Sudah 2 minggu Andin tidak bertemu dengan Andri karena Andri sedang ada urusan bisnis di New York. Mereka hanya saling berkomunikasi melalui chat messager dan video call. Andri baru akan pulang 3 hari lagi dan Andin sudah tidak sabar untuk menunggu. 3 hari terasa seperti 3 bulan untuk Andin saat ini karena ia sangat merindukan Andri.
Dua minggu ini Andin sering uring-uringan dan kadang melamun. Ia tidak paham apa yang terjadi terhadap dirinya tapi ia merasa bahwa itu ada hubungannya dengan ketidakberadaan Andri disisinya. Walaupun tidak jarang pertemuan mereka diisi dengan perdebatan kecil yang kadang tidak penting namun Andin sesungguhnya menyukai setiap moment ketika bersama Andri. Andri selalu membuatnya merasa tenang, selalu bisa membuatnya tertawa, membuat Andin ingin sekali saja waktu berhenti ketika bersama Andri. Entah sejak kapan, Andin merasa bahwa ia membutuhkan kehadiran Andri. Dan 2 minggu ini Andri sudah absen dari hadapannya dan Andin sudah tidak tahan harus menunggu 3 hari lagi. Ia rindu Andri walau ia sendiri tidak pernah menyampaikan langsung kepada Andri.
"Eh, mau mampir ke Cafe baru didepan kantor gak?" Laras menghampiri kubikel Andin dan menyadari bahwa anak itu sedang melamun dari tadi.
Laras berdehem mencoba menyadarkan anak itu dari lamunannya tapi usahanya gagal karena Andin masih tenggelam dan dunianya.
"Eh Andri!" Cetus Laras tiba-tiba yang langsung disambut semangat oleh Andin. Andin langsung bangkit dan mencoba mencari sosok Andri tapi yang ditemukan malah rekan kerjanya.
Andin menatap wajah Laras jengkel. "Rese lo." Ia kembali duduk dengan tidak semangat.
"Loh kok marah? Yang tadi itukan emang bener namanya Andri." Laras tidak tahan lagi menahan tawanya karena melihat Andin uring-uringan karena Andri.
"Iya tau. Tapi biasanya juga kalo liat gak sampe teriak gitu kan." Andin kemudian mengecek ponselnya untuk melihat apakah Andri menghubunginya. Tidak ada pesan yang masuk. Ini sudah hari kedua Andri tidak menghubunginya padahal sebelumnya Andri selalu mengabarinya.
"Sibuk kali, Ndin." Laras seperti mengerti kegalauan yang dialami sahabatnya itu. "Daripada galau mending kita makan yuk."
Setelah menimbang ajakan Laras, Andinpun memutuskan ikut Laras daripada ia harus stres dan uring-uringan tak menentu menanti kabar Andri.
"And by the way..ada yang harus gue ceritain ke lo, Ndin." Laras yang tadi ketawa-ketawa dan bersemangat tiba-tiba jadi serius dan nada bicaranya berubah jadi murung. Dan Andin tahu pasti ada yang serius yang ingin Laras sampaikan.
***
Kesibukan Andri selama di New York sangat padat sama seperti lalu lintas di kota tersebut. Ia sudah disana selama dua minggu dan 3 hari lagi akan pulang ke tanah air. Pulang ke rumahnya. Ke Andin. Wanita yang sangat ia rindukan dan yang membuatnya merasa tersiksa selama di New York.
Dua hari ini ia tidak bisa menghubungi Andin karena jadwalnya yang sangat padat, ia bahkan lupa untuk menyentuh ponselnya. Semua urusan bisnis ini sangat menyita waktu dan menguras tenaganya. Ia bahkan belum sempat untuk sekedar menikmati kota New York. Walaupun bukan itu yang paling ia inginkan. Yang ia inginkan bisa segera menyelesaikan urusan bisnisnya dan pulang ke Indonesia karena disana ia bisa bersama Andin, wanita yang sangat dicintainya.
Andri baru selesai meeting dengan client penting dan meeting kali ini adalah penentuan deal atau tidak investor tersebut untuk menaruh saham di perusahaannya. Semua berjalan lancar dan sesuai rencana. Investor deal dengan angka yang diminta dan Andri akhirnya bisa bernafas lega bukan hanya karena perusahaannya baru mendapat pemasukan jutaan dollar tapi juga karena ia bisa segera pulang untuk menemui Andin. Ia pulang lebih cepat dari yang direncanakan. Can't wait to see you, Ndin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mama Cupid
Roman d'amourAndri & Andin, 2 orang yang terjebak dalam permainan kedua ibu mereka. Mereka dijodohkan bahkan dijaman yang sudah modern ini. Keadaannya menjadi sulit karena Andin sudah memiliki kekasih yang telah 7 tahun bersama. Dan Andri juga memiliki wanita ya...
