lxii

1.4K 41 2
                                        

satu bulan lalu,
tepat di tanggal satu,
adalah kali pertama aku bertemu denganmu.

kau adalah cowok yang cukup baik hati, juga pendiam.
kau tak terlalu banyak berbicara kepadaku, aku tak tau apa karena kau malu, apa memang kau tak ingin berbicara kepadaku.
aku telah mencoba untuk mencairkan suasana kala itu, kau tau? ya, aku memulai permainan, dan kau mengabaikanku.
suatu permulaan yang buruk, namun tidak membuatku mundur saat itu.
kau terlihat sibuk dengan ponselmu, dan sama sekali tidak memperhatikanku yang sedang duduk tepat di depanmu.
aku kembali membuka percakapan, dan malah temanmu yang menanggapi semua itu. well, aku mulai sendu.
kau berkata bahwa kau tidak bisa terlalu lama disitu bersamaku, kau bilang bahwa kau punya janji dengan seseorang waktu itu.
hatiku mulai mencelos, kau tau?

namun Tuhan berkehendak lain, hujan ia turunkan, dan kau tak bisa pulang tanpa aku dan kedua temanmu yang juga sahabatmu. akhirnya kau menunda kepulanganmu, dan ikut pulang bersama aku dan kedua temanmu manakala hujan tak lagi deras layaknya hatiku, dan atas bujukan temanku, kau mau ikut aku untuk makan sebentar saat itu. cukup senang rasanya mengetahui bahwa kau mau ikut. tidak cukup senang, tapi sangat senang.

disanapun kau terkesan lebih hangat, kau sedikit membuka pecakapan denganku, dan dengan senang hati aku membalas percakapanku. setelah aku selesai dengan urusan perutku, kau mengantarku pulang, di bawah hujan, di tengah dinginnya malam.

aku senang, sangat senang, karena akhirnya kau membuka percakapan antara aku dan kamu lebih dalam. kaupun tidak lagi sediam awal, dan tak lagi sedingin hujan. dan nyatanya, telah sampailah aku di tempat pemberhentian. cukup menyenangkan rasanya menghabiskan malam penuh hujan dengan dirimu, dan tepat disitu pula, aku menyadari bahwa aku mencintaimu. dan disitu pula aku menyadari, bahwa hatimu bukan untukku.

aku, kamu, (tanpa) kita.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang