part 1

147 24 26
                                        

"Happy Birthday, Jihan!" nyanyian teman-teman Jihan di hari ulang tahunnya. Terdapat Garuda, Laskar dan juga sahabat terbaiknya, Iva.

"Make a wish nya dulu donggg baru tiup lilin-nya." teriak salah satu teman Jihan

Jihan berkata dalam hatinya."Ku harap ketika ku buka mata ada Bintang di hadapanku. Amin."

Dengan mata tertutup Jihan meniup lilin di kue ulang tahunnya. Teman-temannya bersorak gembira. Ada yang udah siap-siap megang piring, siap menerima kue. Ada yang sibuk snapchat pake anjing-anjingan.

Namun, Iva menyadari sesuatu hal. Termasuk Garuda dan Laskar. Yaitu, Jihan tidak membuka matanya sedari tadi.

"Buka keles matanyaa." ucap Garuda.

Dengan penuh harap dan pelan-pelan Jihan membuka matanya dan...

"AAAAAA.." teriaknya.

"Garuda apaan sih lo? Ngapain mukanya deket-deket hah?"

Iva dan Laskar hanya bisa terbahak di belakang Garuda.

"Abis lu merem nya lama banget. Bikin babang Garuda khawatir." ucapnya dengan mukanya sok di imut-imutin.

Jihan tidak merespon apa yang baru saja dikatakan Garuda. Matanya telah menelaah seluruh ruangan. Mencari seseorang yang amat sangat berarti di hidupnya.

Dengan gerakan refleks Jihan meninggalkan mereka bertiga, Iva , Garuda dan Laskar. Garuda dan Laskar hanya terdiam mematung sembari membatin 'apa yang Jihan lakukan?'

Berterima kasih lah terhadap insting Iva yang tinggi. Karena ia baru saja mengikuti kemana pergi Jihan. Tentu dengan cara diam-diam. Bahkan Iva tidak menyadari bahwa ada seseorang yang telah mengikuti dirinya di belakang. Dan juga dengan cara diam-diam.

Selama Jihan berjalan ada saja yang memberi selamat ulang tahun kepada nya. Tapi, Jihan hanya membalas dengan senyuman yang amat sangat manis. Hingga senyuman manis tersebut hilang begitu menyadari bahwa Bintang tidak hadir di hari ulang tahunnya. Di hari berharga dia.

Jihan pun duduk di lantai sambil menghadap ke langit. Begitu banyak Bintang di angkasa sana. Dan begitu jauh. Sehingga Jihan tidak dapat menggapai mereka yang tengah bersinar pada malam ini. Hingga setetes air mata berharga Jihan turun. Lihat betapa pengecutnya Jihan sekarang.

Begitu Iva melihat Jihan dari jauh yang tengah bersedih. Tanpa Jihan kasih tau Iva pun sudah mengatahuin duluan apa yang bakal Jihan pikirkan. Iva telah memaksa Bintang untuk datang ke acara ulang tahun Jihan tetapi jawabannya hanyalah nihil. 'Akan gue usahakan kalo gue ga sibuk. Mudah-mudahan gue sibuk'.

Dengan perlahan Iva mendekati Jihan dan duduk di sebelahnya. Lalu Iva mengambil kepala Jihan dengan perlahan menuju pundaknya. Jihan sempat tersentak namun setelah mengetahui bahwa itu Iva, ia pun kembali refleks.

"Nangis aja di bahu gue. Maaf kalo gue ga bisa mendatangkan Bintang ke acara ini. Gue, Garuda sama Laskar udah berusaha sebisa mungkin untuk meyakinkan dia datang kesini. Tapi keputusan ada di tangan dia, right? Gue bisa apa, Han. Kalo nyatanya Bintang ga mau datang?" ucap Iva dengan rasa sedih sekaligus kesal terhadap Bintang. Bisa-bisanya dia membuat sahabatnya membuat menangis di hari spesialnya.

Dibalik tembok seseorang yang mengikuti Iva membatin 'Betapa beruntungnya Jihan bisa mempunyai sahabat sebaik lo. Lo bisa memberikan semangat positif untuk orang di sekeliling lo. Tapi apakah diri lo udah bahagia seperti apa yang mereka rasakan?'

Lalu, seseorang itu pun pergi dengan sebuah senyuman yang berarti seribu makna.

. . .

Pic: Thomas Sangster as Bintang

NUTS[1]- BintangWhere stories live. Discover now