Ada, namun tak nampak. Tak ada yang tau pasti dimana kota itu berada. Perwujudan miniatur dunia didalamnya. Ada yang bilang terletak disekitar Benua Eropa. Ada yang bilang dekat dengan Negara Yunani. Ada yang bilang terletak ditengah pusat dunia. S...
Lelaki itu memfokuskan dirinya pada lawan tarungnya. Kedua kepalannya bersiap di depan dada. Sepersekian detik, lawan di depannya itu berlari ke arahnya dan melakukkan teknik Ten-tai dalam taido. Dia melompat dan menyanggah tubuhnya dengan kedua tangan, berputar untuk menjatuhkan lelaki di depannya dengan kedua kakinya. Namun lelaki ini telah mengantisipasi dengan berputar ke samping, menahan gerakan sang lawan dengan menendang kedua kakinya hingga terjatuh.
Tentu lelaki itu tidak melewatkan kesempatan emas itu. Dia langsung menduduki perut si lawan dan mengepalkan tangannya meninju wajah sang lawan tentu tidak benar-benar meninjunya. Karena ini hanya latihan.
"Hhh sial. Kapan aku mengalahkanmu Joe." Ucap sang lawan dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Mungkin itu tak kan terjadi." Kekeh Joe yang sudah berdiri dan mengulurkan tangan untuk membantu lawannya bangkit. Joe membuka sarung tangannya dan berbalik menuju tempat dimana ia meletakkan minumnya. "Oh iya Kai. Jangan lupa traktirannya."
Kai memutar kedua matanya malas sebelum membuka baju basahnya itu. "Aku duluan Joe."
Joe mengangguk lalu duduk dan membuka air minumnya. Joe tersenyum singkat melihat Kai yang berjalan keluar. Mereka berdua ini termasuk dhampir yang tangguh. Ah dhampir memang harus tangguh bukan? Mereka mengemban tugas yang cukup bisa dikatakan beban yang tak ringan. Mereka harus melindungi vampire mereka. Dan itu bukan tugas yang mudah.
"Joe!" seruan itu membuatnya berhenti meneguk air segarnya itu. Dia menatap ke arah pintu mendapati Kai lagi disana. "Ada yang mencarimu." Setelah kalimat itu Kai kembali pergi dan muncul- lah satu vampire yang dikenal semua warga akademi. Entah karena peristiwa itu atau hal lain.
"Jim? Masuklah." Perintah Joe padanya.
Jim pun berjalan mendekatinya dan duduk disebelahnya. "Apa kau masih latihan?"
"Tidak. Baru saja selesai." Joe menutup botol minumnya. "Ada apa mencariku?"
Jimin membuang tatapannya dan membenarkan posisi duduknya. Seketika dia merasa sangat tak nyaman. "Saat di aula kemarin..aku mendengar kau menemukan seseorang di hutan di Korea.."
Joe yang tau arah pembicaraan Jimin kemana segera paham dan mengangguk. "Kau penasaran dengannya? Haha.." tawanya membuat Jimin mengedikkan bahunya. "Yaa..aku menemukannya. Dia berlari entah apa alasannya. Aku yang tengah berjalan, menemukannya. Waktu itu dia benar-benar baru menjadi vampire. Aku tau karena raut wajahnya yang kebingungan. Dan kau tau? Bila aku tak menahannya, dia akan segera membunuh manusia. Maka dari itu, aku mengajaknya kesini."
Jimin mengangguk. "Siapa? Dia siapa?"
"Namanya maksudmu?" Joe membuat Jimin mengangguk kembali. "Karin. Sebenarnya itu hanya panggilan dariku untuknya. Nama aslinya Kang Sae Rin."
Awalnya Jimin sedikit agak lega mendengar nama awal yang Joe ucapkan. Namun saat Joe melanjutkan kalimat selanjutnya. Itulah hal yang tak ingin dia dengar. Jimin langsung bangkit berdiri dengan pikiran yang berkecamuk tak menentu. Tak mungkin..
"Jim? Kau tak apa?" tanya Joe menatap bingung.
"Apa..apa kau tak salah orang Joe?"
"Apa maksudmu?"
Jimin mengatur nafasnya. Keringat dingin mulai menggerayami tubuhnya.
AAAKHHH!
Aku..ingin mati saja..
DIA SUDAH TAK BERNAFAS BODOH!!
"Jim.." Joe menepuk bahu Jimin. Membuat Jimin menatapnya dengan mata yang memerah. Tak ada yang tak tau apa yang akan terjadi selanjutnya bila Jimin sudah memerah.
"Kang Sae Rin..sudah mati Joe. Dan aku yang membunuhnya."
"Joe!" Sebuah seruan membuat Jimin menunduk dan bergegas pergi. Melewati perempuan yang tadi berseru kepada Joe. "Hi Jim—" Anne tak menyelesaikan kalimatnya karena Jimin yang tak sedikit pun meliriknya dengan mata kemerahannya yang memudar.
Anne berbalik menatap pada Joe yang berekspresi tak jelas, terkejut dan bingung. "Joe ada apa?" tanyanya pada lelaki itu. Dan responnya hanya sebuah gelengan. "Kau sendiri?"
"Ah itu..Karin di UKS."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
BRAK! Bantingan pintu itu membuat Jin terperanjat. Namun tidak dengan Kim. Dia yang sedang menggenggam gelas yang berisi cairan merah pekat hanya tersenyum dan berbalik menatap vampire di ambang pintu dengan wajah tak marah bukan main. "Kau memang cermat Suga." Kim melirik tangan Suga dengan sebuah buku replika yang dia buat sendiri. Sikapnya yang merasa tak bersalah membuat Suga sudah ingin mendobrak tembok kesabarannya. Buktinya dia melempar buku itu pada Kim. Yang membuat gelas yang sedang digenggamnya jatuh dan pecah. "Apa yang kau—"
"Ada apa lagi kalian ini?!" kesahnya saat Suga telah mendorong Kim pada dinding kamar asramanya dengan sangat kasar.
"Hhh..hhh.." Suga mengatur nafasnya dan semakin mengeratkan tangannya pada kerah baju Kim. "Buang saja dendam busukmu itu brengsek! Rin telah mati karena rencanamu itu, dan kau ingin membuatnya lebih menderita lagi setelah ia kembali!"
"Suga..apa maksudmu?" Jin mengkernyit bingung. Dia meminta jawaban pasti.
"Iya..Jimin berhasil merubahnya." Ucapnya sebelum punggungnya menyentuh lantai dengan keras.
"KIM CUKUP!" Jin menahannya. Namun Kim menepis tangannya dan mendorong Jin menabrak kursi sofa disana.
"Rencanaku? Bagaimana dengan kau dan Jin? Kalian ikut bersamaku bukan?" Perkataannya membuat Suga mendecih. Dia bangkit mengambil buku replika yang ia lempar dan beranjak pergi, enggan mendengar omongan tak berguna Kim. Tapi Kim berhasil menghentikannya. "Kita membunuhnya."
Suga mengepalkan kedua tangannya.
"Kau menyukai adikku Suga. Aku tau itu. Tapi kau tak bisa berbuat apa-apa karena dia memilih Jimin. Ketika Saeun mati. Kau merasakan hal yang sama sepertiku, kau menyalahkan semuanya pada Jimin. Penyebab kematian Saeun adalah Jimin. Dan karena itu aku membuat sebuah rencana untuk membalas atas kematian itu.." Kim membuang mukanya. "Aku kehilangan adikku, kau kehilangan orang yang kau sayangi."
Kesabaran Suga mengepul ke udara. Buku itu ia jatuhkan. Kecepatannya membawanya pada Kim, lalu meninjunya keras.
"Suga!" Jin menarik badannya menjauhi Kim yang sekarang hanya memberikan senyumannya.
"Dan aku tak kan kehilangannya lagi untuk yang kedua kalinya, Kim." Suga melepas kedua tangan Jin kasar dari tubuhnya. Dia mendekati buku replika itu dan melemparnya ke perapian. Buku itu terbakar bersama kesabaran Suga.
Jin menatap Kim. "Apa yang kau rencanakan Kim? Kenapa kau mereplika buku itu? Apa kau tau, kau akan mendapat hukuman bila Sir Zian mengetahuinya."
"Kau dengar sendiri bukan? Suga bilang Jimin merubahnya. Itu artinya pada hari itu, Rin bangun kembali menjadi seorang vampire. Aku hanya ingin tau kondisinya seperti apa." Jelas Kim membuat Jin tak dapat menangkap yang dimaksudnya. "Sudahlah, kita ada kelas. Ayo pergi."