Veranda menarik Jinan ke sisi lain bersembunyi dibalik pilar semen sementara Kinal mengambil pilar lain sebagai tempat berlindungnya. Matanya mengarah pada Jeje yang terbaring tidak bergerak dilantai dingin yang keras. Dia melihat Shania memeluk Cindy sementara Beby tidak bergerak namun membungkuk cukup rendah agar tidak ada satupun dari lampu sorot yang menangkapnya. Beby melirik kearah Jeje.
"Je... Jeje!"
Tidak ada respon dari wanita itu. Beby memaksa dirinya untuk terus merunduk. Siapapun yang meluncurkan roket itu tidak main-main ingin membunuh mereka. Satu gerakan yang salah dan mereka semua akan mati disini.
"Beb, dia masih hidup. Dia bernapas."
Penjelasan Kinal menenangkan hatinya. Dia tidak cukup dekat untuk memeriksa kawannya tapi dia yakin Kinal dapat melihat dengan jelas dari tempatnya berdiri.
"Siapa yang nembakin kita?"
Beby menoleh kearah Shania dan Cindy yang terlihat pucat. Syukurlah kedua anak itu baik-baik saja meskipun terhempas beberapa kaki. Tapi dia tidak begitu yakin dengan Jeje.
"Gracia! Siapa yang nembak kita?!"
Kinal berteriak melalui mouthpiece-nya berharap gadis yang lebih muda itu dapat memberikan jawaban. Terdengar suara statis datang dari earpiece-nya sebelum akhirnya Gracia menjawab.
"Lo sama sekali gak akan suka ini kak. G48."
"Apa?! Kenapa?!"
"Gatau tapi dari yang terlihat, mereka gak akan segan-segan."
"Sial."
Mata Kinal beralih pada Beby, Shania dan Cindy sebelum kembali pada Jinan dan Veranda. Gracia dan Shani berada dibawah dan kemungkinan bersama dengan Lidya dan Melody. Dengan tidak sadarnya Jeje, hal ini akan berubah dari buruk menjadi lebih buruk.
"Ide bagus apapun itu bisa ngebantu keadaan kita sekarang kak Kinal!"
Suara Shania berdering di telinganya. Sama seperti di masa lalu, mereka bergantung pada Kinal dan Veranda untuk memecahkan masalah ini. Kinal dan Veranda saling berpandangan. Pandangan yang sangat familiar bagi keduanya.
"Ve?"
"Seenggaknya kemungkinan mereka ada sekitar 5 lusin dan bersentaja lengkap. Kita punya 9 minus anak-anak dan kekurangan senjata."
"Kita udah pernah ngelakuin ini sebelumnya."
"Tapi bukan dalam keadaan kayak gini."
"Kita pasti berhasil. Aku percaya sama kita semua."
"Mereka akan nyerang kita dengan kekuatan penuh."
"Caraku gak akan berhasil. Tapi cara kamu bisa."
"Nay... ini gila."
Veranda tahu apa yang dimaksudkan oleh Kinal dan apa yang mereka pikirkan sudah jelas; wanita itu ingin dirinya memimpin. Kinal menyerahkan posisinya sebagai Officer In Command kepada Veranda. Untuk pertama kalinya, perang berada di tangannya. Jinan memperhatikan kedua orangtuanya. Dia tidak mengerti apa yang ada didalam otak keduanya. Tapi sepertinya terlihat Kinal menyerahkan kontrol pada Veranda.
"Gak seorangpun dari G48 pernah ngeliat kamu mimpin. Kato dan Jiro udah meninggal. Cuma kita yang pernah ngeliat. Mereka akan mikir kalo aku yang mimpin. Mereka gak akan tau kalo kamu yang mimpin."
"Kak Ve, kak Kinal bener. Kalo kak Kinal itu yang terbaik, kita semua tau kalo kak Ve ada diposisi kedua." Kata-kata Shania berhasil mendapatkan perhatian Veranda. Dia meneruskan.
"Kalo bukan kak Kinal, kak Ve ada di urutan selanjutnya daftarku sebagai ketua."
Shania sangat jarang sekali memuji seseorang dan mendengarnya mengatakan hal seperti itu membuat Veranda menjadi lebih percaya diri. Matanya menangkap Beby yang memberi sebuah anggukan kecil tanda setuju dengan Kinal dan Shania.
KAMU SEDANG MEMBACA
PROJECT 9: The New Era
FanfictionSequel dari Project 9 Still not mine. Credit goes to Bluppy as the writer, I only change the languages, characters and some of it to be fit. Hope you guys would enjoy this one too
