Sakura (English Ver. By Ailee)
Melewati hari-hari tanpa dirimu. Bahkan aku juga sudah tambah dewasa. Dengan begitu, apakah aku akan melupakan segalanya? "Aku benar-benar mencintaimu". Aku mencoba meraih bunga sakura. Sekarang perasaanku terbungkus di dalam musim semi.
Kelopak bunga sakura jatuh berguguran. Mendekap setiap perasaan yang berdebar. Kata-kata yang kau berikan kepadaku dengan kuat itu. Bahkan kini masih tersisa, bunga sakura pun menari-nari.
***
"Jadi, belum ada kabar tentang Uzumaki?" saat Wali Kelasnya memanggil Hinata ke ruang guru untuk kesekian kalinya, dia sekali lagi menyiapkan kebohongan.
Mula-mula Hinata memberikan gelengan kepala, sampai pada akhirnya Hinata menjawab "saya tidak tahu". Anko menghela napas setelahnya.
Sebenarnya Anko tidak ingin membuat surat panggilan untuk orangtua. Demi apa pun dia tidak ingin membuat salah satu muridnya harus berurusan dengan dewan sekolah. "Oke," kata Anko setelah itu, "Kau boleh kembali ke kelas."
Hinata pun pada akhirnya berpamitan sembari sedikit membungkuk.
Gadis itu tidak berkata apa pun sampai pada akhirnya, kedua kakinya melangkah ke belakang. Lantas ia melewati setiap guru yang ada di ruang itu sambil dadanya jauh lebih berdegap.
Setelah keluar dari sana, di depan pintu gadis itu telah disambut oleh Kiba yang bersandar pada jendela koridor."
Kau tidak apa-apa Hyuuga?"
Hinata menghela napas cukup lega. Bahwa tidak ada interogasi yang berlebihan.
"Buruk," balas Hinata. "Aku benar-benar takut." Sebenarnya Kiba ingin tertawa. Tetapi ia mengurungkan niatnya untuk melakukan hal itu. Lantas, lelaki itu pun bangkit, ia berhenti untuk bersandar pada jendela koridor. Tak lama dari itu dia mengambil langkah berada di depan Hinata.
"Apakah Uzumaki-kun akan dikeluarkan dari sekolah?" Hinata memandang Kiba serius. Tapi lelaki itu justru mengangkat kedua bahunya ke atas namun tak lama dari itu kembali terdiam.
"Aku tidak tahu." Balas Kiba dengan setengah berpikir. "Kemungkinan tidak. Karena yang ku tahu, Naruto bisa sekolah di sini karena dewan sekolah. Jadi semacam, dia lumayan menjadi siswa yang spesial."
Ia menyetujui apa yang Kiba serukan kepadanya.
Yakuza bisa melakukan segala cara, pada apa yang mereka inginkan. Termasuk menanam bom di sekolahan ini.
Meski hal tersebut terdengar berlebihan, tetapi hal seperti itu akan terjadi jika memang mereka berniat untuk menginginkannya.
"Ya, aku tahu dengan hal seperti itu." Kata Hinata yang kembali melihat Kiba meringis. "Apa?"
"Tidak." Kiba mencoba tenang. Pemuda itu pun menoleh kembali ke arah gadis di depannya, setelah sebelumnya sempat membuang pandangan. "Aku, hanya penasaran saja." Kiba berkata lagi dengan mengetuk dagunya sementara tangan kirinya menyelusup masuk ke dalam saku celana hitam sekolahnya. "Apa yang membuat Naruto menyukaimu. Hanya itu." Kontan Hinata menunduk. Gadis itu juga meremas ujung seragam sailor-nya.
"Sangat aneh jika, kau keluar dari kamar hotel itu dengan selamat. Yang aku tahu selama ini, dia sangat tidak suka didekati, apalagi dengan anak perempuan, dia sangat... umm, semacam anti."
"Mu-mungkin hanya perasaanmu saja." Hinata bergumam tanpa melihat mata Kiba yang memicing, seolah-olah pandangannya sedang menyelidik. "Ka-kami hanya teman. Ya, kami hanya teman, maka dari itu dia tidak melukaiku." Kata Hinata lagi.
"Heee." Kiba menyela, dengan nada ketidakpercayaannya. "Tidak mungkin ada yang seperti itu. Aku juga teman, tapi dia pernah hampir membunuh aku. Pasti ada sesuatu di antara kalian. Apa tadi malam Naruto mengatakan sesuatu?"
"Seperti apa?" pada akhirnya, Hinata memberanikan diri untuk memandang mata Kiba.
"Seperti, jangan tinggalkan aku. Jangan jauhi aku." Jika mereka berada di dalam acara kuis. Kiba akan menang, dan tebakan itu berhasil membuat pemuda itu membawa pulang hadiah uang jutaan yen. "Benar, 'kan?" Kiba terus memaksa.
Hinata menggeleng. Wajahnya memerah. Kiba membalasnya sembari tergelak.
"Sudah kuduga. Ada sesuatu di antara kalian." Pemuda itu terus menggoda tanpa henti. Di balik Kiba seperti ini. Dia hanya memastikan sesuatu, apakah gadis di depannya ini benar-benar mencintai teman baiknya. Atau hanya sekadar peduli sebagai teman sekelas saja.
Sementara itu, setelah cukup menggoda. Kiba mengamati Hinata yang masih menunduk. Ia pun terbayang oleh ingatan di mana dia pernah bertemu Naruto dan Hinata, di salah satu pusat perbelanjaan.
Untuk pertama kalinya Naruto menyunggingkan sejuta senyuman tanpa rasa beban dan pura-pura untuk bahagia. Ditambah, Naruto memandang Hinata tanpa keraguan atau memiliki suatu niat buruk.
Kiba tidak berhenti dari situ saja. Secara sembunyi-sembunyi dia terus mengikuti dua orang itu. Namun saat kedua orang itu memilih untuk menaiki bus. Kiba berpikir untuk berhenti mengikuti.
"Naruto, sama seperti kita," seru Kiba secara tiba-tiba, mengingat bahwa temannya bahagia bersama gadis ini. "Dia juga berhak untuk jatuh cinta pada gadis pilihannya. Termasuk gadis baik-baik seperti dirimu, Hyuuga." Hinata mendongak. Memandang Kiba yang mengusap tengah kepalanya sembari dia menunjukkan pandangan sedikit sendu.
"Dan, jika kau memang memiliki niat untuk bersama dengannya. Mungkin masalah baru tidak akan henti-hentinya datang kepada kalian. Maka dari itu aku mencoba memperingatkan dirimu mulai sekarang; jika kau berniat untuk membalas rasa cintanya, maka kau harus siap dengan segala rintangan. Karena ayahnya tidak akan segan-segan untuk melukaimu ketika putranya sendiri terlihat sedikit lemah, hanya karena seorang wanita."
Kedua tangan Hinata mengepal, lalu bergetar.
Ia mengingat betul, tidak ada sedikit pun ayahnya berkeinginan dia berada di lingkaran Yakuza, bahkan seakan seperti melawan kelompok tersebut hanya karena masalah cinta dengan bumbu remaja mereka.
Dia masuk ke dalam golongan warga negara yang memilih untuk hidup aman di negaranya sendiri. Masuk ke dalam universitas favorit. Mendapatkan gelar sarjana. Bekerja dengan giat. Lalu menikah.
Hinata menyunggingkan senyuman, saat mengingat tentang keinginan yang sederhana mengenai menikah, hidup bersama dengan orang yang dicintainya.
"Cinta, bukankah butuh pengorbanan?" Kiba tertegun. Wajah gadis itu terlihat ketakutan, akan tetapi kata-kata yang keluar menyerupai pertanyaan itu tidak ada keragu-raguan.
Sesuatu yang tegas, Kiba terima.
Kiba tidak bisa berkata apa pun lagi setelah baru saja dia rasa apa yang Hinata katakan sebagai bentuk jawaban, bukan pertanyaan.
Kata-kata yang sempat akan Kiba keluarkan, kembali tertelan.
"Bagaimana jika aku berkorban untuknya?! Aku akan tetap berlari ke arahnya, meskipun aku tahu, bahwa masa depanku tidak akan baik ketika berada di sekitarnya."
Kiba tidak mampu membalas segala kalimat yang keluar dari bibir gadis indigo itu. Sebab Kiba tidak menemukan kalimat balasan yang cocok, demi membalas tiap kalimat tegas itu.
"Aku mencintai Uzumaki-kun. Aku menyukainya. Aku ingin tetap bersama dengannya. Aku tidak akan menarik kata-kataku." Hinata menggelengkan kepalanya pelan. Wajahnya terlihat lesu namun begitu yakin.
Hinata pun buru-buru untuk pergi dari koridor di lantai di mana ruang guru berada.
Kiba masih diam membisu di tempat, ia tidak begitu yakin untuk menasihati atau sekadar mencoba memperingatkan dengan segala tindakan Uzumaki-gumi yang mengerikan.
Saat ini, Kiba hanya mampu untuk memandang punggung Hinata yang semakin menjauhinya.
"Kau beruntung, Naruto."
***
Bersambung
#12: Healing Love © 2 Mei 2017
KAMU SEDANG MEMBACA
Healing Love
FanfictionAwalnya memang ingin menghindar. Tidak ingin melibatkan siapa pun ke dalam masalahnya. Tidak ingin mengenal siapa pun karena pasti mereka terluka karenanya. Naruto Uzumaki terlahir sebagai anak dari seorang wanita yang menjadi istri keempat Mafia d...
