Yunho dengan cepat meninju Myungsoo tepat di pipi hingga jatuh tersungkur. Melihat hal itu Woohyun segera mengambil pistol yang ada di balik jasnya dan mengarahkannya pada Yunho yang langsung ditepis Yunho hingga pistol itu terpental jauh lalu menendang Woohyun hingga menabrak pintu dengan keras. Ia menyentakkan tangan kanannya hingga sebilah pisau berada di genggamannya lalu berjalan perlahan mendekati Myungsoo yang berusaha berdiri. Dengan satu gerakan, ia mendorong tangan kanannya ke arah Myungsoo
"YANG MULIA!"
JLEB
Eirene part 4
Darah segar mengenai wajah Myungsoo yang terlihat shock. Bukan, itu bukan darahnya. Melainkan darah dari seseorang yang menahan gerakan pisau itu menggunakan telapak tangannya. Ujung mata pisau terhenti tepat beberapa senti dari wajah Myungsoo dengan tangan seseorang yang mengalirkan darah segar hingga menetes di lantai marmer kamarnya.
Jiyeon. Gadis itu menggunakan tangan kanannya untuk mencegah pisau itu mencabut nyawanya. Gadis itu berdiri dengan kesadaran yang timbul tenggelam dan napas terengah karena asma yang masih dirasakannya.
"No-nona..." Yunho membelalakkan matanya melihat Jiyeon yang berdiri di depannya dengan tangan berlumuran darah. Seketika pegangan tangannya melonggar membuat Jiyeon dengan mudah menarik pisaunya lalu membuangnya ke lantai hingga terdengar suara dentingan yang cukup keras.
"Aku tidak pernah mengajarkanmu hal ini, Jung Yunho," Jiyeon berucap dengan nada rendah dan tatapan tajam pada Yunho. "Cepat minta maaf pada Putera Mahkota!"
"Ta-tapi nona, dia telah-"
PLAK
Jiyeon menampar pipi Yunho dengan tangan kanannya sehingga membuat pipi Yunho terkena darah yang keluar dari tangan Jiyeon. Tamparannya tidak begitu keras, mengingat telapak tangannya yang terluka. Luka yang parah, tentu saja. Luka sayatan yang cukup dalam di sepanjang telapak tangan kanannya.
"Dengarkan perintahku, Jung Yunho!" pekik Jiyeon. Udara di paru-parunya seolah habis setelah mengatakannya. Jiyeon berbalik menghadap ke arah Myungsoo, menjatuhkan dirinya di lantai. Ia berlutut, meletakkan tangan kanannya di dada, menunduk dalam. "Saya bersalah karena-hhh... tidak bisa mengajari pelayan saya dengan baik, Yang Mulia. Hhh... saya tahu... orang yang telah mengancam... hh... nyawa anda... tidak akan bisa..." Jiyeon berhenti sambil berusaha mendapat udaranya kembali.
"... dimaafkan..." lanjut Jiyeon.
Sungguh Myungsoo tidak bisa mencerna kata-kata yang terlontar dari bibir gadis itu yang sudah sangat pucat. Lalu matanya tertuju pada tangan gadis itu yang terus mengeluarkan darah. Gadis itu benar-benar bisa mati kalau aku membiarkannya. Raung Myungsoo dalam hati. Tapi nyatanya tubuhnya tidak sejalan dengan pikirannya.
Tiba-tiba Jung Yunho berlutut tepat seperti Jiyeon lalu dengan tegas ia berkata, "Saya bersalah karena telah berusaha menyakiti anda, Yang Mulia Putera Mahkota." Darah Jiyeon yang ada di pipinya meluncur jatuh ke kemeja putihnya ketika rahangnya bergerak setiap kali ia berbicara.
Myungsoo bangkit lalu menyisir rambutnya dengan ruas jarinya ke belakang. "Berdiri," kata Myungsoo pada Jiyeon dan Yunho. Kedua orang yang berlutut itu mengikuti perintah Myungsoo. Tanpa melepas tatapannya pada Jiyeon, Myungsoo berkata pada Woohyun, "Panggil dokter Bae!"
Tanpa bertanya, Woohyun melaksanakan perintahnya.
"Kalau begitu, kami permisi," pamit Jiyeon pada Myungsoo lalu membungkuk hormat sekilas.
Myungsoo menahan lengan kanan Jiyeon ringan agar gadis itu tidak kesakitan."Dokter Bae akan merawat lukamu." Myungsoo menuntun Jiyeon untuk duduk di kasurnya. Mengambil sapu tangannya lalu menutup luka Jiyeon. "Kau bisa mati kalau kehabisan banyak darah."
KAMU SEDANG MEMBACA
EIRENE
FanfictionJiyeon tidak pernah menyalahkan Tuhan atas garis takdir yang mengelilinginya. Bahkan ketika setelah ia kehilangan kedua orang tuanya dan diperlakukan layaknya sampah oleh musuh keluarganya. Ia tidak menyesal dan menyalahkan Tuhan atas itu. Terkadang...
