Vernon

290 28 0
                                        

Did you go far away, because you didn’t like me any more

Aku masih menatapnya lekat. Menatap mata indahnya yang menatap mataku begitu dalam. Dan semoga saja aku memiliki waktu yang banyak untuk dapat terus melihatnya.

"Jiah?" Panggilnya

"Hm?"

"Sampai kapan kau akan terus menatapku seperti itu?"

"Sampai aku tak bisa menatapmu lagi selamanya"

"Jangan mengatakan hal seperti itu. Aku percaya bahwa kau akan sembuh, kau akan mendapatkan pendonor. Jadi kumohon jangan mengatakan hal seperti itu lagi"

Aku tersenyum, tanganku meraih pipinya, membelainya dengan lembut sampai membuat dia menunduk.

"Kau harus melanjutkan jalanmu Vernon. Kau tampan, kau pintar. Banyak wanita sempurna yang mengantri untuk menjadi pendampingmu"

"Kau sempurna sayang. Sangat sempurna. Aku tidak butuh wanita lain." tanganku yang tadinya menyentuh pipinya, sekarang sudah di genggam dengan erat. Diciumnya berkali kali.

"Vernon~"

"Aku sangat mencintaimu, aku tak akan melepaskanmu. Dan aku yakin Tuhan tak akan memisahkan kita"

Mataku memanas. Aku selalu ingin menangis mendengar kalimat yang keluar dari bibirnya setiap saat. Aku tidak tau perbuatan apa yang kulakukan dimasa lalu sampai Tuhan memberikan ku orang seperti Vernon untuk menjagaku.

"Jangan menangis sayang" jari jarinya menghapus air mataku. Dan aku tersenyum

TOK TOK TOK

Pintu terbuka, kulihat dokter Kim masuk dengan perawatnya. Dia tersenyum padaku seperti biasanya

"Yoo Jiah ssi. Kami sudah menemukan pendonor. Jadi jika kau setuju, kami akan segera menjadwalkan operasimu"

"Benarkah itu dokter?" Tanya Vernon tak percaya. Sebenarnya aku juga tidak percaya dan ingin bertanya, tapi rasanya pertanyaan itu tidak ingin keluar

"Ya itu benar"

"Baiklah. Kau bisa menjadwalkannya segera. Dan dokter Kim, bisa kita berbicara sebentar? Berdua saja?" Aku melirik Vernon

"Baiklah aku akan keluar" dan Vernon keluar bersama dengan suster yang mengikuti dokter Kim tadi

"Ada apa Jiah?"

"Berapa kemungkinan aku bertahan jika menjalani operasi itu?"

"Kami, tidak bisa mengatakan itu. Meskipun sudah cocok, tapi jika tubuhmu menolak jantung yang baru maka semua hal buruk bisa saja terjadi"

"Dokter, aku minta tolong. Aku tidak akan memaksamu untuk mengobatiku. Aku sudah pasrah apapun nanti yang terjadi, tapi aku mohon jika operasi ini gagal. Tolong berikan surat ini pada Vernon nantinya. Dia sudah sangat berjasa menjagaku selama ini" aku tersenyum dan memberikan surat yang sudah kutulis dan kusimpan selama ini.

"Aku akan berusaha agar surat ini tidak sampai ketangannya"

"Terima kasih atas usahamu selama ini dokter Kim. Aku berhutang banyak padamu"

"Sudah tugasku menyembuhkan pasienku. Aku akan segera menjadwalkan operasimu"

"Baiklah"

.

Dan hari ini pun datang, aku dengar orang yang akan memberikan jantungnya padaku sudah 'dipanggil' terlebih dahulu, sebelum perkiraan sebenarnya. Seharusnya 2 minggu lagi, namun Tuhan berkata lain. Dan apakah Tuhan akan memberikanku kesempatan baru? Atau justru ikut 'dipanggil'? Aku tak tahu.

1 jam sebelum operasi dimulai. Vernon terus berada disampingku. Vernon terus menggenggam erat tanganku, menyentuhnya, mengelusnya, menciumnya berkali kali. Aku hanya bisa tersenyum melihatnya.

"Jiah, ingatlah kalimatku. Tetap bertahan, bertahanlah. Karna aku akan sangat merindukanmu selama kau ada didalam sana nanti. Aku sangat mencintaimu, jadi kumohon kembalilah nanti bersamaku"

"Aku akan berusaha bertahan untukmu"

Tangannya membelai lembut pipiku. Aku menutup mataku sejenak, merasakan sentuhannya. Sungguh, mungkin ini adalah hari terakhirku disini.

Vernon mencium keningku lembut, turun ke mata, lalu ke hidung. Dan terakhir kurasakan bibirnya menyentuh bibirku gemetar.

"Aku mencintaimu" dan diapun berbisik tepat didepan bibirku setelah dia melepas ciuman kami.

"Aku juga" dan setelah aku mengatakan itu. Dokter Kim datang ke ruanganku. Dia sudah menyuruhku untuk bersiap.

Tempat tidurku didorong menuju ruang operasi. Dokter Kim mengatakan dia akan melakukan yang terbaik dengan sekuat tenaganya. Dan setelah suntikan anastesi itu masuk kedalam tubuhku, aku sudah tak dapat melihat apapun dan merasakan apapun.

.

Author pov

"Vernon?" Dokter Kim keluar dari ruang operasi, dan orang yang dicarinya pertama adalah Vernon. Dia memberikan secarik kertas dari Jiah

"Apa ini dok?" Tanyanya sambil melihat surat yang masih di pegang oleh dokter Kim

"Kami sangat meminta maaf. Kami sudah melakukan yang terbaik. Dan kurasa Jiah benar benar ingin pergi, ini adalah surat dari Jiah yang dititipkan padaku untukmu, jauh hari sebelum operasi"

Vernon mengambil surat tersebut sambil menangis. Vernon bukanlah cengeng, namun dia memang tidak bisa menahan semuanya. Tidak bisa menahan kesedihannya. Dia sangat mencintai Jiah.

Vernon terduduk lemas lalu mulai membaca surat itu

Vernon, aku lelah. Maafkan aku, tapi aku sangat lelah, karna itu aku ingin segera pergi. Jangan menangis karnaku.

Kau juga harus pergi melanjutkan hidupmu. Banyak di luar sana wanita yang lebih baik, lebih sempurna dan tidak sakit sakitan sepertiku. Kejarlah mimpimu.

Aku disini sudah bahagia sekarang. Sangat bahagia, dan akan menjadi lebih bahagia lagi jika aku melihatmu bahagia. Jadi aku mohon jangan bersedih dan berbahagialah.

Yoo Jiah

Tangis Vernon makin menjadi. Dia berpikir, di suratnya Jiah tidak menuliskan bahwa Jiah mencintai Vernon. Jiah tidak mengatakannya, walau satu kata tentang cinta. Pikiran Vernon kemana mana

"Apa kau membenciku? Hingga kau pergi dariku? Aku tidak ingin menangis, tapi kau yang membuatku menangis. Kenapa kau pergi meninggalkanku? Kau bahkan tidak menuliskan rasa cintamu padaku. Kau hanya menyuruhku bahagia. Bagaimana aku bisa bahagia tanpamu????"

Dokter Kim yang masih ada di tempat hanya bisa melihat Vernon yang frustasi.

END
Cieeeeeee end hahahahaha, end yang sangat tanggung 😂 maaf yaaa harap maklum 😂😂

Al1Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang