Aku jenius... aku hebat... aku kaya... koneksi juga banyak... masa depanku sangat cerah sampai kau akan di buat silau saat melihatnya... badanku bagus dan atletis... temanku banyak... semua sempurna kecuali satu.
Wajahku!!
Bukannya aku tidak meminta, berulangkali aku memohon pada mama untuk melakukan operasi plastik yang ku yakini menjadi satu-satunya jalan keluar dari masalahku ini.
Berkali-kali juga aku menangis dan mengutuki wajah papa yang sangat jelek sehingga menurun padaku.
Hanya saja, mamaku yang cantik dan gila harta itu takut menyinggung perasaan papa sehingga menyebabkan perkelahian yang berujung dengan hancurnya sandiwara keluarga harmonis yang susah payah di bangun olehnya.
Ya, di depan papa keluarga kami bagaikan sebuah keluarga sempurna yang bahagia. Tapi, sebenarnya mamaku menikah dengan papa hanya mengincar kekayaannya saja. Lalu aku? Mama terpaksa melahirkanku untuk kepentingan sandiwaranya.
Jadi, wajar saja jika dia tidak terlalu peduli denganku.
-¤-
"Keni, selamat pagi," ucap beberapa temanku sambil mendekati tempat dudukku.
"Pagi," jawabku membalas senyuman mereka.
Tidak ada yang tulus. Semua hanya berpura-pura untuk mendapat simpatiku dan akhirnya memiliki koneksi untuk masa depan mereka.
Tapi, aku tidak masalah dengan itu. Selama aku memiliki teman-teman keren seperti mereka maka aku akan baik-baik saja.
Setidaknya itu yang ku pikirkan sampai beberapa waktu yang lalu. Hari itu aku pergi ke toilet sendirian dan duduk di dalam bilik toilet untuk memenceti jerawat di wajahku. Menjijikan.
Beberapa saat kemudian aku mendengar suara gadis-gadis memasuki toilet. Aku rasa mereka mengobrol hal-hal yang wajar di obrolkan oleh para gadis-gadis sambil membenarkan riasan mereka di depan cermin.
kemudian aku menghentikan kegiatanku secara mendadak setelah mendengar ada namaku di sebut.
"Iya... Keni itu sangat menjijikan! Gadis itu merasa karena dia kaya dia bisa mendapatkan segalanya! Si jelek itu sangat sombong menjijikan sekali!" Ujar salah satu dari mereka waktu itu.
"Jika saja dia bukan orang kaya aku juga jijik untuk berteman dengannya. Se-kaya dan jenius apapun dia, tetap saja wajahnya sangat jelek sampai-sampai tidak dapat di deskripsikan," jawab yang lainnya.
Waktu aku mendengar ucapan mereka jantungku rasanya seperti berhenti berdetak. Aku takut, sedih, kecewa, dan bingung.
Aku tidak bisa memikirkan apapun. Aku malu dan merasa sudah tidak memiliki harga diri. Tapi, sesuatu dari dalam diriku berontak.
Sesuatu dalam diriku mengatakan jika aku akan baik-baik saja selama aku masih menjadi putri orang kaya.
Sesuatu dalam diriku berkata, asalkan aku memiliki teman aku tidak keberatan untuk membayar mereka.
Sesuatu dalam diriku itulah yang telah menciptakan monster mengerikan yang kini bersemayam dalam diriku.
Sombong dan boros sudah melekat di kehidupanku. Aku jadi merasa paranoid akan kehilangan semua orang di sekitarku.
Sampai hari itu aku mendengar sesuatu yang mengerikan yang membuatku sulit bernafas seketika.
Aku dengar perusahaan papa sedang berada dalam bahaya. Kemungkinan terburuknya adalah kebangkrutan dan aku bisa jadi miskin.
Jadi miskin itu artinya, aku akan kehilangan teman-temanku dan masa depan cerahku.
"Kau baik-baik saja?" Tanya teman sebangkuku yang menyadari jika aku terus melamun.
KAMU SEDANG MEMBACA
FRASA
Historia CortaSelalu terselip kisah disetiap masa.. Kumpulan kisah romansa dari berbagai masa dan dunia. Saya nulis karena saya suka.. 😊
