Part 17 : Gone

296 37 23
                                        


"Usia kandungannya baru mencapai dua minggu, tergolong masih sangat lemah. Selain itu nona Son sepertinya memang mempunyai beban dan tekanan berat hingga mengalami stress. Semua itu yang menyebabkan kegugurannya.."

"Dua minggu dokter?"

"Benar, setelah ini tolong jaga nona Son dengan lebih baik lagi. Jangan biarkan dia berlarut larut dalam tekanan, sebisa mungkin jaga pikirannya agar tetap tenang. Ah iya ngomong omong, apa Anda suami nona Son?"

"Ya.. nngg benar, saya suaminya.."









Tidak mungkin.

Tungkainya sontak mundur beberapa langkah setelah mendengar semuanya. Mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.

Dia keguguran?

Bagaimana bisa?

Ingatannya kembali melayang pada malam itu. Tepat sebulan sebelum pernikahannya. Ketika dengan nekatnya dia mendatangi lelaki itu dan harus berakhir dengan perlakuan menyakitkan.

Benar. Lelaki itu pelakunya. Yang telah merebut mahkota berharganya.

Tubuh ringkihnya merosot di balik dinding putih tersebut. Mengabaikan tatapan iba orang orang yang berlalu lalang di koridor rumah sakit itu. Menekuk lututnya dan terisak keras.

Mengapa hidupnya selalu penuh kesakitan?

Menyedihkan.

Hingga sepasang tangan kekar merengkuhnya ke dalam sebuah pelukan erat. Membuat isakannya justru semakin terdengar memilukan.

"Tidak apa apa Sonna, aku di sampingmu.."

Kim Myungsoo.

Naeun tak tahu apa yang harus dia lakukan pada lelaki itu. Dia merasa sudah tak pantas dan tak sanggup menghadapi lelaki itu.

"Myung..soo-ah.. a-anakku.. aku.. a-aku kehilangan anakku..hiks," tangis Naeun pilu.

Hati Myungsoo meringis melihat Naeun meratap pilu. Gadis itu pasti sangat tertekan dengan semua permasalahannya.

"A-ku.. mau mati saja..hiks.. ini rasanya sangat menyakitkan.."

"Tidak Naeun, kau harus bertahan. Tidak apa apa, aku selalu di sampingmu."

Tangis gadis itu justru semakin keras, menjambak rambut indahnya yang kini terlihat kusut tak terawat. Hingga memukul mukul dada Myungsoo melampiaskan rasa sakit di dadanya.

Haruskah Naeun katakan jika dia benci hidupnya? Dia benci Luhan yang membuatnya selalu ketakutan dan kini kehilangan janinnya. Dia membenci Chorong yang sudah menghancurkan hidupnya. Dia bahkan membenci Myungsoo karena tak bisa berhenti mencintai lelaki itu.

Terlepas dari semua rasa bencinya, terutama pada Luhan, tetap saja Naeun tak akan rela kehilangan janinnya. Walaupun dia tak pernah menginginkan hadirnya benih itu, namun bagaimanapun juga sang benih tak bersalah.

*

"Apa yang terjadi?"

Suara bariton itu sedikit menggema, karena koridor sudah terlihat lengang. Membuat Myungsoo menolehkan kepalanya ke sumber suara. Terlihat menggeram saat tahu siapa yang datang.

"Xi Luhan, brengsek kau!!"

BUGH!!

Satu pukulan keras mendarat sempurna mengenai pipi Luhan. Mengakibatkan ujung bibirnya mengeluarkan darah segar, pipinya membiru seketika.

Myungsoo menarik kerah Luhan kasar. Memaksa lelaki itu berdiri, menghempaskannya dengan kasar ke dinding.

"APA YANG SUDAH KAU PERBUAT PADA NAEUN, HAH? MASIH BELUM PUAS KAU MENGHANCURKAN HIDUPNYA? KAU!! KAU JUGA YANG SUDAH MEMBUAT NAEUN HAMIL KAN? JAWAB!!"

Between Us ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang