5. Kelakuan Irzan

2.6K 386 68
                                    

"Turun (nam)," perintah Irzan ketika motor ninja putihnya berhenti di depan gerbang suatu rumah di dalam komplek. "Atau lo masih betah ya lama-lama sama gue?" Irzan menyeringai di balik helm full facenya.

(Namakamu) memukul helm Irzan. "Siapa juga yang mau lama-lama sama lo?!" hardik (namakamu). "Gue mau turun tapi entah kenapa lutut gue jadi ngilu." (Namakamu) cemberut.

"Yaudah," Irzan pun turun dari motornya, sebelum itu dia sudah membuka helm. Sedikit berjalan ke sisi (namakamu), tangannya terulur seperti ingin menggendong.

"Apaan?!" kata (namakamu) ketus.

"Sini gue gendong," Irzan menggerakkan tangannya. Dia bermaksud menggendong (namakamu) di depan, jelas saja (namakamu) menolak, memangnya dia bocah?

"Nggak ah, emang gue anak kecil digendongnya kayak gitu," (namakamu) langsung berusaha turun, namun tetap saja rasanya ngilu. Dia pun meringis.

Irzan segera menunjukkan punggungnya. "Yaudah biar gue gemblok sini,"

Mata (namakamu) melirik ke punggung Irzan. Kenapa sih Zan? Kini tatapannya menyendu.

"Cepet, pegel nih gue," kata Irzan tanpa menengok. Tubuhnya memang sedikit menunduk bermaksud mempermudah (namakamu).

Tapi sepertinya—menurut Irzan—cewek itu belum yakin padanya.

"Gak bakal jatoh," kata Irzan. "Biarpun lo jatuh juga paling jatuh cinta sama gue," Dia terkekeh.

Tangan (namakamu) kembali terulur memukul punggung Irzan, membuat cowok itu tersenyum miring.

"Sinian, lo-nya kejauhan," pinta (namakamu) dengan nada unyu.

"Okay Darl!"

(Namakamu) pun mendarat tepat di punggung Irzan. Cowok itu segera berjalan ke gerbang dengan perlahan.

"Berat," Irzan berkata dramatis. "Lo gendut juga ya ternyata."

Sekali lagi, (namakamu) memukul cowok itu di bagian lengannya. "Apa lo bilang?!"

"Kamu gendut sayang," Irzan terkekeh, kini dia sudah berada di hadapan gerbang jadi tubuhnya yang sedikit membungkuk menjadi tegak kembali.

"Udah tau gue gendut," (Namakamu) berkata sinis, bermaksud menyindir dengan tambahan kalimat 'ngapain lo masih suka?' Namun kalimat itu tidak mampu ke luar dari mulutnya.

Tangan (namakamu) berusaha membuka gerbang, karena memang rumahnya tidak memiliki satpam. Toh rumahnya tidak begitu besar, masih bisa dijaga tanpa satpam.

"Sayangnya gue suka cewek gendut, tapi gak gendut-gendut amat sih," kata Irzan. "Pokoknya lo itu tipe gue banget."

(Namakamu) menghiraukan ucapan ngawur Irzan, dia berusaha membuka gerbang dengan posisi masih di gendongan. Irzan yang melihat (namakamu) kesusahan, menaikkan sedikit tubuh gadis itu.

"Pegangan," Irzan melepas kedua tangannya yang menopang tubuh (namakamu). Lalu dengan cepat dia mendorong gerbang ke samping. Hingga dia bisa masuk ke dalam area rumah.

"Sampe depan pintu ya Jan," kata (namakamu) sebenarnya tidak enak hati.

"Sampe dalem kamar juga gue jabanin," jawab Irzan yang dihadiahi pukulan di lengan kanannya.

"Jangan macem-macem!"

"Paling cuma satu macem,"

"Irzannnn!"

Irzan terkekeh. Sampai di depan pintu, dia segera berjongkok. (Namakamu) pun perlahan turun dari gendongan Irzan, tidak langsung berdiri melainkan duduk nyelonjor, tangannya merogoh tas mencari sesuatu.

Time [Irzan]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang