Sudah berapa ratus hari yang aku lalui sendiri tanpa canda, tawa, senyum dan dirinya. Biarkan diriku saja yang merasakan betapa sakitnya hati ini menanggung kerinduan mendalam yang tak tersampaikan. Air mata penyesalan atas keputusan yang kubuat dulu saat kita baru memulainya.
Andai, saat itu aku tidak membiarkan dirimu masuk ke dalam rasa yang tak seharusnya ada. Rasa yang tercipta karena kita sama-sama merasa ingin mencoba sesuatu itu.
Cinta?
Saat itu kita hanya remaja 16 tahun yang tidak tahu apa arti cinta, yang kita tahu hanya rasa ingin bersama dan bahagia.
Semua salahku.
Biarkan saja aku yang pergi, rasanya di sisa masa sekolah kita dulu aku jalani dengan berat membuatku lelah. Aku tidak mau membiarkan dirimu masuk lagi dalam hubungan yang tak semestinya ini. Sesuatu yang pernah dia katakan bahwa jodoh memang tidak ke mana-mana, akan kembali ke semestinya.
Seperti Nabi Adam yang bertemu lagi dengan Siti Hawa, itu yang dikatakannya saat kami harus mengakhiri hubungan itu.
Biarkan diriku menghapus rasa ini sendiri, menjauh darinya, melupakan semua tentangnya, dan bagian dari masa indah remajaku. Aku hanya butuh waktu untuk membunuhnya. Jika dibiarkan pasti perlahan akan menghilang rasa sayang itu kan?
Dua tahun rasanya cukup, aku tak sanggup lagi melihat tanpa menyapa dan berbicara. Saat aku tahu betul perasaanku hanya untuknya, tidak berubah sedikit pun. Beberapa bulan terakhir ini, kukira setelah pergi jauh akan bisa melupakannya.
Angan tinggal kenangan. Aku malah semakin tidak kuat, tidak bisa melupakannya begitu saja. Perasaan yang masih sama pada orang yang sama. Aku tidak tahu apakah orang itu masih mengingatku, setelah aku meninggalkannya tanpa kata-kata dan jejak.
Aku sudah pergi tanpa izin, kalau aku kembali padanya tidak perlu memberinya penjelasan lagi kan? Semakin dia membenciku dan marah. Akan sangat mudah melupakanku, aku juga akan mudah melupakannya.
Tapi kenyataannya, bayangan dirinya tak pernah luput setiap detikku. Akan kucoba menghapus bayangannya lagi, agar aku bisa melangkah ke depan. Entah harus menghabiskan waktu berapa lama lagi.
Terima kasih, Arya, atas rasa dan kenangan yang pernah kau berikan untukku yang begitu indah. Sampai di umurku yang sudah bukan remaja lagi, aku masih mengingat semuanya.
💙💙💙
"Waaaa! Coba lihat gue bawa siapa???!"
Bosan sudah terlalu sering duduk di kedai kopi memandangi jalanan lewat jendela, kali ini aku diseret paksa oleh Niken --teman lamaku saat kami masih sama-sama di Sekolah Alam Permata Hijau. Kami lumayan akrab karena dari TK hingga SMP, kami selalu berada di kelas yang sama.
Tadi aku bertemu dengan dirinya di depan kedai kopi Sweet n Sweet. Ternyata Niken belum mau move on dari kota ini, Sukabumi. Yup sekarang aku berada di kota di mana dari TK aku berkembang sampai remaja awal.
Niken masuk ke universitas yang lebih terkemuka, dia memilih masuk jurusan Biologi. Ternyata belasan tahun sekolah di alam, cewek itu masih ingin terus bermain dengan alam, berbeda denganku. Berkat dua tahun duduk di jurusan IPS, aku nyasar memilih kuliah jurusan advertising.
"Anjir! Anjir!! Sashi!!!"
Tidak kusangka di depanku kini berdiri sosok cewek memakai almamater universitas, aku sempat mencoba mengingatnya. Kami membuat kehebohan sesaat kala aku mengingat dirinya sebagai Giana.
"Gigi!!!!" Aku memeluknya heboh, dia membalas pelukanku. Kami menjerit-jerit sampai menjadi bahan tontonan. Mungkin mereka berpikir bahwa kami seperti anak kampung yang ketemu di tengah kota.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sashi
Teen Fiction📌 Listed to @WattpadRomanceID Reading List Kategori Kisah Klasik di Sekolah edisi Januari 2022 ** Di tahun keduanya Sashi bersekolah, entah mengapa rasanya dia ketiban sial saat namanya berada di daftar murid kelas 11 IPS 5. Kelas paling bontot da...
