It's hard for me
Because when morning comes
You'll wake up as if nothing happened
♫ ♪ ♫ ♪
Hanyang, 1623.
In Author's Eyes...
"Apa kau yakin ingin mati dengan cara seperti ini, Hyunhee-ah?"
Pertanyaan itu membuat Hyunhee terdiam. Apa benar dirinya ingin mati? Setelah beberapa hari memperjuangkan kehidupannya, menganggap jika mungkin dirinya bisa kembali dengan sendirinya ke waktu yang ia tinggali, apa sekarang Hyunhee akan menyerah?
"Kita tidak punya pilihan lain."
"Apa kau tidak ingin menunggu saja hingga—"
"Tidak bisa, Jongdae. Aku sudah banyak membuang waktu di sini. Apa aku akan mati jika aku meminum ini?" pertanyaan itu akhirnya Hyunhee utarakan. Seolah ia enggan memikirkan tentang bagaimana hidupnya akan berakhir setelah ini.
"Ya. Kau hanya akan merasa dirimu tengah mengantuk." ucap Jongdae, tidak ingin lagi berbantah kata dengan Hyunhee. Ia tahu keputusan gadis itu sudah begitu bulat.
"Baiklah. Kalau begitu aku tidak akan menunggu lagi." tepat setelah mengucapkan kalimat tersebut, Hyunhee meneguk habis cairan dari dalam cawan kecil yang ada di tangannya. Membiarkan Jongdae menatapnya tidak percaya—seolah pemuda itu sebenarnya mengharapkan keraguan lainnya dari Hyunhee.
"Ini." Hyunhee mengulurkan cawan kosong tersebut pada Jongdae, sementara Jongdae sendiri menerimanya dengan sedikit ragu, manik pemuda itu masih lekat menatap ke arah Hyunhee.
"Jangan khawatirkan aku. Bukankah kau bilang kalau aku tidak akan merasa sakit? Kau bisa tinggalkan aku, aku akan tidur di sini sampai seseorang menyadari kepergianku." ucap Hyunhee, menepuk-nepuk pengalas yang sedari tadi menjadi pengalasnya duduk, sementara gadis itu tersenyum, berusaha menenangkan Jongdae, agaknya.
"Aku akan menemanimu." putus Jongdae, meletakkan cawan tersebut tidak jauh dari jangkauannya sementara ia memperbaiki posisi duduk, mencari tempat ternyaman untuknya agar bisa tetap memperhatikan Hyunhee.
"Apa? Tidak perlu, Jongdae. Aku akan baik-baik saja." tolak Hyunhee mentah-mentah. Sementara Jongdae berkeras, gelengan tegas ia berikan pada Hyunhee, tanpa ada kata.
"Setidaknya aku harus memastikan kau kembali ke kehidupanmu."
"Bagaimana kau akan memastikannya?" Hyunhee bertanya, sementara ia membaringkan diri, memutuskan untuk tidak berdebat dengan Jongdae dan mengusirnya.
Tidak malah menjawab, Jongdae hanya memberikan sebuah senyum kecil.
"Biarkan saja aku memastikannya dengan caraku, Jo Hyunhee."
Akhirnya, Hyunhee terdiam. Cukup lama sampai ia memutuskan untuk kembali membuka konversasi. "Kau tahu darimana aku mengetahui tentang kematianku, Jongdae-ya?" tanyanya membuat Jongdae mengalihkan pandang.
"Bagaimana?" tanya Jongdae.
"Aku terjebak di tubuh reinkarnasiku yang lain. Dan secara kebetulan aku harus datang ke sebuah pemakaman. Di sana... aku melihat makamku sendiri. Aku mati di hari ulang tahunku yang ke dua puluh sembilan. Kalau kupikir lagi, mungkin saat aku kembali nanti ke kehidupanku, aku hanya punya beberapa hari saja tersisa sebelum ulang tahunku."
Jongdae terdiam sejenak, tampak berpikir.
"Bagaimana kau bisa yakin?" tanya pemuda itu akhirnya. Hyunhee mendesah pelan, sebenarnya gadis itu juga tidak yakin.
KAMU SEDANG MEMBACA
SWITCH [finished]
FantasyKemampuan berpindah tubuh di waktu yang berbeda, bisakah kalian mempercayainya? Well, hal itu terjadi pada seorang Jo Hyunhee. Berulang kali, ia terjebak di dalam tubuh orang-orang yang merupakan 'reinkarnasi' dari dirinya. Ia bahkan mengetahui fakt...
![SWITCH [finished]](https://img.wattpad.com/cover/87412210-64-k778111.jpg)