So Hyun POV
Kami duduk di kursi penonton serambi kanan. Kami duduk serius menyimak di pinggir lapangan dengan ukuran panjang 26 meter dan lebar 14 meter. Lapangan ini tak kalah ramai dengan festival manula yang memang letaknya tak begitu jauh dari sini. Seorang pemuda jangkung dengan gagah melakukan lay up bersama bola oranyenya menuju keranjang. Dan....
"Ye! Masuk..." cuma aku, yeoja yang berteriak.
Para yeoja centil dan cheerleader sibuk menarik perhatian dua namja di hadapanku. Se -genus dengan si centil So Ra dan si galak Ji Hyun dari SOPA. Aku menopang daguku, termangu kesal.
Pertandingan basket yang menegangkan namun lebih menegangkan ketika si yeoja berpakaian cheer leader kuning dengan wajah pas-pasan itu membuat risih oppa Suho. Ia dengan lancang mengelap keringat di pipi mulus oppa. Hatiku rasanya sakit, lebih sakit dari kramnya perut ketika disminorhea [Menstruasi], lebih sakit ketika kalah perlombaan taekwondo, lebih sakit lagi dari celotehan kasar appa. Aku yang sering bersama oppa akhir-akhir ini saja tak berani seperti itu. Jangankan menyentuhnya, memandangnya saja aku takut kebablasan- terpesona.
"Maaf kamu membuat aku risih. Aku sedang menikmati pertandingan!" Tolak oppa dengan nada setengah marah, tatapannya tajam seperti hunusan pedang.
Hatiku bersuka cita. Oppa kamu memang keren, itu adalah sikap terbaik untuk mengusir genus para yeoja kecentilan itu. Membuat kalimat jitu penolakan. Tidak seperti Baeki yang terlihat play boy.
"Ah...playboy penakut" cercaku dalam hati memandang Baekhyun di depanku ini.
Kamipun menyimak pertandingan kembali.
Mentari begitu amat terik. Aku sudah habis sebotol air mineral, satu mangkok es krim dan semangkuk jajjangmyeon di kedai seberang jalan tapi dahaga dan laparku masih tak berkesudahan. Sepertinya aku tahu sumber laparku dari mana. Ketika marah tidak hanya mulutku yang menjadi cerdas, sepertinya t-rex dalam lambungku pun ikut mengamuk.
Aku pun memutuskan mencari sesuatu yang menyegarkan. Ku lirik dua namja yang khusyu menikmati pertandingan seru bola basket itu. Awalnya aku ingin mengajak mereka, tapi karena melihat para yeoja itu berisik mengelu-elukan mereka, aku memutuskan sendiri. Aku kesal. Es krim sepertinya menjadi pendingin terbaik untuk situasi ini.
.
.
.
Aku kembali ke arena pertandingan. Kedua tanganku tengah sibuk membawa dua es krim coklat untuk oppa dan Baekki. Tapi....langkahku terhenti seketika bersamaan dengan senyum ceria di wajahku.
"Ya! Kalian !!!Aku sudah setengah jam menghilang tapi mereka acuh padaku dan sibuk berbincang dengan para fans baru mereka. Aku tahu mereka lebih cantik dariku yang apa adanya ini" aku menyalak dalam hati.
Si Baekki, lihat saja nanti akan aku bengkokan lengan kurusmu itu. Oppa! Aku kecewa padamu. Apa aku harus mengganti cinta pertamaku ini dengan pria jangkung pencetak skor di lapangan itu yang wajahnya lumayan mirip dengan Sehun EXO. Lagi-lagi aku berdialog dalam hati dengan mimik sewot.
Mulanya akan aku berikan es krim ini kepada sahabat dan cinta pertamaku itu. Tapi melihat mereka tertawa bersama para yeoja centil seperti itu. Es krim tak mampu meredam panas yang berkecamuk di hatiku. Cemburu! Baiklah aku cemburu. Aku di belakang mereka ini di sebelah seorang ahjumma yang sibuk mengurusi cucunya dan di sisi satunya si araboji berfashion 70-an yang menurutku, agak sedikit sombong karena sedari tadi hanya menyilangkan tangannya. Aku seperti tak memiliki teman, kesepian di tempat ramai. Seperti tak berguna.
"Tarik napas So Hyun, kau akan keriput jika seperti ini" batinku membuat pertahanan untuk mengendalikan emosi -anger management.
Aku mengalihkan kekesalan ini pada serunya pertandingan basket.
KAMU SEDANG MEMBACA
FIRST LOVE
FanfictionYah, seperti kata bijak Disraeli "Jangan pernah menyesal setelah kamu mengungkapkan suatu perasaan. Karena jika demikian, kamu sama saja menyesali kebenaran" *** "Kamu memang langka, Hyun dan perlu dilestarikan. Kamu harus berguru tentang pemahaman...
