Aldian

101 1 0
                                        

Lelaki tersebut senyum penuh kehangatan pada Pink, "Pink..." ucapnya.

Pink melangkah mundur, "Kak... mungkinkah?" Pink merasakan seperti hatinya disayat pisau. Menusuk. Perih. Sesak.

Lelaki tersebut melangkah maju mendekati Pink, "Pink, Kakak tahu Kakak salah--" ucapannya terpotong.

"Nggak! Kakak nggak salah! Sama sekali nggak salah! Kak, aku yang salah! Aku kenapa? Kenapa aku selalu mimpi tentang Kakak? Apa karena rasa bersalah aku? Tapi entah kenapa mimpi kali ini berasa nyata? Jelasin ke aku Kak!" penglihatan Pink kabur, kepalanya pusing, hatinya sakit, nafasnya tak beraturan. Dan dengan langkah yang berat Pink berjalan maju menuju seseorang yang dipanggil 'Kakak' oleh Pink.

"Jelasin ke aku Kak!" ucap Pink setelah berada di depan orang yang dipanggil 'Kakak'.

Tap. Kedua tangan Pink sudah mendarat di kedua bahu kakaknya. Seakan terdapat duri tajam di bahu kakak Pink, Pink tersentak setelah memegang bahu kakaknya. Dan langsung melepas kedua tangannya dari kedua bahu milik kakak Pink.

Pink melangkah mundur dengan langkah berat, namun ia memaksakan untuk mempercepat langkah mundurnya. "I-i-ini nyata?" tanya Pink yang entah kepada siapa sambil menatapi kedua telapak tangan yang digunakan Pink untuk menyetuh bahu kakaknya tadi.

"Pink ini benar-benar nyata!" lelaki itu melangkah maju mendekati Pink dengan kekhawatiran di wajahnya karena perubahan wajah Pink yang memucat.

Pink mendongak, melihat ke arah kakaknya berdiri lalu sejurus kemudian Pink menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.

"Pink? Siapa?" teriak Deren dari dapur.

Mendengar teriakan Deren, Pink kaget. "I-ini b-benar b-benar b-bukan m-m-mimpi?" suara Pink bergetar tak karuan karena suara tersebut dipaksakan, tubuhnya pun ikut bergetar, kakinya lemas, Pink sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri, pandangannya semakin kabur. Namun ia memaksakan untuk mundur walaupun hanya satu langkah.

PRAK. Tubuh Pink jatuh menyenggol vas bunga yang sedari tadi terletak di atas meja tepat dibelakang Pink berdiri. Sehingga pecahan vas bunga tersebut ada beberapa yang mengenai pelipis kepala Pink. Tampak darah segar pun muncul dari kepala Pink.

"Pink! Pink!" lelaki tersebut panik dan langsung berlari ke arah Pink.

"Deren! Deren!" masih dengan lelaki itu, ia teriak dengan paniknya, yang sepertinya sudah mengenal Deren. Lelaki itu menyingkirkan pecahan vas bunga dan mengangkat kepala Pink ke pangkuannya sambil sesekali menyeka darah yang keluar dari pelipis kepala Pink dengan hati-hati.

"Suara lelaki? Gua nggak salah denger kan?" ucap Deren yang posisinya masih di dapur dengan cemilan di tangannya karena lama menunggu Pink kembali ke dapur tadi.

"Deren!" teriakan lelaki tersebut pun semakin keras.

Deren langsung bangun dari tempat duduknya dan menuju asal suara. Dengan membawa cemilannya.

PRAK. Toples kaca tempat cemilan yang tadi di bawa Deren jatuh. Mata Deren membelalak. Sama seperti Pink, Deren tidak percaya dengan penglihatannya sekarang. Deren melangkah mundur, sama seperti yang Pink lakukan. "Aldian?!" ucapnya kemudian, sambil nafasnya memburu.

"Oh tolonglah! Jangan sekarang Deren! Ya, gue Aldian! Gue akan jelasin! Tapi nanti! Karena itu nggak penting!" cowok bernama Aldian melepar sesuatu ke arah Deren yang berasal dari saku celananya.

"Kunci mobil?" Deren heran ketika berhasil menangkap benda yang di lempar Aldian.

"Lo bawa mobil gue di depan, ke rumah sakit!" Aldian kesal karena sikap Deren yang entah sedikit bego apa emang benar-benar bego--Eh tapi kalau dia bego ko bisa dapet beasiswa di Paris? Oke itu nggak penting--

P.I.N.KTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang