14 Years Later

4.6K 298 127
                                        

"Yes, I'm Shania Junianatha."

"Ah, Ms. Natha. I'm Alice Baker, your daughter's homeroom teacher."

Shania menghentikan aktifitasnya. Semenjak Cindy bertumbuh remaja, mendapatkan telpon dari sekolah gadis itu adalah sesuatu yang tidak ia sukai. Cindy, puterinya yang berusia 13 tahun entah kenapa akan dilaporkan membuat banyak masalah. Genggamannya di ponsel menguat.

"What is this all about, Ms. Baker?"

"Well you see Ms. Natha, Cindy got into a trouble today and if you could come to school then we can discuss regarding the matter."

Shania menahan napasnya berharap apa yang ia pikirkan tidaklah benar tetapi kenyataannya tidak seperti itu. Cindy Hapsari Junianatha benar-benar sudah membuat masalah lagi.

"Ms. Natha?"

Shania kembali pada kesadarannya.

"Yes. When should I come?"

"After school would be great Ms. Natha. Our headmaster would love to be involve in this discussion."

Kepala sekolah ya? Shania menghembuskan napas pelan.

"Okay. I'll be coming today after school."

"Thank you Ms. Natha. It means a lot to us here in Beacon International. I'll see you later then?"

"Yes."

"Thank you. Have a great day Ms. Natha."

"Goodbye."

Shania memutuskan sambungan telpon dan mendesah untuk yang kedua kalinya. Sejak kapan Cindy menjadi anak yang pembangkang seperti ini? Apa yang salah yang membuat puteri manisnya berubah menjadi seseorang yang hampir tidak ia kenali? Shania tidak bisa tidak memikirkan apakah dirinya sudah membuat suatu kesalahan membesarkan gadis itu dengan caranya selama ini? 13 tahun yang lalu ketika dia dan Beby setuju untuk memiliki anak, ia merasa itu adalah hari terindah dalam hidupnya ketika dokter mengatakan dirinya tengah hamil 3 minggu. Menggunakan In Vitro Fertilisation, mereka menggunakan ovum milik Beby dan donor sperma dari bank sperma lalu membuahkannya di dalam lab. Beby setuju untuk hamil namun Shania mengajukan diri tepat di menit-menit terakhir mengatakan bahwa ia yang seharusnya bertanggung jawab untuk kehamilan karena Beby sudah memberikan sel telurnya. Sembilan bulan setelahnya, Cindy pun terlahir. Ia adalah bayi termanis yang pernah Shania lihat. Betapa ia berharap dirinya dapat mengulang waktu kembali ke saat-saat awal. Shania menggenggam ponselnya dan mengetikkan pesan untuk Beby yang tidak akan kembali ke L.A sampai nanti malam karena wanita itu masih berada di luar negeri untuk urusan pekerjaan.

Aku pergi ke sekolahnya Cindy. Cuma mau kasih tau itu.

Dia menekan tombol send berharap Beby akan membacanya sebelum wanita itu memasuki pesawatnya. Kemudian Shania menelpon nomor sahabatnya, Veranda.

"Kenapa Nju?"

"Hey, kak Ve ada acara gak nanti jam 2?"

"Aku harus nganterin Jinan ke latihan basketnya tapi aku bisa minta Kinal yang nganterin. Jinan pasti lebih suka begitu. Emangnya kita mau kemana?"

"Bener nih? Thanks kak Ve. Nanti aku ceritain semuanya. Thanks again."

"Anything. Kamu jemput?"

"Iya aku nanti mampir ke cafe-nya kakak."

"Oke. See you later. Bye."

"Bye."

Panggilan terputus. Shania meletakkan ponselnya di atas meja lalu menyandarkan punggungnya pada kursi. Dia memejamkan matanya. Betapa ia sangat berharap Beby berada di sini. Dia membutuhkan pillar penyemangatnya. Beby pasti sudah memeluknya sekarang dan membisikkan semua hal-hal manis yang ia butuhkan tetapi sesungguhnya, keberadaan wanita itu sudah cukup bagi Shania untuk menjalani harinya. Perlahan Shania membuka matanya dan mencondongkan tubuh kedepan meraih sebuah bingkai foto yang berisi dirinya dan Beby. Foto tersebut di ambil pada saatbulan madu pertama mereka. Empat belas tahun pernikahan dan ia masih dapat merasakan cinta dan gairah yang sama dari Beby.

PROJECT 9: The New EraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang