Andin sangat bersemangat hari ini karena barusan Bian menghubunginya dan mengatakan akan menjemputnya. Andin begitu bersemangat karena seminggu ini Bian selalu sibuk sehingga mereka sulit bertemu. Walau banyak sekali sebenarnya perasaan janggal yang Andin rasakan terhadap Bian, namun ia tidak ingin merusak pertemuan mereka hari ini. Ia tidak sabar menanti Bian.
Yang ditunggu akhirnya tiba. Bian datang dan Andin langsung menghambur ke kekasihnya tersebut.
"Hei... " Sapa Andin dengan senyum bahagia. Bian membalas senyuman tersebut dan menggandeng tangan Andin.
"Kita makan keluar yuk. Sekalian ada yang mau aku bilang." Perkataan Bian langsung membuat Andin penasaran. Kira-kira Bian mau bilang apa?
"Oke.. " Merekapun bergegas ke tempat makan favorite mereka berdua.
Andin sempat memiliki harapan bahwa Bian akan melamarnya. Tapi sedetik kemudian ia berpikir bahwa itu tidak mungkin mengingat dirinya yang akan dijodohkan dengan Andri. Andin belum berhasil membujuk mamahnya. Dia juga gagal mengajak Andri bekerja sama. Mengingat perjodohan itu membuat suasana hati Andin memburuk. Untunglah ada Bian disampingnya saat ini.
Mereka tiba di restoran tersebut dan memesan makanan. Selanjutnya mereka menikmati hidangan sambil diselingi dengan obrolan-obrolan singkat.
Bian tahu bahwa apa yang akan disampaikannya akan terasa berat. Tapi mau tidak mau ia harus mengatakan hal tersebut pada Andin. Selesai menyantap makanan, Bian memutuskan untuk langsung memberitahu pada Andin tentang keputusannya.
"Ndin.. " Ujar Bian sembari menggenggam tangan Andin. Ia bingung harus mulai darimana. Andin menatap mata Bian sambil tersenyum manis. Entah harus bagaimana Bian menghadapi kekecewaan yang akan Andin rasa setelah mendengar ucapannya.
"Aku dapat promosi dari kantor." Bian membuka pembicaraan.
"Oh ya? Selamat!" Andin tersenyum bangga menatap kekasihnya. Tapi Bian tidak. Andin tidak tahu apa yang akan dihadapinya.
"Makasih. Aku terima tawaran sebagai kepala cabang setelah selama ini selalu aku tolak."
Andin terlihat bingung. "Posisinya bagus tapi kenapa kamu tolak terus, Bi?"
Bian terdiam. Berpikir namun ia harus terbuka kepada Andin apapun yang akan terjadi nantinya. "Karena kamu, Ndin."
Andin terkejut akan jawaban Bian. "Kok aku? Memang pengaruhnya sama aku apa, Bi?"
"Aku gak mungkin ninggalin kamu jauh. Jadi aku tolak. Tapi sekarang udah gak ada alasan lagi." Andin tidak paham dengan jawaban samar Bian. Ia menanti Bian memberi penjelasan lebih.
"Aku di tawarin posisi sebagai kepala cabang yang ditempatkan di Makassar, Ndin. Jadi aku akan dimutasi ke Makassar jika aku menerima tawaran ini. Dan sebelumnya aku tolak karena aku gak bisa ninggalin kamu. Tapi sekarang situasinya udah berubah dan setelah cukup lama mempertimbangkan, akhirnya aku ambil tawaran tersebut." Jelas Bian.
Sekarang Andin paham. Walau ia tidak mengerti dengan yang Bian maksud situasi berubah. Bukannya mereka masih sama?
"Apa maksudnya situasi berubah, Bi? Aku masih gak mau kamu tinggal."
Bian ragu apa ia harus menceritakan masalah beberapa bulan yang Andin lupakan. Tapi hanya itu cara agar Andin paham.
"Ndin.. Masalah perjodohan kamu dan Andri ini bukan yang pertama kalinya."
"Maksud kamu, Bi?"
"Kamu dan Andri sudah lama dijodohkan. Hampir 6 bulan yang lalu mungkin Ndin. Awalnya kamu menolak tapi akhirnya kamu milih Andri."
KAMU SEDANG MEMBACA
Mama Cupid
RomanceAndri & Andin, 2 orang yang terjebak dalam permainan kedua ibu mereka. Mereka dijodohkan bahkan dijaman yang sudah modern ini. Keadaannya menjadi sulit karena Andin sudah memiliki kekasih yang telah 7 tahun bersama. Dan Andri juga memiliki wanita ya...
