Rindu tidak pernah benar-benar pergi

182 9 9
                                        

Semalaman tadi aku ditemani rindu yang semakin terasa sakit. Dan aku masih terjaga hingga subuh singgah, kutemukan ringkih sisa kesakitan sedang merebahkan diri di sebelahku. Barangkali ia lelah terisak, terlebih lagi saat menunggu kau yang tak kunjung kembali untuk sekadar mengingat janjimu sendiri.

Apa kau masih ingat? Suatu Malam pernah berjalan sangat lambat ketika kita sedang bertengkar. Kata maaf bersembunyi di balik amarah kita, Suara membisu dari obrolan kita, dan peluk melumpuhkan diri dari cumbu-cumbu kita, tapi rindu tidak pernah berhenti tumbuh.

Itulah kenapa aku benci saat kita bertengkar, karena akan ada banyak rindu yang tidak bisa kubagi denganmu. Bukan hanya karena kau memberiku jarak seluas jagat, juga tersebab kita sedang diperbudak ego kita sendiri, seolah mengharamkan diri untuk berjalan datang,- mengatakan sebuah maaf.

Hal itu pernah terjadi satu musim lamanya, dan sekarang harus kulewati musim yang sama dengan waktu yang lebih panjang lagi,- musim kehilanganmu.

Telah banyak pertanyaan yang selama ini telah kuajukan pada diri sendiri, “apakah ini baik?” Tentang menunggumu tanpa kepastian, sementara ada yang bersedia menjadikan aku satu-satunya wanitanya.

Menakutkan sekali membayangkan bagaimana ubanmu tumbuh tanpa aku. Lalu aku hanya bisa mengunjungi rumahmu dengan alibi silaturahmi, padahal (mungkin saja) rinduku tidak pernah benar-benar mati saat kau putuskan untuk tidak pernah kembali,- menjadi sepasang kekasih sekali lagi.

Bekasi, 22 Juni

***

Ditulis sambil narik ingus dan batuk-batuk
Semoga yang baca tidak ketularan 😂

PluviophileTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang