Kita pernah saling merangkul begitu erat.
Dengan jarak terdekat tanpa satupun sekat.
memahami persoalan apapun yang menjerat.
saling menopang apapun yang dipikul terasa berat.
Bukankah dulu kita memang begitu dekat.
Masih aku ingat memang tidak ada satu haripun tanpamu yang terlewat.
Wara-wiri kesana-kemari dengan jemari saling berpegang erat.
Sampai mereka berfikir bahwa kita bukanlah sebatas sahabat.
Lalu apa?
Harusnya kita tulikan saja kedua telinga kita pada ocehan mereka.
Membiarkannya terlupakan di tengah pendengaran seperti yang pernah aku katakan.
Kenapa kita malah bertingkah seolah keadaannya memanglah seperti itu.
Membuat mereka bersorak hore pada kehancuran kita?
Aku mencoba menarikmu lagi kedalam zona kita yang sebenarnya.
Tapi sia-sia, engkau malah semakin asing dalam rasa.
Apakah yang membuatmu mudah berubah?
Mungkinkah aku yang salah, atau ini hanya ketakutanmu saja.
Yang tidak sanggup menghadapi pandangan mereka perihal kita berbeda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pluviophile
PoetryBukan sajak, apalagi puisi. Ini hanya hasil dari pemikiran seorang perempuan bodoh.
