Pt.6 : Rain

69 14 0
                                    

Aku menatap datar pemandangan sungai itu dengan air mancur warna warni disana.

Banyak taman dan pohon serta orang yang berkencan di sekitar sini. Kelihatannya benar benar indah.

Tidak mungkin kan aku berteriak senang seperti wanita. Aku akui ini memang indah, karena baru kali ini aku melihat sungai han yang asli bukan dari foto. Tapi hanya ini ekspresiku yang bisa menggambarkan semua ini.

"Aku selalu kesini dengan jimin. Tapi kali ini aku kesini denganmu" ujarnya menatapku

Aku mengalihkan pemandangan itu dan menatapnya datar

"Yoongi-ah, mian. Aku belum bisa membalas semua jasamu. Kau ini terlalu baik selalu menolongku" ujarnya

"Aku tidak merasa begitu" ujarku santai dan melihat air mancur disana

"Tapi, aku merasa bersalah. Aku tidak pernah membalas jasamu sedikitpun. Bahkan saat aku ingin menolongmu jim-"

Aku menarik pinggangnya dan menempelkan bibirku pada bibirnya untuk yang kedua kali

Deg!

Jantungku benar benar tidak bisa dikondisikan sekarang. Bibir kami masih bertemu dan akhirnya yejung memejamkan matanya juga. Hanya menempel, tapi ini sedikit lama

Aku melepasnya pelan, dan melihatnya yang langsung tertunduk malu. Kuyakin, pipinya itu sangat merah sekarang

"Jangan pernah bicarakan jimin ketika didepanku" ujarku padanya yang masih menunduk

Ia mengangguk "Aku pulang. Ini sudah malam" katanya tanpa melihatku lalu berjalan melaluiku

"Gomawo" aku berteriak dan dia menghentikan langkahnya lalu berjalan lagi

Aku tersenyum puas sekarang. Balasan itu saja, sudah cukup untukku.

Sejak kapan aku memanggilnya gadis monster, tapi lebih baik aku memanggilnya begitu daripada nama panggilan yang lain

Aku masih memandangi air mancur warna warni di sungai ini sambil membayangkan wajahnya itu.

Kali ini dia tidak marah kkk~ suasana cukup romantis kan?

Dddrrrttt

handphoneku berbunyi, aku melihat siapa yang menelpon

"Rumah sakit jiwa"

Ah tumben sekali menelpon

Ini bukan seperti yang kalian bayangkan, rumah sakit jiwa itu adalah rumah tempat tinggalku. Iyaa, itu telpon dari rumah. Pasti ibuku sedang mencari

Aku segera menggeser tombol hijau "yeoboseo?" Ujarku

"OPPAAAAAAA!" teriaknya dari sana

Aku menjauhkan telingaku dari handphone. Bisa bisa gendang telingaku pecah.
Ah dia itu adikku, benar benar berisik sekali.

Tapi, kenapa dia disini? Bukankah dia itu dirumah sakit? Apa dia sudah pulang?

"Ya! Berhentilah berteriak" ujarku

"Oppa kau tidak merindukanku? Oppa cepatlah pulang, aku punya cerita menarik" ujarnya ceria dari sana

Aku tidak menjawab dan segera memutuskan panggilannya.

"Aku pulang" ujarku malas masuk kedalam rumah sambil membawa sebuah kantong berisi obat

"Oppaa!" Teriak adikku menyambut langsung memelukku manja. dia memang seperti ini

Ibuku sudah duduk di ruang tamu sepertinya sedang menungguku

Aku dan adikku segera duduk disana. Mungkin akan ada pembicaraan yang serius

Destiny.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang