12. He's Not Coming Back

681 92 0
                                        

"Even when you’d lost everything you thought there was to lose, somebody came along and gave you something for free." - Jenny Valentine.

Ketika aku melihat ke belakang, dan ketika aku mengingat lagi tentang sebuah awal pertemuan antara aku dan Lando, aku begitu ingin menyesalinya. Jika aku pikir kembali, bila saja aku dan Lando tak pernah bertemu maka aku tidak perlu merasakan kehilangan seperti ini. Jika saja aku dan Lando tak pernah berjumpa, aku tidak akan merasakan betapa sedihnya merindukan orang yang tak bisa lagi ku lihat raganya. Tapi pada kenyataanya aku sama sekali tidak memiliki rasa penyesalan itu. Karena bertemu dengan Lando adalah hal terbaik yang pernah terjadi di dalam hidupku hingga saat ini.
Bahkan saat aku kehilangan memoriku, ingatan tentang Lando lah yang menemaniku dan membantuku untuk menemukan kembali semua nya ingatan ku.

Aku masih berdiri terpaku dan tak bergerak sedikitpun. Seluruh badanku terasa kaku,sepertinya detak dengan kencang bak akan lepas dari tempatnya. Tawa Lando terdengar sekali lagi di sekitar ruangan ini. Ribuan skenario muncul di kepalaku. Apakah itu benar Lando? Apakah yang ku dengar adalah nyata? Apakah aku berilusi lagi?

Tak ingin berlama-lama mengetahui jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaanku, aku melangkahkan kakiku satu persatu menuju di mana asal suara yang ku rindukan itu. Tiap langkah terasa begitu berat dan jantungku tak berhenti berdebar. Saat ku langkahkan kaki memasuki ruang TV detak jantungku seakan berhenti. Kurang dari lima meter dari tempatku berdiri, Lando tertawa kemudian melanjutkan kalimatnya.

"Iyi. Aku memanggil cewek ini Iyi." Mataku tak berkedip menatap wajahnya yang begitu jelas, namun air mata ku sudah tak terbendung lagi.

"Kedengerannya emang norak. Tapi aku suka." Katanya sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali lalu tersenyum mungkin karena malu.

"Nama dia sebenernya adalah Prilly. Prilly Wintery. Cantik ya?" Katanya lagi lalu tertawa kecil. Air mata yang mengucur tak dapat ku hitung lagi. 

"Prilly itu.." Lando menggantung kalimatnya seraya memikirkan apa yang di ingatnya tentang aku.

"Cewek simpel. Menyenangkan." Dan Lando tersenyum mungkin dia sambil mengingat sebuah kejadian lucu yang berkesan untuknya.

"Selalu berusaha untuk bikin orang lain bahagia. Walaupun itu artinya ngorbanin perasaannya." Lanjut Lando yang membuat aku mengambil satu langkah lebih dekat.

"Itu adalah kelebihan sekaligus kekurangan Iyi." Jelas Lando sambil menganggukkan kepalanya.

"Tapi itu juga.. Yang bikin aku jatuh cinta sama dia.." Kata Lando yang membuat tangisku semakin pecah. Kakiku terasa lemas yang membuat aku terduduk terisak di lantai. Aku tak lagi mendengar apa yang di katakan Lando di video itu karena hatiku patah dengan kata-kata yang terakhir ku dengar. Karena kata-kata itu adalah kata-kata yang tak pernah ku balas. 

Lando tidak kembali. Lando tidak akan pernah kembali. Yang ku saksikan hanyalah sebuah video yang di tayangkan lewat TV besar milik Mara itu sama sekali tak pernah aku bayangkan akan ku lihat. Saat tangisku sudah reda, aku baru menyadari Mara sejak tadi duduk berdiam diri di sofa yang menghadap ke arah TV di mana Lando tadi terlihat.

Mara terlihat sama emosionalnya denganku tapi sepertinya Mara menahannya lebih baik dari pada aku. Mara berdeham lalu berjalan ke arahku dan memegang kedua lenganku untuk membantuku berdiri lalu menggiringku untuk duduk di sofa.

Aku yang masih syok dengan apa yang baru saja aku lihat, hanya bisa terdiam sembari menyapu pipiku yang basah karena airmata. Mara menyodorkan sebuah sapu tangan berwarna biru gelap kepadaku yang ku ambil tanpa berpikir dua kali. Beberapa menit sudah berlalu tanpa kata walaupun pertanyaan yang ingin ku ajukan untuk Mara begitu jelas.

"Ini yang pengen gue tunjukin ke elo." Ucap Mara memecahkan keheningan di antara kami. Aku tau Mara mengarahkan pembicaraan soal video yang baru saja ku tonton.

"G.. gimana lo bisa dapetin video ini?" Tanyaku dengan suara yang terdengar serak karena habis menangis. Mara mengalihkan pandangannya dariku ke arah gambar Lando yang terlihat di pause di TV.

"Lo inget terakhir kali lo ketemu gue?" Tanya Mara padaku dan aku menganggukkan kepalaku sekali. Bagaimana aku bisa lupa hari itu? 

"Waktu itu gue marah-marah ke elo. Teriak-teriak ke elo. Gue lepas kontrol emosi gue." Kata Mara sambil menggelengkan kepalanya seolah malu dengan semua perbuatannya waktu itu.

"Setelah gue keluar dari rumah lo, gue ngerasa sangat bersalah. Tapi gue terlalu pengecut untuk balik dan minta maaf ke lo." Kata Mara lagi seolah jijik dengan dirinya yang dulu.

"Jadi gue pergi tanpa tujuan. Dan nggak tau kenapa, kaki gue ngebawa gue ke arah rumah Lando." Ucap Mara yang mendapatkan seratus persen perhatianku.

"Mungkin lo nggak tau, Pril. Tapi Lando sebelum dia meninggal, Lando nitipin lo sama gue." Untuk pertama kalinya Mara mendaratkan pandangannya ke arahku. 

"Gue tau, Mar. Lora cerita sama gue." Kataku yang di hadiahi anggukan kecil dari Mara.

"Lando bilang ke gue, 'tolong jagain Prilly, jangan biarin dia sedih terlalu lama'. Dan gue nyanggupin permintaannya walaupun gue tau bakal sulit ngelakuinnya." Jelas Mara.

"Tapi ternyata kesedihan lo lebih parah dari yang gue bayangin. Dan untuk itu gue ngerasa frustasi karena gue nggak bisa ngelakuin apa-apa buat lo. Buat ngeringanin kesedihan lo." Jelas Mara lagi. Aku menganggukkan kepalaku karena aku tau saat itu aku memang berada di titik terendahku dan tidak mudah untuk di bantu.

"Jadi ketika gue marah-marah kayak orang kesetanan sama lo, gue ngerasa gagal. Gue ngerasa gagal nepatin janji gue ke Lando. Dan mungkin itu alesan kenapa gue bisa ke rumah Lando pada saat itu." Tambah Mara dan aku menolehkan kepalaku ke arah Mara.

"Mar, kalo lo nggak marah ke gue waktu itu, mungkin gue masih ngelakuin hal yang sama kayak waktu itu. Nangis seharian dan nggak ngapa-ngapain." Kataku memastikan Mara tau bahwa kemarahannya waktu itu menyadarkan aku. Dan Mara pun tersenyum namun tak merespon ucapanku.

"Jadi gue masuk ke rumah Lando dan ketemu bokapnya. Karena bokapnya udah kenal gue, tanpa basa-basi gue di suruh masuk ke kamar Lando. Mungkin bokapnya tau gue kangen sama Lando." Kata Mara sambil melemparkan senyum lainnya ketika menyebutkan kata 'kangen' untuk sahabatnya itu.

"Mungkin gue di sana berjam-jam. Gue nggak tau pasti. Sampe akhirnya, gue nggak sengaja nemuin tumpukan kaset DVD di laci meja Lando. Awalnya gue kira itu kaset DVD biasa tapi setelah gue liat tiap kaset di kasih tanggal, gue tau kaset-kaset itu kayak buku harian buat Lando." Jelas Mara panjang lebar dan aku akhirnya mengerti bagaimana Lando bisa ku lihat lagi dengan mataku.

"Gue kira gue udah nggak bisa ngeliat Lando lagi setelah foto-foto itu ilang." Ucapku pelan namun sepertinya Mara mendengarkan ucapanku itu.

"Sorry." Ucap Mara pelan. Belum sempat aku merespon ucapan Mara, Mara beranjak dari duduknya dan pergi keluar dari ruangan. Lima menit kemudian Mara kembali dengan sebuah box kayu di tangannya lalu menyodorkannya ke arahku. Dengan ragu aku mengambil box itu lalu mengintip apakah isi dari box tersebut. Ternyata tumpukan kaset DVD tergeletak di dalam box itu dan aku tau ini adalah kaset-kaset yang di bicarakan Mara.

"Ini permintaan maaf gue buat foto-foto itu. Giliran lo yang nonton semuanya. Tapi inget, Pril. Satu hari satu kaset." Kata Mara dengan senyum dan mataku tak bisa membohongi bahwa aku begitu tersentuh dengan ucapan Mara.

"Janji sama gue?" Desak Mara sambil menawarkan jari kelingkingnya padaku. Aku memandangi jari Mara untuk beberapa saat lalu mengaitkan jari kelingkingku dengan milik Mara.

"Janji." Kataku menyetujui permintaan Mara. Karena aku tau maksud baik Mara yang tak ingin aku menghabiskan berjam-jam bahkan harian untuk menonton semua kasetnya tanpa istirahat. Mara memang begitu mengenalku.

"Oke. Sekarang gue mau ngajak lo makan. Karena gue nggak bisa masak. Kita delivery." Kata Mara dengan tawa lalu mengambil ponselnya dan memesan makanan yang aku tidak peduli apa.

Yang aku tau saat ini adalah aku bisa melihat Lando lagi. Aku bisa mendengar suara Lando lagi. Dan aku tidak sabar untuk menonton kaset pertama Lando saat aku sampai di rumah nanti.
Tunggu aku, Lando.

Memori LandoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang