Langkah kaki masuk ke sebuah kamar yang dihuni tubuh tak berdaya yang kini hampir seluruh bagian dadanya dililit perban. Operasi yang dilakukan berjalan lancar, dan satu nyawa terselamatkan. Uchiha Sasuke terbaring lemas dengan selang infus dan alat pernapasan yang terpasang padanya. Masih dirumah kediaman mendiang keluarga Uzumaki. Sasuke tidaklah dirawat dirumah sakit. Hanya disebuah dikamar dengan pemanas dan jendela yang tertutup rapat karena memang hari sudah malam.
Sakura menaruh nampan berisikan air minum dan beberapa obat pereda sakit juga obat untuk mempercepat proses pemulihan luka. Tubuhnya siap berdiri dari posisi duduknya meninggalkan kamar itu, hingga sebuah suara lengkuhan menghentikannya.
"Eekhhm" Geram Sasuke. Merasakan seluruh tubuhnya sakit. "Akkh!!" Tangan kirinya reflek ingin menyentuk dada sebelah kanannya yang diperban, disanalah sebuah peluru sempat bersarang dan hampir saja menghilangkan nyawanya.
Sakura mendekat sedikit panik.
"Jangan disentuh, lukamu masih baru" ucap Sakura dan menyingkirkan tangan Sasuke yang hampir saja menyentuh lukanya yang masih basah.
Onyx itu terbuka terlihat masih sama sekelam malam memancarkan cahayanya yang sempat terpejam saat mendengar suara yang dikenal masuk pendengarannya. Sekali lagi matanya mengerjab untuk memperjelas penglihatannya. Sakura menahan tangan Sasuke yang ingin menyentuh lengan kirinya. Sasuke menatap kearah Sakura, namun sayang Sakura tak membalas tatapan tersebut.
Sakura mengambil obat yang ia letakan tadi dan menyerahkannya pada Sasuke. "Minumlah, ini akan meredakan rasa sakitnya." Ucap Sakura. Sasuke mengambil obat yang ada ditangan Sakura dan meminumnya dengan perlajam. Sakura membantu menyanggah punggung Sasuke dengan bantal untu meminum obat dalam keadaan setengah berbaring.
Setelahnya tidak ada percakapan yang berarti, walaupun itu sekedar berbasa-basi. Sakura juga segera beranjak pergi sampai sebuah tangan menahan pergelangan tangannya lemah.
"Kau masih menghindariku?" Tanya Sasuke, suaranya terdengar parau khas orang baru bangun tidur.
Sakura diam, matanya memandangi nampan yang ia bawa. Tanpa sadar tangan itu menggenggam nampan hingga seluruh kuku-kuku nya ikut memutih. Entah apa yang ada didalam hati dan pikirannya saat ini.
Sakura menghela napas.
"Kau se..."
"Kali ini tetaplah disini" Ucap Sasuke tatapannya melembut. Sakura tak dapat mengalihkan tatapan mata hitam yang ada didepannya saat ini.
Sakura menyentuh tangan Sasuke yang ada di pergelangan tangan. Balas menatap mata Sasuke. "Maafkan aku. Aku-u hanya masih belum terbiasa dengan keadaan saat ini. Tapi, suatu saat akan kukatakan yang sebenarnya." Ucap Sakura penuh keyakinan. "Aku janji."
Tatapan Sasuke kali ini sulit dibaca, entah apa yang ada didalam pikirannya.
"Aku sudah berjanji padamu dan aku gagal." Sasuke berkata datar.
Sakura mengigit bibirnya, ia bingung harus mengatakannya atau tidak.
"Karin." Mulutnya keluar begitu saja menyebutkan sebuah nama. Alis hitam Sasuke saling bertaut. "Dia-a.. dia menyukaimu dan aku-u.. aku akan pergi darimu setelah semua ini berakhir." Jelas Sakura. Hati Sakura lega seperti sehabis teriak disebuah jurang yang dalam untuk mencurahkan seluruh keresahannya.
"Bodoh!" Ucap Sasuke dengan nada mencibir.
"Apa kau bilang?" Ucap Sakura dengan nada yang sedikit meninggi.
"Kau ini kenapa bodoh atau polos? Sampai percaya dan menyerah hanya dengan kata-kata pembohong sep---akkh." Ucap Sasuke parau, tangan kirinya memegang dada sebelah kananya yang nyeri. "Sial!."
"Kau ini bisa diam tidak!" Jeda Sakura kesal lagi-lagi Sasuke ingin menyentuh lukanya yang belum sembuh benar
"Karena aku sekarang aku si gadis bodoh. Mulai sekarang juga obati lukamu sendiri!" Kini Sakura mengoceh. Siap berdiri meninggalkan Sasuke sampai tangan Sasuke menahannya kembali agak lebih keras.
KAMU SEDANG MEMBACA
Script Or Destiny
Fanfiction[1] Akankah cinta itu ada diantara mereka yang tidak mengenal satu sama lain. Dipertemukan saat keadaan yang mereka tidak bisa tebak. Atau hanya sebuah rencana yang dibuat anak manusia ini. -Haruno Sakura -Uchiha Sasuke Note : judul per chapter itu...
