14. His Love So Big That it Hurts

670 92 0
                                        

"Being deeply loved by someone gives you strength, while loving someone deeply gives you courage." - Lao Tzu

Aku mengatakannya. Kata-kata yang tak sempat sekalipun untuk ku ucapkan pada Lando. Kata-kata yang seharusnya aku katakan sejak dulu. Kata-kata yang seharusnya ku ucapkan juga saat Lando pertama kali mengatakannya padaku.

Dan di sinilah sekarang aku mengucapkan kalimat itu di hadapan Lando. Atau lebih tepatnya bayangan Lando yang sengaja ku buat. Berharap Lando dapat mendengarnya, walaupun untuk sekali saja.

Ilusi yang ku ciptakan tentang Lando begitu nyata sampai pada akhirnya mataku menatap matanya. Kedua mata ini menyadarkanku dari semua khayalku. Perlahan Lando menghilang dan sosok Mara kembali terlihat di pandanganku. Sedikit malu dengan apa yang baru saja ku katakan di hadapan Mara, membuatku ingin mengalihkan padanganku darinya. Keinginanku untuk memalingkan pandanganku dari Mara di hentikan oleh kedua matanya. Aku melihat sesuatu di mata Mara yang tak dapat ku jelaskan dengan kata-kata dan ini membuatku sulit untuk melepaskan mataku darinya seperti telah di ikat oleh mantra.

Entah sudah beberapa lama aku dan Mara bertatap tanpa kata seperti itu. Lalu Mara mematahkan mantranya dengan berdeham dan mengalihkan pandangannya dariku yang membuatku berpaling dan berusaha mengalihkan pandanganku pada apa saja yang ada di sekitarku pada saat itu.

Atmosfer yang terjadi setelah kontes saling tatap itu terasa sangat canggung. Bahkan ketika dalam perjalanan pulang kami lebih banyak habiskan dalam diam. Aku dan Mara hanya sedikit berbicara dan tak seperti biasanya aku tidak bisa memulai pembicaraan dengan mudah. Aku tak tau apa yang harus aku bicarakan dengan Mara. Ini aneh karena dulu, aku dan Mara bisa membicarakan apapun untuk berjam-jam tanpa rasa canggung seperti ini.

Setelah beberapa menit, aku dan Mara sampai di depan rumahku. Tak ingin memperjelas ke canggunganku dan Mara, aku mengajak Mara untuk masuk ke dalam rumah yang di iyakan oleh Mara dengan alasan ia ingin bertemu dengan Ibu. Aku tidak keberatan karena Ibu pasti juga akan senang jika tau Mara sudah kembali. Ketika aku sampai di depan pintu, tanpa peringatan pintunya terbuka secara tiba-tiba dan membuatku kaget setengah mati.

"Prilly lo kemana aja sih? Gue tung-" Lora yang berencana menyerangku dengan pertanyaan kini tak melanjutkan kalimatnya. Aku yang berusaha untuk menenangkan hatiku yang berdebar karena terkejut pada akhirnya tau kenapa Lora terdiam.

"Hey Lor." Kata tersangka yang membuat Lora kehabisan kata. Lora hanya diam dan menatap Mara tanpa berkedip, kemudian matanya terlihat agak basah sebelum akhirnya Lora menyerang Mara dengan pelukan.

"Lo kemana aja sih Mar! Tiba-tiba ngilang nggak ada kabar! Gue ama Prilly udah nyariin lo kemana-mana! Gue kangen tau!" Cerocos Lora yang membuat aku dan Mara tertawa pelan.

"Iya iya sorry, Lor. Sekarang gue balik." Ku dengar Mara menjawab cerocosan Lora.

"Bagus. Awas aja kalo lo pergi lagi. Gue pecat jadi sahabat gue." Kata Lora yang masih memeluk Mara. Lalu terdengar suara berdeham terdengar dari pintu dan aku melihat Ano sedang melipat kedua tangannya di depan dadanya sembari mengetukkan kakinya di lantai.

"Siapa nih yang meluk-meluk calon istri gue?" Tanya Ano yang membuat aku gugup sambil bergantian memandang Ano, Mara dan Lora secara bergantian. Setauku Ano belum pernah bertemu dengan Mara dan tidak lucu jika Mara menjadi orang yang membuat dua sejoli yang akan segera menikah ini bertengkar. Tak ada yang menjawab pertanyaan Ano untuk beberapa menit sebelum dan pada akhirnya Ano tersenyum lebar menandakan bahwa dia hanya bercanda.

"Welcome home bro. Lora cerita banyak soal lo." Kata Ano yang membuat aku bernafas lega lalu Ano memberikan Mara pelukan kilat yang sering di lakukan oleh kaum lelaki.

Dan reuni singkat namun hangat itu berlanjut. Aku berharap mereka ada di dalam hidupku untuk waktu yang lama.

***

Dua puluh empat jam telah berlalu sejak aku menonton video yang di tinggalkan Lando. Dan di sinilah aku duduk lagi di depan TV sambil menunggu video Lando yang ku pilih secara acak di mulai. Aku tak bisa menahan rasa ingin tahuku tentang apa yang akan di katakan Lando di videonya.

Lando mulai terlihat di layar TV. Tak berbeda dengan hari yang lalu, Lando memakai baju yang terlihat santai dan nyaman. Rambutnya terlihat sedikit berantakan tapi entah kenapa membuatnya terlihat bagus dan cocok untuk Lando. Hidungnya terlihat merah dan batuk sesekali terdengar keluar dari mulutnya. Sepertinya aku tau kapan video ini di rekam oleh Lando.

"Hai. Lando lagi." Ucap Lando memulai videonya dengan singkat.

"Seperti yang keliatan, aku lagi flu." Kata Lando yang di susul beberapa batuk luput dari bibirnya.

"Ini akibatnya kalo lagi hujan, nggak bawa payung dan sok romantis pake ngajakin cewek dance di bawah guyuran hujan." Kata Lando dengan tawa sembari menggelengkan kepalanya. Aku tak bisa menahan diri dan membiarkan tawa kecil keluar dari bibirku.

"Cukup sekali kayak gini. Yang penting aku udah pernah ngelakuin hal kayak gini paling nggak sekali buat kamu. Ya kan, Iyi?" Tanya Lando pada kamera yang merekamnya dan membuat hatiku terasa hangat di buatnya.

"Aku juga lega Iyi nggak sakit kayak aku." Tambahnya membuat aku tersenyum.

"Iyi bahkan bawain aku ini. Bubur ayam." Katanya menunjukkan sebuah kotak yang berisi bubur ayam yang di buat oleh Ibu. Lando meletakkan kembali kotak makanannya lalu menarik nafas panjang dengan ekspresi lebih serius dari sebelumnya.

"Waktu aku bilang bahwa aku demam dan terkena flu, Iyi kedengerannya sangat khawatir. Bahkan mungkin sampe nangis. Walaupun dia nggak nunjukin ke aku." Kata Lando yang membuat aku kini benar-benar percaya bahwa Lando sangat mengenalku dan bisa membacaku dengan mudah.

"Dan pagi-pagi banget Iyi nganterin bubur ini kayak seolah-olah kalo aku nggak makan bubur ini, aku bakal kenapa-kenapa." Tambah Lando dengan tawa kecil.

"Yang aku mau tunjukin adalah, nggak tiap hari kita nemuin seseorang yang se-khawatir, se-peduli, dan.. sesayang itu sama kita." Ucap Lando yang membuat hatiku bagai di tarik dan airmata mulai membasahi pinggir-pinggir mataku. Lando tau bahwa aku menyayanginya.

"Ngeliat Iyi hari ini, bikin aku mikirin banyak hal." Kata Lando lagi sambil menyapukan tangannya ke rambutnya yang acak-acakan tanpa sadar.

"Iyi ngebuat aku pengen ngelindungin dia. Mastiin kalo Iyi bahagia. Mastiin kalo Iyi nggak sakit sedikitpun. Mastiin kalo Iyi nggak nangis." Kata Lando yang membuat dua tetes air mata jatuh ke pipiku.

"Bukan cuma untuk hari ini. Tapi untuk jangka waktu yang lama. Aku ngerasa udah nemuin satu orang yang tepat." Ucap Lando dengan senyum kecil dan tangisku tak terelakkan lagi.

"Tapi aku terlalu cepat mikir kayak gini kan?" Tanya Lando dengan tawa kecil yang mengakhiri videonya dan kini meninggalkan aku dan airmataku sendiri.
Kenapa aku baru bisa merasakan rasa sayang Lando sekarang? Apakah rasa sayang Lando terlalu besar hingga aku tak bisa melihatnya?

"Prill?" Sebuah suara mengejutkanku dan dengan spontan aku menghapus airmata yang ada di pipiku. Mara berdiri tak jauh di belakangku entah sejak kapan. Mungkinkah Mara melihat semuanya?

"Sorry gue tadi udah coba ngetok. Tapi pintunya ke buka jadi gue masuk aja." Jelas Mara yang ku jawab dengan anggukan. Aku beranjak dari dudukku dan berjalan menuju pemutar DVD untuk mengambil kaset yang baru saja ku tonton.

"Ada apaan Mar?" Tanyaku yang terkejut ketika aku mendengar suaraku sendiri yang terdengar serak dan jelas seperti menghabiskan waktu yang lama untuk menangis. Aku berdiri membelakangi Mara, tak ingin Mara melihatku yang seperti ini. Aku berkutik dengan kaset yang sejak tadi tak berhasil ku masukkan ke dalam tempatnya. Lalu aku mendengar langkah Mara mendekat dengan hati-hati. Aku merasa tubuhku di tarik dan jatuh pada pelukan Mara. Mara tak mengatakan satu patah katapun dan hanya mendekapku. Dan aku, untuk kali ini saja membiarkan Mara menenangkanku dan lelahku dari semua rasa sakit karena kehilangan dia.

Memori LandoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang