"ini salah gue... harusnya gue nggak minta chanyeol pilih ramen nomor dua..." gumam wendy sambil mondar-mandir meluk jaket denim chanyeol di ruang ugd -nggak jauh dari ranjang chanyeol berada. sementara chanyeol masih nggak sadarkan diri karena pengaruh obat yang diberi oleh dokter setengah jam yang lalu.
setelah chanyeol tumbang nggak sadarkan diri, wendy dan yoongi segera membawa chanyeol ke rumah sakit. beruntung chanyeol dengan cepat menerima penanganan dokter. kata dokter, cowok itu memiliki anafilaksis -reaksi alergi yang sangat parah- jadi harus segera ditangani. apabila sampai terlambat, bisa beresiko kematian.
chanyeol untuk sementara belum dipindah ke kamar inap karena ibu chanyeol yang belum juga tiba. karena wendy nggak tahu password hape chanyeol, wendy jadi nelpon baekhyun untuk minta tolong dihubungi nomor rumah chanyeol dan kasih tahu kondisi chanyeol.
yoongi menghampiri wendy yang sudah hampir setengah jam nyalahin dirinya sendiri. berkali-kali menenangkan wendy, tapi cewek itu tetap nyalahin dirinya.
"seungwan, ini semua bukan salah kamu! kamu nggak tahu kalau chanyeol punya alergi sama ikan makarel-"
"harusnya aku nanya, gi!" potong wendy dengan suara serak. sepasang matanya memerah karena menangis sejak chanyeol dalam perjalanan ke rumah sakit.
"kalau tadi kita nggak bawa chanyeol lebih cepet, dia bisa meninggal! dan aku nggak bisa..." wendy menunduk, menahan agar isak tangisnya nggak terdengar lebih keras dan mengganggu pasien lain.
yoongi menghembuskan napas kasar. rasanya sakit ngeliat cewek yang ia sayang menangis dan menyalahkan diri sendiri karena sesuatu yang bukan salahnya. terlebih itu dilakukan karena cowok lain yang cewek itu sayang.
karena nggak mau membiarkan wendy terpuruk dalam rasa bersalahnya lebih lama, yoongi menangkupkan wajah wendy. membuat wajah cewek itu terangkat. kemudian ditatapnya sepasang mata hazel yang kembali berair di hadapannya. "son seungwan, tolong berhenti. dengerin aku. kamu denger sendiri kan tadi, kalau chanyeol udah berhasil ditangani dokter dan sebentar lagi bakal siuman? dia bakal baik-baik aja, wan. aku nggak suka liat kamu kayak gini," jari-jari yoongi dengan hati-hati menghapus buliran air mata yang perlahan tumpah di pipi wendy.
yoongi menoleh sebentar ke belakang - dimana chanyeol masih belum sadar. "dan chanyeol juga pasti nggak akan suka kalau kamu nyalahin diri kamu." lanjutnya, namun kali ini terpaksa.
akhirnya wendy luluh dan menghentikan tangisnya. ucapan yoongi berhasil buat wendy merasa lebih baik. tapi akan lebih baik lagi kalau chanyeol sadar.
yoongi lalu membawa wendy ke kafetaria rumah sakit dengan dalih supaya pikiran wendy bisa jadi lebih baik. cowok itu menghampiri wendy dengan membawa hot espresso untuk cewek itu. "diminum wan, mungkin kamu bisa lebih baikan."
wendy mengangguk patuh, menyesap hot espresso yang terasa pahit - tapi merupakan minuman kesukaannya - secara perlahan.
"aku jadi kepikiran, kalau aku ada di posisi chanyeol, apa kamu juga bakal se-histeris itu?"
wendy sontak menoleh ke arah yoongi yang sedang memandang hampa ke arah jendela. karena nggak ada jawaban dari wendy, yoongi kemudian mengalihkan tatapannya membuat pandangan mereka bertemu. "aku sempat optimis loh, kalau aku masih bisa punya kesempatan sedikit lagi. tapi setelah liat kamu yang khawatir banget sama chanyeol--bahkan setelah cowok itu udah ditangani dokter, kamu masih terus nyalahin diri kamu. ternyata ini soal siapa yang selalu ada ya, wan. bukan siapa yang pertama datang."
bibir yoongi terangkat membentuk seulas senyuman miris.
"yoongi..."
"seungwan, malam ini aku balik ke new york. bosku cuma kasih waktu libur seminggu. kamu baik-baik di sini ya? ah, ngomong apa sih aku. kamu 'kan emang selalu baik walau tanpa aku."
KAMU SEDANG MEMBACA
reuni | wenyeol
Fanfiction[COMPLETED] ❝bentar, kok gue ngerasa kayak sedang ditembak lo sih?❞ warning; ▪au; ▪lowercase; ▪kpoplokal; ▪short chapters ©taemeans [170217 - 150817]
