Pt 17 : Not fair

68 6 10
                                    

Aku dan jisy berjalan menuju ke ruang tenis

Jisy terkekeh pelan sambil mengusap keringatnya "haha.. Kupikir kau akan ditolak dengan pelatih tadi"

"Ey, mana mungkin. Pelatih juga tau jika aku termasuk pemain terbaik" jawabku sambil menyombongkan diri

"Tch. Tapi kau tidak lebih hebat dariku" balas jisy dengan tatapan kesalnya

"Arasseo, arasseo"  aku kemudian terkekeh

"Aku tadi sangat tidak mengerti bagaimana pelatih bisa memafkanmu secepat itu" jisy menatapku bingung

Aku menatapnya balik "aku juga tidak mengerti. Kau tau, kupikir aku akan mengemis dulu atau lebih dari itu"

"Tapi ternyata-" jisy menggantungkan kata katanya

"Ternyata, benar benar diluar pikiranku" aku melanjutkan dan jisy hanya mengangguk

Ketika sampai di ruang tenis aku dan jisy segera menuju loker kami masing masing.

Aku heran, biasanya mereka langsung pulang, tapi kenapa mereka -anggota tenis- betah disini sekarang? Ya Walaupun ruangannya cukup lebar. Tetapi jika semuanya masuk, ruangan ini tetap akan terasa sempit dan pengap

Terlebih lagi, kami semua baru menyelesaikan latihan hari ini. semuanya berkeringat dan bau. Ah rasanya aku tidak betah

Hari pertama setelah aku libur sendiri 3 hari yang lalu. Aku merasakan pegal disekitar lenganku

"padahal aku hanya tidak latihan selama 3 hari" keluhku sambil memijat pundakku dan segera membuka lokerku

"Eh, tidak ku kunci tadi?" Ujarku bingung saat mendapati lokerku yang sudah terbuka sedikit.

"Aku benar benar meletakkannya disini. Aku tidak lupa" ucap seseorang itu hampir menangis

Aku mencoba mencari sumber suara

Dan tenyata jae in yang sedang mencari sesuatu didalam lokernya

"Coba kau cari lagi lebih teliti" ujar jisy

"Ada apa?" Tanyaku tiba tiba

"Ah, eonni. Kalungku hilang" jawab jae in dengan suara parau

"Tidak hilang. Hanya lupa meletakkan saja" jisy membalas dengan cuek

"Kalung?" Aku mengernyitkan alisku

"Eoh. Kalung yang waktu itu aku beritahu padamu" ucapnya kemudian mencari kalungnya disekitar lokernya lagi

"Kalung yang diberikan ayahmu sebelum dia meninggal?" Tanyaku

"eoh, aku tidak tau kemana perginya. Tapi eonni, aku benar benar tidak lupa meletakkannya" jawabnya

Aku melihat sekelilingku, dan berjalan menuju pintu keluar dan menguncinya

"sekarang, siapapun itu, tidak ada yang boleh keluar ruangan ini sebelum kita periksa seluruh loker dan tas kalian" teriakku setelah aku mengunci pintu

"hey, ada apa ini! Memangnya akan ada razia saat di ruang tenis juga" teriak salah satu anggota

"ani. Teman kita kehilangan kalung berharga miliknya, aku tidak yakin jika dia lupa meletakkan kalungnya, pasti ada salah satu disini" jelasku

"jadi kau menuduh kami mencuri?!"

Aku menghembuskan nafasku "maka dari itu kita akan mencarinya sekarang"

Cklek

Suara pintu toilet terbuka dan menampilkan seorang yang memakai baju tenis dan celana hotpans seraya merapikan rambutnya

Destiny.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang