Doaku sudah kau aminkan

161 10 17
                                        

Jauh sebelum hari ini, aku telah menduga-duga tentang apa yang terjadi selanjutnya ketika satu di antara kita memutuskan untuk berhenti bersama.

Ternyata kita hanyalah sepasang sayap patah yang mencoba terbang ke dua kutub yang berbeda.

Aku yang bersedia tinggal dalam samar perasaanmu, tidak bisa untuk kembali mendekatkan tubuh kepadamu.

Banyak yang diam-diam telah kau aminkan; doa-doa yang tidak pernah aku ucapkan.
Mungkin tentang perpisahan,
Kebahagiaan, atau
pelarian yang tidak mempertemukan kita untuk ke dua kalinya.

Aku menyesal, atas persimpangan jalan yang kupilih saat sedang tidak siap untuk memutuskan. Jalan yang semakin mematahkan harapan-harapanku.

Pergi darimu adalah tindakan logika, perpisahan terkonyol yang kulihat dari sudut pandang orang yang memiliki cinta sebelah pihak.

Masih ingatkah hari-hari sebelum subuhku selalu dipenuhi oleh gerimis, kau yang wajahnya lebih dingin dari gigil malam selalu menarik lengan untuk memelukku lebih hangat dari sentuhan fajar.

Juga saat kita memutuskan untuk saling mengistirahatkan diri dengan jarak yang lebih dekat dari satu mili, wajahmu selalu menjadi satu-satunya yang ingin kulihat lagi dalam dunia yang kuhuni saat sedang terlelap.

Tapi lagi, kita hanya dua manusia yang gengsi untuk meminta kembali. Padahal mungkin hatimu juga merasakan sepi, ketika banyak rintih-rintih yang kukedapkan saat tersendu di tiap malam sebelum subuh datang.

Jika boleh, peluklah rinduku sekali lagi dengan dekapanmu yang lebih hangat. Ia akan pulang bersama dengan harum dadamu yang selalu gagal kuingat bagaimana cara melupakannya.

Bekasi, 4 Juni
a.b

^^


Pray for myphone 😭

PluviophileCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang