Semalaman Harry menemani Lily di atas ranjang rumah sakit sambil terus memeluknya. Malam ia bangun dari koma, Lily mengalami kejang saat tidur. Hermione yang tepat sedang menyantap makan malamnya bergegas meminta pertolongan dokter untuk memeriksa.
Badan Lily terguncang hebat. Hidungnya keluar darah yang tidak sedikit dan terus mengalir. Harry yang baru datang dari Kementerian hanya bisa memeluk Hermione sembari berharap tidak akan terjadi apa-apa dengan Lily. Namun, setelah mendapat pemeriksaan, Lily tidak sedang mengalami kejang biasa. Ada reaksi aneh dari tubuhnya yang tiba-tiba menolak segala obat yang diberikan melalui selang-selang di tubuhnya.
"Ini sangat berbahaya, Mr. Potter. Kita tidak bisa melanjutkan pemberian obat pada tubuh Lily jika tubuhnya terus menolak,"
Oleh sebab itu, Dr. Hans meminta Harry untuk menandatangani surat ijin operasi untuk Lily yang kedua kalinya. "Operasi kali ini tidak seberat operasi pertama. Kami hanya akan mengambil sedikit jaringan di otak Lily," kata dr. Hans.
Operasi Lily hanya berjalanan sekitar satu setengah jam saja. Dan demi kebaikan pemantauan kondisi pasca operasi, Lily ditempatkan di ruang steril yang khusus untuk pasien penyakit dalam sepertinya.
Hermione mendengarkan segala penjelasan dr. Hans ketika hasil akhir kondisi otak Lily telah keluar. Lily mengalami infeksi pada selaput otaknya. Operasi kedua hanya mampu menghambat dan membersihkan beberapa bagian yang lebih rawan. Tim bedah tidak ingin mengambil risiko besar yang bisa mengakibatkan Lily gagal berkembang bahkan mengancam nyawanya.
"Saya tidak tahu apakah Lily kali ini bisa bertahan, saya harap, kehadiran orang tua dan keluarga dapat membuatnya kuat menjalani hari-harinya,"
"Maksud dokter, Lily akan—"
"Semua orang pasti akan pergi, Mr. Potter. Namun untuk Lily, berdasarkan kondisinya saat ini, saya katakan.. Lily hanya bisa bertahan beberapa bulan lagi," dr. Hans menutup map berisi data perkembangan Lily sejak ia dirawat hingga tahap operasi terakhir.
Semua hasil telah menunjukkan bahwa Lily hanya membutuhkan semangat orang-orang terdekat untuk mengantarkannya lebih tenang saat waktunya tiba. Harry dan Hermione mulai paham bagaimana dokter menyampaikan analisisnya begitu sopan dengan memilih mengatakan kata 'pergi' daripada 'mati'.
Hermione menegakkan posisi duduknya. "Saya sedang hamil lima bulan, dokter. Apakah," Hermione menghapus bulir airmatanya yang lolos, "Lily bisa melihat adiknya lahir?" wajah Hermione memerah menyiapkan mentalnya demi mendengar jawaban dokter tentang kapan waktu itu tiba.
Dr. Hans menghela napasnya berat. Menatap Hermione sejenak kemudian menunduk. Ia menggeleng. Tidak bisa lagi ditahan jika airmata itu tetap menggenang, tangis Hermione pecah di dada Harry. Menangisi sesuatu yang sangat menyakitkan, ya.. hidup Lily tidak lama lagi.
"Kau kenapa, sayang? Mau sesuatu?" tanya Hermione di sisi lain Lily.
Lily mengangguk pelan, "aku mau makan pasta, apa boleh?" suara Lily terdengar mengganjal ditenggorokan. Matanya selalu berkaca-kaca merasa panas di sekitar dahi hingga belakang telinga, tepat di bekas operasi keduanya.
"Boleh. Dokter bilang kau boleh makan apapun. Biar Dad belikan di cafe bawah, ya—"
"Biar aku saja, Harry. Posisimu sudah nyaman, kasihan kalau Lily harus berdiri lagi. Kepalanya jangan dulu diangkat-angkat. Biar aku sekalian olahraga, lama tidak jalan-jalan," kata Hermione meyakinkan agar Harry tetap menemani Lily di kamar.
Lily sudah berganti ke kamar sebelumnya. Meski kedua tangan Lily masih terpasang selang-selang yang menyambungkan pada sistem monitor di sisi ranjang, kondisi Lily sudah dirasa cukup kuat untuk menjalani perawatan di ruang biasa. "Hati-hati, Mom," pesan Lily masih bersandar di atas dada Harry.
KAMU SEDANG MEMBACA
Would You Still Love Me the Same? (a Harmony fanfiction)
Fanfiction"Anak yang akan lahir itu akan menanggung kecerobohanmu!" Hermone membuat 'kesalahan besar' yang mengantarkannya bersatu dengan cinta sejatinya, Harry Potter. Mengantikan posisi Ginny di hati Harry dan ketiga anaknya. Dan kesalahan itu, Li...
