tekukan leherku, sehingga abu bisa merasakan hembusan hangat napasnya di dekat kulit leherku. Bahkan aku bisa merasakan ujung hidungnya yang bersentuhan dengan kulitku dan memberikan sensasi yang telah lama tidak aku rasakan.

"Aku tidak pernah salah, Chika. Aromamu masih sama. Aroma yang paling aku sukai," bisiknya dengan suara beratnya. Sentuhan hangat dari bibirnya yang mengecup leherku terasa begitu saja, memberikan rasa tersendiri pada tubuhku.

"Ahh..." mulutku mengeluh begitu saja ketika dia menghisap perlahan leherku, membuat seluruh bulu halus di tubuhku berdiri.

Kak Surya mendongakan kepalanya menatapku dengan tatapan lembut dan sedih yang tidak sanggup aku lihat. Aku mengalihkan pandangan pada kedua tanganku yang saat ini sudah bersandar pada dada bidangnya. Kak Surya meraih daguku, sehingga aku menatap wajahnya kembali. Wajah tampan, mata tajam dan alis tebalnya yang selalu aku sukai sejak pertama kali aku menemukannya di pantai. Wajah pangeranku semakin mendekat kepadaku.

Apa dia akan menciumku? Tidak. Aku tidak siap. Aku tidak ingin dia menciumku dan membuatku menyerah begitu saja.

Aku memiringkan wajahku menghadap ranjang berukuran sedang yang kini sudah ada di samping kami. Mataku terbelalak saat menyadari keadaanku yang sepertinya tidak bisa kabur darinya. Dengan kasar kak Surya meraih daguku kembali dan menghadap padanya. Tanpa jeda dia langsung mengecupku.

Kak Surya mencium bibirku begitu saja membuatku sedikit terperanjat. Rasa takut seketika menjalar di seluruh tubuhku. Bayangan dulu. Bayangan kak Nathan saat memaksaku untuk menciumnya seketika muncul dalam ingatanku.

Aku tidak suka. Aku membenci ini semua.

"Ti... Emm..." Aku mendorong tubuhnya sekuat tenaga. Bibirku terlepas darinya, tapi sesaat. Hanya sesaat dan kini dia menguasainya kembali. Air mataku seketika jatuh pada kedua sudut mataku, "Lepas... Ah... tolon..." isakku mencoba memberontak.

His Eyes on Her  ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang