4. Salah Sangka

2.3K 393 67
                                    

Motor Irzan kini sudah bergabung dengan beberapa kendaraan lain yang melaju di jalan raya. Ada yang mematuhi peraturan jalan raya, ada juga yang tidak. Namanya juga dunia, jika semua orang diciptakan dengan otak lurus semua, gak kebayangkan gimana canggung dan tenangnya dunia. Gak asik! Bahasa gaulnya.

Lain dengan Irzan yang saat ini tengah merasakkan apa itu keasikkan dunia. Ngeboncengin (namakamu)! Cewek yang udah ditaksir dari dia masih polos (kelas 10) sampai sekarang jadi bangsat (kelas 12) akhirnya mau merasakan jok motornya yang malang, yang selalu saja jika tidak didudukki Sandi, ya Abizar. Begitu sebaliknya.

Dan sekarang jok motornya sudah mencicipi hangatnya bokong (namakamu)! Makanya Irzan gak mau nyia-nyiain kesempatan, jadilah saat ini Irzan melajukan motornya dengan sangat amat lambat sekali.

"Buang-buang bensin aja terus!" Pernyataan itu menyindir Irzan. Yakeles udah 20 menit dan mereka masih di jalan raya, belum memasukki kawasan perumahan, boro-boro perumahan, ini aja masih termasuk daerah Sekolahnya.

Astaga, kebayang Irzan bawa motornya selambat apa?

Keong? Kalah!
Kura-kura? Udah nyampe rumah!

Ya Allah, kalo kayak gini caranya lebih baik (namakamu) berjalan kaki. (Namakamu) yakin tempo dia berjalan kaki dengan tempo kecepatan motornya Irzan, akan lebih cepat tempo berjalannya.

"Naik-naik pake motor Irzan, lama-lama sekaliiiii. Naik-naik pake motor Irzan, lama-lama sekaliiii. Kiri kanan ku lihat saja banyak motor dan mobillll. Kiri kanan ku lihat saja, eh di belakang ada (namakamu) yang cantik..🎵"

Irzan malah menjawab pertanyaan (namakamu) dengan nyanyian naik-naik ke puncak gunung yang diubah seenak udelnya.

(Namakamu) lantas memukul punggung Irzan keras. "Ih! Gue udah ngomong pelan-pelan ya, tapi lo selalu aja gak ngerti dan kayaknya hobi banget bikin gue ngomel!" teriak (namakamu) tepat di telinga Irzan yang untung dilindungi helm, jadi gak terlalu membuatnya budek. "Turunin gue dah mendingan!"

Irzan menggeleng dua kali. "Nggak. Mau." Dia terus menggas motornya, hingga kini dia sampai di kawasan Bundaran HI.

"Irzaaan! Gue mau cepet-cepet nyampe! Gue laper belom makan siang!" kata (namakamu) memberondong.

Ini sudah yang kedua kali motor Irzan mengitari bundaran HI. Irzan tidak peduli jika harus ditilang, tapi kalo bisa sih dia jangan ditilang.

"Tadi ditawarin makan di warung Mpok Endah gak mau," kata Irzan nyindir balik. "Malu-malu kucing sih."

"Kok lo jadi nyalahin gue sih!" (Namakamu) tidak terima. "Sekarang mah berhentiin aja motor lo biar gue jalan sekalian!"

Sedikit tidak menyangka saat Irzan benar-benar membawa motornya ke pinggir lalu perlahan mesin motor Irzan pun berhenti di samping tukang pecel lele.

Selain rese dan nyebelin, Irzan juga ternyata gak peka!

"Cepet turun," kata Irzan yang kini sudah membuka helm full facenya.

(Namakamu) masih cengo. Ini masih jauh banget dari kawasan rumahnya, dan Irzan benar-benar ingin menurunkannya? Sendirian? Di sini? Oh teganya.

"Turun sayang, apa perlu aku gendong?" Sikap nyebelin Irzan kembali hadir. Cowok itu sudah berdiri di samping motor setelah menaruh helmnya di atas tangki bensin.

"Makasih!" cetus (namakamu) lantas melompat dari motor Irzan tanpa aba-aba, karena kesal. Namun pendaratannya ternyata tidak semulus yang dia kira. (Namakamu) tersungkur di bawah dengan lutut yang sedikit tergores aspal.

"Ya ampun (namakamu)!" pekik Irzan berjongkok. Segera dia membantu Irzan untuk berdiri lalu dia menghela (namakamu) memasukki warung pecel lele yang berdiri seadanya di pinggir jalan. "Tunggu disini! Gue beli plester dulu."

(Namakamu) meringis. Lututnya memang sedikit mengeluarkan darah, namun ini benar-benar sedikit, karena (namakamu) kan mengenakan rok panjang.

Dia tersenyum pada ibu yang sepertinya pemilik warung.

"Mau pesen apa neng?" tanya ibu itu ramah.

"Ah enggak Bu, saya numpang duduk sebentar ya," (namakamu) tersenyum memohon maklum dan ibu pun itu menyanggupinya.

Tidak berdarah sih lukanya hanya perih saja. (Namakamu) meringis mengangkat roknya perlahan lalu dia menunduk untuk dapat melihat lututnya yang tergores sedikit.

"Siniin lutut lo, (nam)," kata Irzan tiba-tiba. Dia membuka plester yang dia beli di warung kecil pinggir jalan. "Bukain roknya, ntar kalo gue yang buka malah keterusan."

Langsung saja kepala Irzan mendapat pukulan keras dari (namakamu).

Irzan terkekeh, dia pun mulai memasangkan plester itu menutupi luka goresan (namakamu).

Setelah selesai dengan luka itu, Irzan mengangkat tangannya memanggil ibu yang tadi sempat menyapa (namakamu).

"Bu, pesen dong!" panggil Irzan. "(Namakamu) tuh lo pesen apa," Perkataan Irzan membuat (namakamu) melongo seakan berkata 'maksud?'.

"Pesen (namakamu), katanya lo laper pengen makan siang," kata Irzan santai yang kini di tangannya berada kaleng krupuk. Seperti biasa, dimanapun berada Irzan selalu ngemil krupuk.

"Jadi pesen juga mbak?" tanya ibu itu ramah.

(Namakamu) tertawa ringan dan melirik Irzan yang asyik makan krupuk.

"Pesen aja sih, lo mau apa bilang aja, mau nambah atau bungkus juga bilang aja, tenang ada Irzan," Mata Irzan lutchu, mulutnya pun kembali menggigit krupuknya.

Ternyata (namakamu) salah sangka pada Irzan, dia pikir Irzan berhenti tadi ingin menyuruhnya berjalan saja, dia pikir Irzan jahat, dia pikir Irzan tega namun ternyata dia salah, segala hal yang ada di pikirannya tentang Irzan salah besar.

"Makasih ya bu," (namakamu) berkata itu saat ibu pemilik warung itu meletakkan sepiring nasi, ikan lele, lalapan dan semangkuk sambal, lalu ada mangkok berisi air bersih untuk kobokkan.

"Zan, makasih ya," kata (namakamu) tersenyum.

Irzan terkekeh. "Santai, ada Irzan." jawabnya menggunakan nada suatu iklan.

•••A/N•••


oke bang irzan aku akan selalu santai😘😘😘

maaf yha pendek, daripada gue gak ngenext samsek? mending update walupun pendek.

jangan lupa vote dan comment yaaa. follow leh ugha ihiy.

(Kamis, 25 Mei 2017)

Time [Irzan]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang