4. Mummy!

1.4K 138 2
                                        

Setelah hari di mana Lily diketahui benar-benar seorang squib, hanya jeda satu hari saja, seluruh keluarga Weasley-Granger mengetahui segalanya. Semua keluarga terkejut bukan main. Terutama Hugo. Ia sangat sedih mengingat Lily dan dirinya begitu tak sabar berangkat ke Hogwarts, namun setelah semua mengetahuinya, Hugo akan pergi sendiri di tahun pertamanya nanti. Tidak akan ada kenangan melihat Lily di seleksi, melihat apakah tebakan mereka masuk di asrama Gryffindor itu benar. Semua tidak akan pernah terjadi. Hugo dilanda rasa sedih yang mendalam.

Harry meminta untuk siapapun sementara waktu tidak membicarakan masalah diri Lily pada khalayak ramai. Walaupun memang itu pekerjaan yang sulit mengingat apapun yang dilakukan seorang Harry Potter akan jadi berita besar di Daily Prophet. Apalagi masalah besar seperti ini.

Pencegahan lebih utama. Apalagi mencegah para pewarta Daily Prophet serta majalah-majalah gosip sihir lainnya mengendus tentang masalah ini. Oleh sebab itu, Harry sering memberikan penjagaan di sekitar rumahnya agar tidak sembarangan dimasuki oleh penyihir. Bahkan karena terlalu protektifnya, Harry tidak jarang memasang anti-Apparation di rumahnya sendiri.

Surat panggilan ajaran baru bagi James dan Al tiba pagi ini. Lily tidak berkomentar saat James membacakan buku apa saja yang harus ia dapatkan sebelum kembali ke Hogwarts nanti. Padahal, biasanya Lily terus bertanya ini itu mengenai apa saja pelajaran yang diajarkan dengan buku-buku pelajaran sihirnya.

Al, yang duduk di depan Lily mendesah lemah sambil terus mengaduk-aduk supnya. Ia tak tega terus melihat adiknya seperti itu. Lily sempat melihat Al, menatapnya singkat lantas kembali menunduk. Mata Lily bengkak, Al yakin Lily kembali menangis semalaman. Sama seperti sebulan yang lalu saat Lily tahu dirinya seorang squib.

"Kita akan cari perlengkapan sekolah kalian setelah sarapan ke Diagon Alley. Semuanya ikut seperti biasa, kan?" tanya Harry namun tak ada yang berani menjawab. Entah takut, atau tidak enak hanya untuk menjaga perasaan Lily. Tidak jelas sama sekali.

Suasana sarapan pagi ini semakin kaku saja, Hermione paling tidak suka jika semuanya semuanya memberi jarak dengan Lily. "Tidak, aku dan Lily akan di rumah saja. Kami berdua punya kepentingan lain. Urusan perempuan. Kalian bertiga berangkatlah. Jangan lupa, seperti biasanya, nanti pulang bawakan es krim kesukaan Mom dan Lily—"

"Aku tak mau es krim," potong Lily lantas beranjak dari kursinya. "Aku sudah kenyang.. aku sedikit tak enak badan," dan ia bergegas naik ke lantai dua.

Harry tampak mengurut pelan bekas lukanya. Ia sedih memikirkan masa depan putrinya akan hancur jika tetap bersentuhan dengan dunia sihir dengan keadaan seperti itu. Hermione benar, beberapa hari lalu ia merundingkan masalah Lily untuk pelan-pelan dijauhkan dengan segala hal yang berhubungan dengan sihir.

"Apa ini baik? Sejak kecil ia bahkan jauh lebih akrab dengan sihir daripada teknologi, Mione. Dan kita sekarang memasukkan dia ke sekolah teknologi?" Harry menutup bukunya. Sebelum pembicaraan keduanya semakin serius, Harry sudah bersiap memasang mantera di sekeliling kamar. Untuk jaga-jaga, agar tidak ada satu orangpun dari luar yang mendengar keduanya merencanakan sesuatu untuk Lily.

Dahi Hermione berkerut. "Lalu bagaimana? Ini hanya sementara, Harry. Kita akan membuat Lily lebih nyaman dengan lingkungannya. Terbiasa dengan orang-orang yang akan dekat dengannya nanti. Lily anak yang pintar, Harry. Kau lihat sendiri saat ia seleksi masuk kemarin, hasilnya sangat.. amat sangat memuaskan. Dan menurut Mom dan Dad, ANS Technology School itu adalah salah satu secondary school terbaik di Inggris. Tidak sembarangan anak-anak bisa masuk ke sana,"

"Tapi, kita saja menghabiskan masa-masa secondary school kita di Hogwarts. Bagaimana mau memantau sekolah Lily kalau kita tak punya pengalaman? Sedangkan aku saja hanya sampai primary scho—"

Would You Still Love Me the Same? (a Harmony fanfiction)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang