Part 1 (He is My Hyung)

2.2K 94 3
                                        

Donghae, namja kelas X-A yang terkenal hyperaktif itu sangat disenangi siswa disekolah ini. Selain pintar ia juga memiliki tampang yang manis. Kegiatan ekstrakulikuler dance yang ia ikuti menambah nilai plus untuk Donghae. Meskipun banyak mata yang menganggap Donghae sempurna, donghae sendiri tidak melihat dirinya seperti itu. Bahkan Donghae sangat rendah hati, ramah, sedikit pendiam dan ya walaupun sedikit nakal.
"Donghae-ya.!"
Tepuk Hyukjae pada pundak Donghae yang hampir membuatnya tersedak.
"yakk kau!" Hyukjae hanya tertawa melihat wajah kesal Donghae. Hyukjae ikut menyantap makan siangnya disamping Donghae.
"kau tidak bersama siwon?"
"aniya. Dia bilang mau keperpus." Hyukjae sahabat Donghae dari kecil yang dipertemukan lagi oleh Tuhan disekolah ini. Saat sempat berpisah 10 tahun mereka dipertemukan kembali.

TAK

Seorang namja meletakan minuman kalengnya dengan keras. Donghae dan Hyukjae langsung menatap kearah namja yang sudah mengganggu makan siangnya.
"ada apa sunbae?" tanya Donghae dengan ramah pada tiga namja yang ada didepannya.
"Bisakah kalian berdua menyingkir? Ini tempat kami.!" Ujar salah satu dari ketiganya. Donghae merubah mimik wajahnya yang ramah menjadi sinis. Ia menyesal sudah berbicara baik-baik dengannya. Hyukjae juga memandang namja itu dengan tatapan tengilnya.
"hei yang pertama menempatilah yang berhak duduk disini. Jika kalian ingin gabung ya duduk saja aku tidak melarangnya."
"ne tidak usah mengusir.!" Tambah Hyukjae. Terlihat 3 namja itu nampak tertawa kecil. Hilang sudah selera makan Donghae. Namja bermata sipit dan bertubuh tinggi besar yang sering disapa Changmin itu menatap sinis kearah Donghae. Oh ya karna kepopuleran Donghae disekolah ini mengundang banyak siswa yang menyukainya tapi tidak menutup kemungkin siswa yang membencinya. Hal itu sudah sewajarnya bagi siswa seperti Donghae tak jarang ia menerima bullyan dari sunbaenya.
"Ku bilang menyingkir.!"
"TIDAK!" donghae tetap bersikeras. Kantin ini tempat umum bagi siswanya. Tidak ada hak maupun larangan bagi siapa yang mau mendudukinya.
"Hei kau ini masih kelas satu saja sudah belagu eoh.!" Seru namja pirang keturunan chinesse yang sering dipanggil Tao.
"apa susahnya sih tinggal pergi saja.!" Tambah Kai namja bertubuh sedikit lebih gelap dari kedua temannya.
"percuma kalian mau ngusir kami kami tidak akan pernah pergi dari sini. Ya kecuali jika kalian dengan senang hati menunggu kami sampai selesai makan." Ujar Donghae sambil memasukan potongan dagingan kemulutnya. Hyukjae hanya menggelengkan kepalanya jika melihat Donghae yang sudah keras kepala. Nampaknya ketiganya mulai kesal dan mulai diremehkan. Astaga Donghae apa kau tidak tau siapa mereka? Mereka adalah anggota The Range. The Range adalah sebutan club basket mereka. Siapa yang tidak kenal The Range? Kumpulan namja tampan dan berbakat dalam dunia basket. Sering meraih juara dan membawa pulang piala emas.

BRAK

Kai menggebrak meja didepannya membuat seisi kantin menatap kearah mereka. Donghae pun melempar sumpit yang ia pakai untuk makan. Donghae benar-benar kehilangan selera makannya.
"lama-lama kau semakin kurang ajar eoh!" gertak Kai.

BRAK

"kau pikir kau siapa biasa seenaknya dengan kami ha?!" Donghae menggebrakan mejanya dan berdiri menyamakan kai yang tengah menatapnya. Suasanan kantin yang ramai berubah hening. Hyukjae mulai tidak nyaman dengan suasana seperti ini. Ia menahan Donghae yang mulai emosi. Hyukjae menarik Donghae pergi dari kantin. Walaupun awalnya Donghae tetap bersikeras tapi Hyukjae dapat menariknya menjauh dari mereka. Lebih baik mereka pergi daripada berurusan dengan mereka.
"Siapa sih dia?" tanya kai yang sudah duduk ditempat yang diperebutkan tadi.
"Donghae. Lee Donghae. Namja kelas XI-IPA."
"Omo kau tau tentang anak itu changmin-ah?"
"aish aniya. Aku pernah melihatnya masuk kekelas itu."
"Dia anak Club Dance. Ku dengar banyak siswa yang menyukainya." Tambah Tao. Changmin nampak memberikan senyuman sinisnya saat melihat perdebatan barusan. Senior selalu menang.

Hyukjae menutup kupingnya sedaritadi. Ya, semenjak keluar kantin Donghae tidak henti-hentinya mengumpat. Hyukjae yang berada disampaingnya seakan menjadi bahan pelampiasan Donghae.
"Kau ngertikan hyuk?!"
"Ah? I-ia aku mengerti." Jawab Hyukjae. Entah apa yang Donghae katakan Hyukjae tidak dengar.
"yak kau kenapa hae-ya? Kau tidak kasihan memarahi hyukjae terus-terusan?" muncul Siwon yang baru saja dari perpus. Saat masuk kelas siwon melihat Donghae yang terus berbicara sementara Hyukjae menutup kupingnya.
Donghae menatap Hyukjae dengan kasihan. Hah, dia kelepasan sampai membuat Hyukjae diam seribu kata.
"mianhae hyuk." Sesal Donghae.
"gwaenchana hae, apa kau sudah lega apa masih mau marah-marah??"
"ani." Ujar Donghae dengan seutai senyuman.
"baguslah. Kau tau hae? Aku lebih rela mendengar omelanmu daripada kita berurusan dengan mereka."
"mereka?" tanya siwon.
"ne kau tau club The Range? Donghae baru saja membuat masalah dengan salah satu anggotanya."
"Yaakk itu tidak benar eoh.!!" Elak Donghae. Donghae tipikal orang yang tidak mau disalahkan jika menurutnya itu tidak benar. Apalagi meminta maaf padahal ia tidak melakukan kesalahan. Itu hal pantang bagi Donghae.
"jangan memulai membuat masalah Donghae-ya!"
"aku tidak memulai wonni.!"

Hahh

Siwon menghela napas dengan berat. Anak ini memang sangat keras kepala. Hyukjae hanya tertawa melihat siwon yang kalah debat dengan Donghae.
.
.
.

Donghae melangkah masuk ke rumah seperti biasa rumahnya dalam keadaan kosong, sepi, dan sunyi. Rumah yang sempat ramai dan terisi kebahagiaan kini hanya ada kesunyian. Donghae menggubris ingatannya beberapa tahun lalu dengan Jungsoo hyung yang sekarang adalah hal mustahil. Setelah mengganti seragamnya dengan baju santai Donghae mendudukan dirinya disofa sambil menonton tv.
Ckrek
Suara pintu terbuka berbunyi ternyata Jungsoo sudah pulang dari kantornya.
"Hyung sudah pulang? Mau ku buatkan teh hangat?" tawar Donghae. Jungsoo tidak menjawabnya melainkan hanya melepas sepatunya.
"hyung kau belum makan kan? Mau ku buatkan ramen??" jungsoo masih tidak menjawab pertanyaan Donghae.
"hyung..." lirihnya kali ini. Beberapa tahun ini Jungsoo lebih banyak diam dengan Donghae. Entah apa penyebabnya Jungsoo tidak pernah mau mengatakannya. Jika bersama Donghae saja Jungsoo tidak banyak bicara tapi jika Lee Sunhae sedang dirumah Jungsoo bisa menjawabnya walaupun hanya beberapa kata. Jungsoo beranjak dari tempat duduk hendak bergegas ke kamarnya, namun suara Donghae mempu menghentikan langkahnya.
"hyung. Sebenarnya kau kenapa? Apa salahku? Kenapa kau mengacuhkanku seolah-olah aku tidak ada. Kau tau hyung, dulu kaulah segalanya bagiku. Kaulah hyung satu-satunya yang kusayang." Jungsoo masih berdiri membelakangi Donghae mendengarkan semua keluh Donghae. Tapi beberapa detik kemudian Jungsoo kembali melangkahkan kakinya ketempat tujuan awalnya. Donghae menundukan kepalanya menahan sesuatu yang mendesak ingin keluar dari matanya. Selama ini Donghae sudah menahan rasa sakitnya. Ia tetap bersikap baik, ramah seakan-akan tidak terjadi apa-apa antara keduanya tapi percuma. Jungsoo tetap bersikap dingin dengannya.
Dikamar, jungsoo melempar tasnya ke tempat tidur dengan keras. Ia melepas dasinya dengan kasar. Ia menatap cermin yang memantulkan wajahnya yang berubah menyeramkan. Kata-kata Donghae barusan masih terngiang-ngiang ditelinganya. Ia mencoba menutup kedua telinganya dengan tangannya. Selama ini Jongsoo tidak pernah kuat mendengar lirihan serta tatapan tak berdosa seorang Donghae. Jungsoo lebih memilih menghindar daripada ia harus melihat apa yang ia tidak bisa lihat. Jongsoo memang membencinya tapi ia tidak bisa menghilangkan rasa sayang yang sering muncul. Bagaimanapun juga Donghae adalah seseorang yang pernah ia sayang.
"kenapa hae? Kenapa kenyataanya tidak seperti yang kuharapkan.!"

BRAk

Jungsoo memukul cermin dihadapannya. Syukurlah cermin itu tidak kenapa-kenapa. Setelah perceraian Lee Sunhae dengan Lee Haejoo 12 tahun lalu Jungsoo mulai menjaga jarak dengan Donghae. Namja polos yang masih berusia 5 tahun. Karena Donghae Lee Haejoon menceraikan Lee Sunhae. Jungsoo sendiri tidak tau kenapa sang appa begitu membenci bocah kecil polos yang tidak tau apa-apa itu. Awalnya Jungsoo tidak pernah mau menyetujui perceraian mereka. Jungsoo tidak terima ia tidak mau keluarganya terpecah belah.

"suatu saat kau pasti mengerti Jungsoo."

Kata-kata terakhir yang Jungsoo ingat dari Lee Haejoo semakin membuatnya tidak terima. Kenapa mereka memutuskan untuk bercerai saat mereka masih kecil? Umur jungsoo bahkan masih menginjak 10 tahun. Tapi satu hal yang membuat Jungsoo semakin benci dengan keluarganya. Lee Donghae. Adik kecilnya yang selalu disebut-sebut sang appa sebagai alasan ia menceraikan Lee Sunhae.
Jungsoo memlempar pandangannya pada sudut lain berusaha menghilangan ingatan itu. Ia menarik napas panjang membiarkan udara mengalir pada hati dan pikirannya.
.
.
.
Tbc..

Beloved BrotherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang