"Oppa, kepalamu berdarah!" Teriakku panik melihat kening dibalik poni rambut ash pink-nya berdarah.
"Ahjussi berhenti! Darurat!" teriakku kepada supir bus yang ada di depan.
"Oppa!oppa!"ku tepuk-tepuk pipi glowing namja tampan ini sembari tubuhnya lemas merosot ke lantai bus.
"Tolong beri ruang dan tekan tombol berhenti"titahku tak peduli dengan mereka yang hanya nyiyir dan kaget melihat ini.
Tombol telah ditekan namun tetap saja ahjussi supir bertubuh gempal itu tidak menggubris, ia hanya fokus ngebut dan suaraku tenggelam dalam riuhan bising mesin. Akupun sontak menuju ke depan, sambil berteriak sekuat-kuatnya di telinga ahjussi itu.
"Ahjussi berhenti !!!!"teriakku sekuat tenaga seperti harimau mengamuk.
Rem bus pun dipijak hingga mendencit, ku pegang erat-erat tiang bus.
Cyiiiiiiit.....
Krekkkkk...
Brughhh....
Mwo! Semua penumpang bertabrakan jadi satu. Sekian detik kekalutan itu terjadi. Semuanya meringis kesakitan kemudian terdiam dan melirik ke arahku.
Mereka kaget, si Sora bener-bener menganga dan lipstik di bibirnya telah berpindah di pipinya, si Ji Hyun akhirnya terdiam, sang kakek bangun dengan mata memerah, akupun jadi ikut terdiam dan sebentar lagi meletus, ku tumpahkan kemarahanku pada ahjussi supir itu.
"Ahjussi kenapa tidak berhenti!, tidak lihat apa ada penumpang yang kesakitan, aisshhhh ahjussi bawa manusia, bukan barang. Hati-hati! Jangan ugal-ugalan, aku tahu ini weekend dan kau mengejar target. Aku bisa menuntut ahjussi sesuai hukum peraturan transportasi umum dan pelayanan publik" teriakku ngawur dengan muka memerah.
Padahal aku tak tahu hukum apa itu! Kata baekhyun sahabatku aku akan cerdas jika marah. Owh...dimana sahabatku itu. Aku butuh bantuannya saat ini.
Aku menggeret kakiku yang berdarah ke arah oppa Suho yang dikerubungi para yeoja centil.
Tanpa ba bi bu...
Akupun langsung menghubungi omma-ku, kebetulan omma-ku dokter di rumah sakit yang tidak begitu jauh dengan lokasi bus ini berhenti. Ahjussi Supir itu tetap saja diam, mungkin ia ketakutan.
.
.
.
2 jam kemudian...
Ruang Tunggu di depan Rawat Inap, Asan Medical Center Hospital
Lorong rumah sakit bercat hijau muda ini terlihat cukup ramai. Aku berdiri di dekat tempat sampah sambil memainkan ujung kain hodie abu-abu milik oppa Suho. Semoga ia tak apa-apa. Jika tak ada baekkie jelek di sampingku. Mungkin sudah aku ciumi dan peluk hoodie ini. Mengais bau oppa.
"Mengapa kamu bisa bertemu dengannya, Hyun. Di dalam bus lagi tempat yang tak mungkin buat si orang kaya itu" ujar Baekhyun terheran-heran dengan mimik yang dibuat-buat sok imut.
Aku diam tak bergeming, aku hanya khawatir dengan si empunya hodie.
"Tapi tak apalah! Bukankah pertemuan dengan ketidaksengajaan seperti itu begitu romantis!" Tambahnya lagi meledekku.
"Aisshhh....sudahlah diam mulutmu itu. Atau aku keluarkan 'gamparan' melawan preman seperti waktu itu" aku mengangkat tangan kananku ke udara ala fose menampar.
"Yeee....Hyun" Si mulut nyiyir di sebelahku menciut patuh.
"Ngomong-ngomong, kenapa tadi pagi kau tidak masuk sekolah. Aku mencarimu! Kau kan tahu jika sehari aku tak bersamamu. Pasti ada saja hal aneh seperti ini"
KAMU SEDANG MEMBACA
FIRST LOVE
FanfictieYah, seperti kata bijak Disraeli "Jangan pernah menyesal setelah kamu mengungkapkan suatu perasaan. Karena jika demikian, kamu sama saja menyesali kebenaran" *** "Kamu memang langka, Hyun dan perlu dilestarikan. Kamu harus berguru tentang pemahaman...
