Goodbye My Friend

2.3K 273 102
                                        

"Nih."

Cindy menyerahkan sebuah riffle kepada Jinan. Anak laki-laki itu terkejut melihat senjata itu. Dia bukanlah tipe yang dapat menghandle pistol dan senapan dengan mudah. Bahkan ketika Kinal memberinya sebuah pistol saat di Los Angeles, dia sangat ragu untuk menerimanya. Dia menggelengkan kepalanya.

"Kayaknya gak seharusnya gue make itu deh."

"Kita mau mencoba menyusup kesebuah tempat yang kemungkinan dijaga ketat dan lo mau masuk kesana dengan tangan kosong? Seriously Nan? Gue ngabisin lumayan banyak waktu untuk nyari senjata-senjata ini disekitar tempat konstruksi oke?"

Jinan mendesah dan bukannya mengambil riffle, dia lebih memilih memegang pistol.

"One gun. That's it."

Cindy memutar bola matanya namun tetap menerima keputusan anak laki-laki itu. Dia menoleh kebelakang dan matanya terfokus pada sebuah bangunan yang seharusnya adalah restoran yang sudah lama tidak terpakai. Dia sudah membaca review dari para turis sebelumnya dan mendapatkan bayangan tentang kondisi yang ada didalamnya. Setidaknya mereka dapat merencanakan serangan mereka. Dia harus mengakui. Bangunan tersebut terlihat menyeramkan dari luar. Terkadang memang ada orang yang datang ke tempat ini untuk mencari jejak-jejak kegiatan paranormal tapi satu tahun yang lalu, pemerintah kota Jakarta melarang ada orang yang masuk kedalam bangunan. Karenanya tempat ini dikeluarkan dari daftar salah satu tempat untuk dikunjungi. Tidak ada satu orangpun yang datang ke tempat ini sejak berlakunya pelarangan itu.

"Nan, apa rencana kita akan berbalik jadi gak menguntungkan kita?"

"Dih, tadi lo semangat banget dan sekarang ketakutan?"

Cindy memukul dengan keras punggung anak laki-laki yang lebih tinggi darinya itu sehingga membuatnya mengerang. Dia mengusap spot yang dipukul oleh gadis itu.

"Gue cuma khawatir."

"Kita bakalan baik-baik aja. Kita cuma harus ngambil alih Panorama dan matiin alat itu. Setelah itu kita pasti akan menemukan orangtua kita."

"Kalo ngucapnya mah gampang ya."

"Yah, lo kan lagi panik. Gue gak boleh ikutan panik juga."

Cindy menenangkan diri dan mengecek senjatanya. Ini bisa saja merupakan salah satu pertarungan terbesar yang pernah ia hadapi dalam hidupnya dan siapa yang tahu jika dia bisa keluar hidup-hidup atau tidak.

"Lo tau gak Nan, dulu gue benci banget setiap kali Beby teriak power up waktu kami mau mulai sparring."

Jinan menoleh kearah Cindy dan ia dapat melihat tekad yang kuat dimata gadis itu. Gadis itu balas menatapnya dan tersenyum.

"Power up."

Jinan tersenyum lebar dan mengeluarkan smartphone Gracia. Dia takjub dengan software dan program yang telah Gracia install di dalamnya. Tidak heran wanita itu adalah hacker terbaik di G48. Semua yang dibutuhkan sudah diprogram untuk menyesuaikan dengan kemampuannya dan yang terpenting, sangat mudah untuk dinavigasikan. Hanya dengan pilihan 'yes' dan 'no'. Tidak ada kode-kode ataupun angka-angka seperti yang ia lihat didalam film mata-mata. Gracia membuatnya mudah untuk dirinya. Dia mengetukkan jarinya beberapa kali. Sebuah pesan muncul.

Replace camera image?

Yes or no?

"Yes."

Jinan mengetuk kotak 'yes'. Cindy mengawasi keadaan sekitar dari pojokan yang gelap. Restoran yang tidak terpakai itu hanya berjarak beberapa langkah saja dari tempat mereka.

"Selesai."

Cindy menatapnya dan memicingkan mata.

"Apa?"

PROJECT 9: The New EraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang