Jiyeon berkali kali menepis pikiran buruknya sendiri. Mencoba menolak kenyataan yang jelas ada di depannya.
Ini terlalu menyakitkan untuknya.
Benarkah yang dilihatnya saat ini? Dia tidak ingin mempercayainya namun matanya tidak salah lihat. Jangan lupakan telinganya yang juga masih bisa mendengar dengan baik.
"Benarkah kau Son Naeun? Sonna-ku?"
"...aku merindukanmu,"
Itu memang suara Myungsoo. Jiyeon sangat mengenal suara lelaki itu dengan baik. Jangan lupakan jika mereka datang bersama ke rumah sakit ini. Dan ternyata menjenguk Naeun, yang Jiyeon tahu gadis itu adalah tunangan Xi Luhan, teman baik Myungsoo.
Semua masih berjalan normal dan tidak mencurigakan sampai beberapa menit yang lalu Jiyeon pamit ke toilet. Dan dimana Luhan sekarang? Mengapa hanya ada Myungsoo dan Naeun di dalam sana?
Mengapa juga Myungsoo berbicara seperti itu pada Naeun? Apa mereka punya hubungan khusus?
Jiyeon benar benar tak mengerti dengan semua ini. Namun dia bersumpah akan mencari tahu semuanya.
Dan gadis itu harus kembali merasakan sakit di ulu hatinya saat kembali mengalihkan perhatiannya pada Myungsoo di dalam sana.
Lelaki itu mencium Naeun? Astaga sebenarnya apa yang Myungsoo lakukan?
Air mata Jiyeon tak sanggup tak terjatuh saat itu juga. Dia menutup mulutnya menahan isakannya yang semakin menjadi. Bahkan memukul mukul dadanya sendiri, berharap rasa sakit di dalam sana sedikit berkurang.
Jiyeon menggigit bibir bawahnya keras. Ini benar benar menyakitkan. Gadis itu berbalik, berlari sejauh mungkin tak ingin melihatnya lagi.
"Myungsoo-ah, apa kau tahu jika ini benar benar menyakitkan untukku? Apa artinya aku menunggumu selama ini? Apa benar tak ada harapan sedikitpun untukku?"
~ ㅇㅇㅇ ~
"Naeun-ah, ayo buka mulutmu. Kau harus makan.."
Luhan dengan sabar terus membujuk Naeun agar mau makan. Saat ini gadis itu sudah sadar namun bahkan enggan menyentuh makanannya sedikitpun.
"Lu.. kapan kita pulang?" lirih Naeun dengan suara seraknya.
Pandangannya menerawang kosong menembus jendela. Menatap daun daun maple yang berjatuhan. Enggan menatap Luhan yang bahkan dua jam ini setia menemaninya sejak dia bangun.
Entahlah, Naeun benar benar merasa bersalah pada Luhan. Hingga dia sendiri tak sanggup walau hanya menatap wajah tampan Luhan.
Pulau Nami benar benar pengalaman indah sekaligus menyakitkan untuknya. Lagi lagi dengan satu orang yang sama. Kim Myungsoo. Padahal dia belum sempat menikmati indahnya pulau ini dan pertemuannya dengan Myungsoo merusak semuanya.
Naeun tidak tahu harus menyalahkan siapa atas semua kekacauan ini. Semua benar benar di luar dugaannya.
"Naeun, sebenarnya eomma menyuruh kita melakukan foto pre wedding disini. Beliau bahkan sudah menyiapkan segala keperluannya. Dan aku mengundang Myungsoo kesini juga bukan tanpa alasan, aku memintanya menjadi fotografer kita.." papar Luhan. Tentu saja membuat Naeun terkejut setengah mati.
"Apa? Kenapa aku tidak tahu? Kenapa kau tidak memberitahuku Lu?"
"Maaf Naeun-ah, aku ingin memberimu kejutan namun aku tidak tahu kalau akhirnya akan seperti ini.."
Luhan meletakkan kembali mangkuk makanan Naeun di atas nakas. Beringsut pelan mendekati gadis itu dan duduk di tepi kasur Naeun.
"Jangan kesal begini sayang, kalau kau tidak setuju kita bisa batalkan saja dan lakukan lain waktu. Bagaimana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Between Us ✔
Fiksi PenggemarSon Naeun tak pernah menyangka, jika perpisahannya dengan Kim Myungsoo bukanlah akhir dari segalanya. Perpisahan tanpa kata itu justru merupakan awal yang baru bagi kisah mereka. Namun, keadaan memang sudah tak sama. Naeun yang sudah terikat dengan...
